Jumat, 30 Oktober 2015

Jauh-Dekat Pakai Helm

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com.

Kejadiannya sekitar sebelas hari yang lalu, saat tepat tanggal 20 Oktober, sehari setelah saya berulang tahun. Saya pikir ulang tahun di usia perak saya akan menjadi kado terindah di dalam hidup, nyatanya bertolak belakang sama sekali. Itu adalah kado ulang tahun terburuk yang pernah saya terima selama saya hidup dan semoga hal terburuk itu adalah pertama dan terakhirnya di dalam hidup saya.

Semuanya seperti mimpi saat saya mendengar suara gaduh di depan rumah pada pukul setengah delapan pagi. Berhubung saya memang belum juga mendapatkan pekerjaan, alhasil saya masih punya banyak waktu santai di rumah. Kakak saya, Juno, yang sedang berpakaian karena akan berangkat kerja, langsung keluar rumah saat mendengar seseorang memanggil-manggil dari luar rumah. Namun, suara Juno-lah yang membuat saya langsung tersentak bangun ketika mendengar Juno mengulang kata-kata pria asing itu, “Mamanya mbak kecelakaan, sekarang motornya ada di mini market.”

Kami berdua rasanya langsung tersambar geledek. Bagaimana bisa mama kecelakaan? Terlebih lagi beliau hanya berkendara ke pasar kaget yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Mama setiap hari melakukan hal itu dan rasanya mustahil kalau pada akhirnya dia menerima musibah ini. Saya langsung menjerit dan menangis. Kakak saya yang panik tidak mampu berkata-kata selain ikut pria asing itu ikut ke mini market tempat kejadian dimana mama saya ditabrak untuk mengambil motor mama yang diamankan disana.

Setelah kakak saya kembali dan benar bahwa mama saya mengalami kecelakaan, saya sudah lemas bukan main. Saya ingin cepat menemukan mama yang menurut informasi beberapa orang yang menolong beliau, langsung di bawa ke rumah sakit. Saya langsung menghubungi semua keluarga saya mengenai musibah itu. Saya, Juno, dan ayah segera menuju rumah sakit yang disebutkan oleh si penolong mama, tetapi ternyat tidak ada beliau disana. Kami panik. Kemana mama dibawa pergi oleh orang yang menyelamatkannya? Bagaimana kalau kami terlambat? 

Kami sama sekali tidak tahu siapa yang menolong mama, bahkan pegawai mini market yang menolong mama dan mengamankan kendaraan mama dan si penabrak juga tidak meminta nomor telepon orang yang menolong mama. Kami sungguh panik tetapi harus bertindak cepat kalau tidak mungkin nyawa mama tidak akan tertolong. Akhirnya kami inisiatif untuk mencari mama berkeliling rumah sakit terdekat dari rumah kami. Ada dua rumah sakit selain rumah sakit pertama yang kami tuju. Di rumah sakit kedua, kami juga tidak menemukan mama. Harapan kami ada di rumah sakit ketiga. Saya sungguh berharap mama ada disana. Apapun kondisinya semoga mama baik-baik saja.

Dan benar saja. Saat saya datang ke rumah sakit ketiga, seorang wanita berusia 49 tahun tergeletak disana. Kotor, penuh luka dan darah dimana-mana, empat kali muntah, dan yang lebih parah pihak rumah sakit sama sekali tidak bertindak apapun meski mereka tahu bahwa kepala mama terbentur. Bahkan mereka tidak membersihkan luka luar mama dan membiarkan mama tergeletak tak berdaya disana. Spontan saya langsung naik pitam. Bagaimana kepedulian rumah sakit di negeri kita ini jika menolong manusia hanya berdasarkan uang jaminan? Pihak rumah sakit tidak berani bertindak karena mama tidak bahwa identitas saat itu. Ini bukan hanya untuk mama tetapi untuk setiap manusia yang mendapatkan musibah di luar sana. Apakah mereka tidak layak diobati jika mereka tidak membawa identitas diri? 

Kelambanan pihak rumah sakit dalam menangani kondisi mama membuat saya semakin marah. Untungnya, tetangga kami berbaik hati langsung mengantar mama ke rumah sakit lain yang lebih besar. Ayah yang marah langsung menemui pria yang menabrak mama. Pria itu juga dilarikan ke rumah sakit bersama mama. Dia hanya mendapatkan luka memar di dadanya saja. Ayah sudah tidak dapat berpikir jernih dan tetangga kami langsung menenangkan ayah. Situasinya sungguh kacau balau. Saya menangis terus saat membawa mama dengan mobil tetangga saya itu. Mama sudah tidak sadarkan diri dan dia terus menerus akan muntah. Muntah karena benturan adalah pertanda buruk. Saya takut mama gegar otak dan tidak akan selamat. Saya menggenggam tangan mama dan terus berdoa agar semuanya baik-baik saja.

