Selasa, 07 April 2015

Putus Cinta Berjuta Rasanya

Kalau ada lagu ‘Jatuh Cinta Berjuta Rasanya’, maka sudah seharusnya ada musisi yang buat judul lagu ‘Putus Cinta Berjuta Rasanya’. Siapa sih enggak pernah putus cinta? Hayo ngaku yang sampai umur 25 tahun masih jomblo? Saya jamin 1000% pasti enggak ada. Kalaupun ada pasti enggak bakalan ngaku karena malu hehe. Yap, saya yakin semua orang yang hidup dalam kehidupan normal dalam artian bukan hidup selibat atau menempuh kesucian, pasti merasakan yang namanya jatuh cinta, pacaran, berantem, lalu putus dan patah hati. Kayaknya itu adalah hal yang lumrah bagi kehidupan manusia. Semua orang pasti pernah melewati fase-fase indah nan romantis serasa dunia milik berdua lalu pas putus baru sadar ternyata hidup berdua aja di planet sebesar Bumi enggak enak rasanya. Lalu butuh teman curhat, sahabat, orang tua, untuk menumpahkan keluh kesah.

Putus memang enggak enak. Itu jadi tagline di sebuah iklan komersial sambel asli Indonesia. Menurut saya itu benar banget. Bukan sambelnya yang bikin move-on sehabis putus tetapi rasa enggak enak pasca putus itu yang bikin gregetan. Entah kenapa putus cinta itu kayak memendam bergalon-galon kesedihan. Rasanya dunia hancur berantakan, masa depan porak-poranda, bahkan sampai ngerasain takut memulai lagi sebuah hubungan atau mungkin bersumpah serapah bakalan setia sampai mati untuk mencintai si mantan yang sudah jelas ninggalin kita. Weittss, siapa yang begitu? Cek diri masing-masing hehe.

Waktu pacaran, kayaknya semua hal yang ada di dalam diri pasangan itu indah-indah dan bagus-bagus aja. Tetapi, ketika putus terutama kalau alasannya mantan yang ninggalin kita, kok langsung 360 derajat semuanya berubah. Nah, lho. Yang salah mata kita waktu pacaran atau rasa sakit hati tak terkira yang membuat mantan jadi serba jelek dan menyebalkan? Coba deh direnungin.

Banyak orang yang akan bilang ‘nyesel gue pacaran sama dia kalau tahu dia brengsek, ogah deh jadian!’ Itu sering banget saya dengar dari orang-orang yang putusnya enggak baik-baik. Kalau memang dari awal tahu mantannya brengsek, saya yakin banget tuh mantan pasti enggak bakalan diterima, kan? Jadi untuk apa menyesali yang sudah terjadi? Menyesal pernah jadian sama seseorang bukanlah solusi untuk membuat hidup kamu jadi lebih baik. Menyesal malah membuat kamu makin merasa bersalah sama diri kamu. Lebih baik, maafkan. Maafkan diri kamu yang sudah memilih orang yang salah. Maafkan diri kamu yang sudah mencintai orang yang salah. Kedengarannya klise dan terlalu sok banget. Cuma coba deh direnungin. Ketika kamu sudah memaafkan kesalahan kamu karena hubungan yang tidak baik dan sehat, dengan sendirinya kamu akan membuka pintu hati kamu untuk memaafkan mantan kamu. Lalu setelah itu apa yang terjadi? Jreeengg! Rasa sakit hati yang tadinya menggerogoti kamu bakalan langsung lenyap seketika. Ini yang namanya kekuatan ajaib dari melepas.

Melepas atau Let It Go sering banget disebut-sebut dalam berbagai petuah-petuah dan nasehat bijak. Kelihatannya sepele tapi kalau dipraktekkan bisa membuat hidup lebih bermakna. Tapi, jangan coba-coba melakukan metode Melepas dengan cara penuh keinginan. Maksudnya, jangan pernah mendoktrin diri sendiri untuk terus-menerus berpikir ‘ayooo, saya harus melepas’ ‘ayooo, saya harus bisa lupain mantan’ ‘saya yakin bisa lupain mantan’ dan sederet kalimat lain yang berhubungan dengan keinginan teramat sangat untuk cepat-cepat move-on. Saya jamin yang ada memori sama mantan malah makin kuat dan berakhir pada kegalauan tingkat maksimum dengan tidur-tiduran di kamar sambil dengar lagu-lagu sedih. Melepas hanya bisa terealisasi ketika memang diri kita siap. Karena pada dasarnya setiap manusia itu senang sekali mencengkram apapun yang disukainya. Termasuk kenangan indah akan mantan pacar yang selalu tersimpan dalam alam pikiran kita. Satu-satunya jalan melepas yang sebenarnya adalah ketika sudah benar-benar memaafkan diri sendiri.

