Selasa, 08 September 2015

Ketika Pikiran Melarikan Diri

Pada akhirnya semua orang butuh tempat melarikan diri.

Dunia ini, Bumi ini, tempat dimana milyaran manusia hidup dan berlindung, serta berbagai jenis makhluk hidup tinggal didalamnya, terasa sungguh menyesakkan. Bukan karena terlampau kecil untuk menjadi tempat hunian. Bukan pula karena tidak mau berbagi. Tetapi, segala hal yang dijejalkan dalam kehidupan terasa begitu memusingkan, memuakkan, bahkan terkadang rasanya ingin lari keluar dari Bumi. Namun, harus pergi kemana? Ke Bulan? Ke Mars? Ke Planet lain yang berusaha sedang ditemukan oleh para ilmuan jenius itu? Apakah pencarian mereka atas kehidupan lain di Bumi jauh lebih menarik ketimbang Bumi itu sendiri? Apakah Bumi memang menjadi tempat yang membosankan sehingga dibutuhkan kajian untuk tempat melarikan diri dari Bumi yang katanya semakin hari semakin menua saja?

Segala hal yang dijejalkan ke alam pikiran manusia itulah sebenarnya yang membuat ide melarikan diri terasa sangat mengasyikan. Ketika manusia dilatih dari segala hal mulai dari sekolah, pembicaraan sehari-hari, bahkan identitas 'kepintaran' disematkan bagi siapa saja yang terus menerus berpikir. Berpikir bahwa ada ini dan itu. Berpikir bahwa kehidupan disana lebih baik ketimbang disini. Berpikir bahwa tanpa berpikir kita (terutama manusia, karena memang manusialah yang merasa hanya ras mereka yang berpikir) tidak akan pernah ada. Seperti yang diungkapkan oleh Descrates lewat penggalan kalimatnya yang menawan, "Kita Berpikir Maka Kita Ada". Kalimat yang begitu mempesona sehingga membuat siapa saja berlomba-lomba menghasilkan buah pikir. Bahkan blog ini juga bernama Pikiranologi karena memang alam pikir yang mempesona itu belum pernah menjadi kajian sebuah ilmu pengetahuan sehingga rasanya seru dan keren saja kalau pikiran menjadi pikiranologi jika manusia ingin belajar terstruktur, sistematis, dan masif tentang alam pikir.

Tetapi, keruwetan itu dimulai ketika manusia sendiri yang menkonstruksikan alam pikir. Pikiran yang abstrak sampai kapanpun tetap abstrak. Pikiran yang kaya imajinasi dan mudah loncat kesana kemari itu sebenarnya terlampau dangkal jika hanya diwujudkan dalam bentuk benda nyata. Bukan bermaksud skpetis tetapi bukankah semua lahir dari pikiran sehingga pada akhirnya manusia membuat nuklir karena membayangkan bahwa betapa hebatnya jika suatu wilayah yang ingin ditaklukan bisa tunduk dengan satu ledakan maut? Bukankah hasil kerja pikiran jika pada akhirnya era manusia terus berubah dan tidak pernah lelah merubah zaman hingga kita sekarang dihadapkan pada isu-isu globalisasi yang padahal pemanasan global sendiri hasil ciptaan manusia? Bukankah hasil imajinasi pula jika mereka yang tidak puas pada bentuk rupa mereka tidak hanya memperindah wajah mereka di kanvas tetapi kini berhasil menciptakan inovasi operasi plastik? Bukankan hasil kerja pikiran pula jika banyak orang hidup dalam bayang-bayang kehidupan orang lain akibat penerapan kesepakatan umum bahwa kehidupan yang membahagiakan seperti ini dan yang menderita seperti itu?

Pikiran yang begitu membius dan punya daya magis, sungguh mempesona sehingga mampu memperdaya manusia. Pikiran selalu menginginkan manusia mewujudkan apa yang dipikirkan. Pikiran tidak lagi menjadi jembatan antara manusia dengan Tuhan, tetapi menjadi alat untuk melarikan diri. Melarikan diri dari apa? Dari fakta bahwa setiap jengkal kehidupan yang dipilih manusia tidak pernah mampu membuat manusia berhenti dan puas. Pikiran yang luas dan bebas selalu mampu melarikan diri dan mampu menemukan tempat baru untuk berdiam diri. Untuk sementara. Lalu kembali lari kala pelarian menjadi hal yang menyenangkan dan membuat gairah.

Mereka mengatakan itu adalah menciptakan imajinasi. Mereka bilang melahirkan inovasi. Tetapi, apakah semua itu jika tujuan sejati dari pikiran hanyalah sebagai alat pemuas untuk melarikan diri? Melarikan diri dari kehampaan. Sebab manusia terlalu takut untuk menjadi sunyi. Perubahan zaman, perkembangan teknologi, globalisasi, dsb, adalah fakta betapa takutnya manusia. Mereka selalu ingin melarikan diri.