Kami langsung menuju UGD (Unit Gawat Darurat) rumah sakit di daerah Kalimalang. Pihak rumah sakit langsung cepat tanggap dan mama langsung diurus dengan baik. Perlu tiga hari kami menunggu kepastian dari dokter bedah syaraf yang memeriksa mama untuk berlanjut ke tahap operasi atau tidak. Dokter bilang mama mengalami benturan keras di kepala. Ada retakan di tengkorak otak sebelah kanan tetapi mengalami pendarahan di otak kiri. Hasil CT Scan memperlihatkan kalau mama mengalami pendarahan yang tidak terlalu besar namun beliau juga tidak berjanji kalau mama tidak akan di operasi karena pendarahan bisa akan membesar dan beliau mencoba mengurangi pendarahan dengan obat.

Sayangnya hasil CT Scan berikutnya menampilkan bahwa pendarahan mama membesar dan sudah menggeser posisi otaknya. Dokter khawatir akan menutup batang otak dan mama akan masuk ke fase koma. Setelah saya konsultasi dengan tante saya yang juga seorang dokter, kami memutuskan untuk menyembuhkan mama lewat operasi. Banyak kerabat, sahabat, dan orang-orang yang kami kenal mendukung dan menenangkan kami sekeluarga. Berdasarkan informasi, operasi yang berhubugan dengan kepala bisa sampai 5-6 jam. Namun, ternyata hanya perlu waktu 2 jam dan kami sekeluarga mendapatkan berita bahwa operasi mama berjalan lancar. Dokter menenangkan kami dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Kami langsung menemui mama dan melihat kondisinya seusai operasi. Sungguh malang. Selang disana-sini, bahkan wajah dan tubuhnya jadi bengkak semua. Saya menangis lagi. Mama. Wanita yang melahirkan saya, sahabat dalam suka dan duka, koki terbaik, cinta pertama saya, segalanya untuk saya, harus mengalami hal ini. Perlu waktu dua hari untuk membuat mama betul-betul sadar. Dan dihari keempat mama baru keluar dari ICU pindah ke ruang perawatan untuk pemulihannya. 

Selama mama di ICU, kami hanya bisa menunggu di ruang tunggu. Meskipun salah satu pihak keluarga berada di rumah sakit, tetap saja pihak rumah sakit tidak mengijinkan saya berada di dekat mama. Saya menginap di ruang tunggu dan hanya menunggu panggilan dari ICU sewaktu-waktu diperlukan. Sedangkan jam besuk juga hanya satu jam dalam dua sesi sehari. Sungguh rasanya berat. Saya ingin memberikan semangat kepadanya untuk bertahan dan kembali sehat tetapi tidak berdaya dengan aturan rumah sakit. Yang terpenting mama sembuh, apapun akan kami lakukan. Banyak yang berdatangan untuk menjenguk mama dan semua yang ditanyakan orang-orang adalah sama pada akhirnya. “Coba lihat CCTV-nya.”

Ya, sungguh beruntung. Musibah yang menimpa mama terekam oleh CCTV di mini market yang sedang mama tuju. Pria yang menabrak mama pun tidak akan bisa mengelak dan lari dari tanggung jawab karena jelas terlihat bahwa mama sudah memberikan tanda hendak akan belok kanan namun, naas ada motor berkecepatan tinggi melintas dari belakang dan langsung menghantam motor mama. Mama dan motornya langsung terlempar bersama si penabrak sekitar 7-8 meter. Tabrakan keras dan telak membuat mama terbentur dan mendapatkan luka di sekujur tubuhnya. Yang membuat geram adalah kejadian itu terjadi di sekitar komplek perumahan kami. Dengan kecepatan tinggi, pria itu mengendarai motornya terburu-buru karena sudah terlambat masuk kerja. Sungguh menjengkelkan rasanya mendengar alasannya. Karena kesalahannya, mama harus menanggung derita seperti ini. Bukan hanya soal derita fisik tetapi penyembuhan mama akan melibatkan psikologis juga. Mama tidak akan mungkin menjadi mama yang sama.

Kalaupun memang salah, kesalahan mama hanya satu. Ia tidak menggunakan helm saat itu. Yah, siapa yang akan menduga datangnya bencana? Pergi ke pasar komplek rumah lalu ke mini market adalah rutinitas mama setiap pagi. Mama selalu kembali selamat tanpa helm. Lagipula mana pernah terpikir akan terjadi hal seperti ini di kompleks perumahan. Kami pikir aman-aman saja berkendara tanpa helm selama tidak jauh dari rumah. Tapi, kami salah total. Tidak ada yang tahu jenis-jenis manusia seperti apa saja yang lewat di jalan perumahan kami. Mama sedang sial karena bertemu dengan salah satu jenis manusia tidak tahu diri.