Lalu bagaimana meninggalkan segala kenangan indah tentang mantan? Apakah salah kalau masih mengingat mantan? Jawabannya tidak. Itu sama sekali enggak salah. Mantan, sebrengsek apapun juga, pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Lalu kenapa harus dilupakan? Justru dengan mengingat-ingat mantan secara terus menerus malah akan membuat kita semakin merenung dan menyadari alasan kita putus. Mungkin kesalahan itu dimulai dari diri kita sendiri yang membuat pacar jadi enggak sayang dan memutuskan jadi mantan. Mungkin memang dari awal sebenarnya mantan enggak cinta-cinta amat sama kita, tetapi karena terlalu cinta kita malah jadi dibutakan oleh diri sendiri. Ada banyak sekali manfaat yang didapat dari mengingat-ingat kenangan manis dengan mantan. Walaupun berakhir dengan putus dan mungkin jadi musuh, setidaknya kita pernah memberikan usaha terbaik kita untuk mencintai seseorang. Cieee lebay deh bahasanya. Tapi, bener deh. Enggak ada hal yang paling indah di dunia ini selain bisa mencintai dan memberi tanpa mengharap imbalan. Enggak percaya? Dicoba aja. Saya jamin ketika kamu sudah bisa tidak pamrih terhadap pemberian apapun yang kamu berikan, rasanya tuh membebaskan, plong, lega. Termasuk ketika menyadari kalau kamu pernah memberikan hati kamu, perhatian kamu, waktu kamu, pikiran kamu, untuk orang yang kamu sayang yaitu mantan kamu.

Dan bagaimana kalau akhirnya musuhan sama mantan? Itu bukan urusan kamu lagi. Kalau mantan musuhin kamu, jangan pernah ikut-ikutan musuhin mantan balik. Sikap permusuhan dan kebencian hanya akan membuat hati kamu tidak bahagia. Relakan saja kalau maunya dia musuhan. Sambil terus didoakan semoga hatinya bisa bebas dari permusuhan. Walau bagaimanapun, hidup kamu lebih penting dari hidup mantan kamu. Jadi mendingan urusin hidup kamu aja dulu. Hindari yang namanya stalking semua akun sosial media mantan. Bukan berarti harus kamu blokir. Seenggaknya kamu harus tahan untuk mencari-cari tahu tentang mantan. Jangan pernah hubungin mantan dan mencoba ajak silahturahmi. Biarkan waktu yang bekerja. Kalau memang kalian jodoh pasti akan dipertemukan kembali dalam satu kesempatan. Kalau memang enggak ketemu lagi, yasudah, yakinlah pasti itu jalan yang terbaik buat kamu.

Putus cinta memang membuat patah hati sepatah-patahnya. Kadang bikin jadi insomnia, jantung enggak karuan, keringat dingin, enggak doyan makan, enggak semangat hidup, dan berbagai keadaan psikologis lainnya. Kalau kamu mengalami itu, jangan pernah mencoba untuk lari dari kenyataan. Kalau kenyataannya kamu lagi galau ya terima saja dengan lapang dada. Tentu tidak lupa sambil terus mengamati rasa enggak enak itu. Jangan ditambah dengan penyesalan baik menyesal pernah mengenal mantan atau menyesal kamu pernah melakukan kesalahan. Perlu diingat prosesnya: amati, terima, maafkan, lalu lepaskan. Melalui proses ini semoga kamu bisa berdamai dengan masa lalu. Sebab masa lalu sudah berlalu, tidak akan pernah bisa dihapus, dilupakan, atau dianggap tidak pernah ada. Masa lalu ada tetapi bukan lagi hidup yang harus kita jalani sekarang.


Selamat melepas, felas :)

Hal-Hal Yang Harus Dilakukan Sebelum Resign

Punya pekerjaan tetap, gaji besar, kerja di perusahaan bagus dan jenis pekerjaan yang kita minati, adalah sebuah berkah yang luar biasa. Jarang sekali ada orang yang bisa mendapatkan semua poin diatas. Kalau gajinya besar yah belum tentu jenis kerjaannya kita suka. Atau yang seringnya itu, kalau sudah pekerjaannya tetap, di perusahaan bagus, eh gajinya segitu-gitu aja. Ironis.

Bekerja adalah semacam kewajiban di dunia manusia dewasa. Secara materi, kesuksesan manusia dapat ditinjau dari apa pekerjaannya. Dari pekerjaannya juga kita bisa mengira-ngira berapa besar gajinya. Orang dewasa dan pekerjaan bagaikan dua muka koin yang terpisahkan. Saling melengkapi. Saling menunjang. Menjadi pedoman kehidupan bermasyarakat.

Namun, yang menjadi tanda tanya besar adalah, bagaimana kalau orang dewasa tidak punya pekerjaan alias pengangguran? Apakah kedewasaannya diragukan? Atau apakah ia juga diragukan jadi manusia? Hehehe. Jangan patah semangat dulu. Berikut beberapa tips dari saya untuk kamu yang memang berniat resign dari kerjaan.

1.    Berpikir Sebelum Memutuskan
Sebelum memutuskan menjadi seorang pengangguran, ada baiknya kamu membuat keputusan yang matang. Entah karena pekerjaan yang monoton, sedang jenuh bekerja, atau ingin mewujudkan keliling dunia, sebaiknya kamu pikirkan lebih matang sebelum mengajukan surat resign. Karena sekali surat sudah disetujui, enggak bakalan bisa ditarik lagi. Meski mungkin atasan enggak setuju dengan pengajuan resign kamu, tapi buat saya sih ini namanya harga diri. Ketegasan adalah hal yang penting. Jadi kalau memang sudah memutuskan resign yah harus tetap resign. Kalau memang masih ada ganjalan kayak ‘nanti gimana melanjutkan hidup setiap bulan?’ mendingan resign-nya kapan-kapan aja.

2.    Siap Mental Sebelum Diserbu Pertanyaan
Nah, akhirnya kamu berani resign! SELAMAT! Karena memang memutuskan untuk keluar dari sebuah pekerjaan bukanlah sesuatu yang mudah. Ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Misalnya pertanyaan banyak orang ‘kenapa kok nganggur?’ ‘kerja dimana sekarang?’ ‘memangnya sudah dapat pekerjaan yang baru, yah?’ dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sifatnya terlalu kepo. Jangan kesel. Hal itu wajar saja karena idealnya adalah orang dewasa itu bekerja. Terlebih lagi kalau semua orang terbiasa melihat kamu adalah pekerja keras. Keputusan resign mendadak bakalan jadi tanda tanya besar buat mereka. Tenang. Solusinya sederhana. Kamu cukup tersenyum dan jelaskan yang sebenarnya. Jangan pernah terlihat putus asa ketika menceritakan alasannya. Tampil tegar dan percaya diri adalah kunci untuk membuat orang-orang kepo itu keok. Karena beda antara orang kepo dan peduli adalah orang kepo hanya sekedar ingin tahu untuk gosipin kamu. Beda dengan orang peduli yang justru malah berusaha nyari informasi kerjaan baru untuk kamu.

3.    Tabungan Untuk Melanjutkan Hidup
Kalau kamu lahir dari keluarga kaya dan orang tua kamu tetap kasih jatah bulanan meskipun kamu kerja, mungkin kamu enggak perlu pusingin masalah uang setelah kamu resign. Tapiiii, menurut saya sih yang namanya orang dewasa itu harusnya tetap bisa mandiri tanpa bantuan orang tua meskipun ia anaknya orang kaya. Jadi, mau anak orang kaya atau anak orang biasa aja, harusnya tetap bisa komitmen penuh sama yang namanya kemandirian. Terutama masalah finansial. Sebelum memutuskan berhenti bekerja, penting banget untuk punya tabungan yang cukup untuk kehidupan kamu selanjutnya. Hitung semua pengeluaran rutin setiap bulan dan pengeluaran mendadak kayak nonton konser, jalan-jalan, kulineran, dsb. Karena untuk selanjutnya kamu enggak punya pemasukan, setiap bulannya hanya akan mengeluarkan uang. Kalau memang tabungan kamu belum mumpuni, mending ditahan dulu aja deh resign-nya. Walau kamu udah bosen banget kerja, anggap aja kerjaan kamu dituker uang untuk bersenang-senang nantinya. Oke. SemangKa!

4.    Rencana Selanjutnya
Rencana selanjutnya adalah hal penting yang WAJIB kamu miliki setelah kamu benar-benar jadi pengangguran. Kalau kamu resign karena kamu bosen kerja, kamu harus punya rencana untuk pergi jalan-jalan ke suatu tempat yang kamu idamkan sejak lama. Kalau kamu resign karena penat sama kemacetan kota Jakarta, kamu lebih baik pilih liburan ke tempat yang sunyi atau mungkin cari kerjaan baru yang jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan. Kalau kamu resign karena bosen sama kerjaan monoton kamu, mungkin sebaiknya kamu ngelamar kerja di sebuah perusahaan yang beda bidang dengan pekerjaan lama kamu. Ada banyak alasan kenapa kamu resign tetapi tetaplah buat rencana yang matang untuk masa depanmu selanjutnya. Enggak selamanya kan kamu niat nganggur terus-terusan? Yah, walaupun masa depan memang enggak pasti. Siapa tahu aja kamu ketemu cowok tajir seganteng Chris Evan waktu liburan ke Maladewa lalu ngajak kamu nikah. Hehehe. Masa depan memang enggak pasti, tapi seenggaknya kamu sudah nyusun rencana.


Itu aja tips-tips dari saya. Semoga aja bermanfaat untuk kalian yang berniat keluar dari pekerjaan. Ingat. Resign atau bertahan di sebuah pekerjaan adalah pilihan hidup. Sekali sudah memutuskan, jangan pernah menyesalinya. Malah jadikan keputusan itu sebagai pilihan terbaik dalam kehidupan kita. Good luck, felas!