Helm yang selama ini menjadi alat yang digunakan hanya untuk taat pada polisi, nyatanya sangat berguna untuk keselamatan. Kalau saja mama menggunakan helm saat kejadian tersebut, mungkin ia tidak akan kena benturan dikepalanya dan hanya akan mengalami luka-luka saja di tubuh. Mama tidak akan mengalami pendarahan dan keretakan di tengkorak kepalanya. Mama tidak akan kehilangan memori dalam otaknya. Mama meskipun akan memiliki banyak luka-luka di tubuhnya, tetap akan menjadi mama yang sama seperti sebelum kejadiaan naas tersebut. Sekarang hanya karena helm, hidup mama berubah total. Helm yang tampaknya sepele, memiliki andil penuh kehidupan kita pengendara sepeda motor. 

Kadang kita lebih peduli pada jarak tempuh ketimbang keselamatan diri kita sendiri. Selalu beralasan ‘dekat kok’ saat dianjurkan menggunakan helm meskipun berkendara tidak jauh. Helm bukan hanya alat yang digunakan untuk jarak jauh, tetapi dengan kejadian ini saya melihat sungguh-sungguh fungsi helm untuk melindungi kepala dari benturan. Musibah memang tidak akan bisa diduga tetapi menggunakan helm adalah pilihan kita sendiri. Dulu saya melihat kejemuan dalam menggunakan helm namun semua pandangan saya berubah total saat saya melihat berkali-kali CCTV kejadian yang menimpa mama.

Sebelas hari sudah mama masuk rumah sakit. Ia memang sudah sadar dan berangsur-angsur pulih secara fisik. Akan tetapi, ia jelas bukan wanita yang dulu saya kenal. Beberapa memori jangka pendeknya hilang. Mama memang masih ingat dengan orang-orang tetapi ia lupa beberapa kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan caranya bicara pun berubah total. Ia bukan lagi seperti seorang ibu yang menjadi tempat mengadu. Cara bicaranya seperti anak-anak dan sangat polos. Mama lahir kembali. Ia adalah manusia naif yang baru menghadapi dunia.

Rasanya sedih tetapi juga lucu mendengar mama berceloteh sekarang. Kami tidak tahu mama akan kembali lagi seperti dulu atau tidak. Kami hanya tahu kami harus selalu berada disampingnya mendukung mama dan terus mengajaknya bicara agar ingatannya benar-benar pulih. Kadang saya merasa sangat sedih karena saya merindukan sosok mama yang begitu pintar dan asik diajak bicara. Saya juga rindu saat mama mengeluarkan opini dari pemikiran kritisnya. Disisi lain, saya tetap sayang pada sosok mama yang sekarang lebih polos dari saya.

Di rumah sakit inilah saya menulis kisah ini. Duduk didepan laptop sambil menunggu Sanmol mama habis agar suster bisa menggantinya dengan obat mama yang lain. Saya nyaris tidak pernah tidur, tetapi saya tidak peduli. Selama saya masih disamping mama dan melihat mama sehat dan bahagia, hidup saya baik-baik saja.


30 Oktober 2015
RS. Awal Bros Bekasi.

Selasa, 20 Oktober 2015

Apakah Cinta Harus Berkorban?

Cinta.

Berapa banyak puisi dibuat atas nama cinta? Berapa banyak lirik lagu dipersembahkan untuk cinta? Berapa banyak lembaran pena yang habis hanya untuk memuja cinta? Cinta yang selalu dijadikan materi utama dalam ruang sastra selalu mampu membius dan membuat orang-orang tak berdaya. Cinta yang begitu sakral hingga akhirnya membuat begitu banyak orang terkenal karenanya. Sebut saja Shakespeare yang karena pemujaannya atas cinta menjadi abadi lewat teater Romeo and Juliet. Gibran sang pujangga melankolis mampu menyentuh tanpa harus picisan. Atau mungkin cinta mampu menjadikan J.K.Rowling kaya raya lewat buku fenomenalnya, Harry Potter, sebenarnya bertemakan cinta sejati seorang ibu kepada anaknya. Cinta selalu punya cerita dan tidak pernah selesai begitu saja.

Tapi, benarkah cinta hanya terbatas pada ruang sastra?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Karena sejatinya kehidupan terkadang sering diragukan kebenarannya. Ilusi, drama, dan realitas bertemu dalam spektrum waktu yang sama. Kehidupan yang fana membuat seringkali bertanya-tanya. Benarkah hidup hanyalah seonggok peranan drama? Atau apakah drama hanya bagian kecil dari kehidupan? Tidak ada yang tahu. Bahkan Dewa Krishna pun yakin betul hidup dan drama-nya adalah dua sisi koin yang sama.

Terlepas dari benarkah kehidupan ini atau semua hanya fatamorgana, cinta yang begitu membius itu selalu bercerita tentang hal yang sama. Cinta bukan hanya dibicarakan tetapi juga dibuktikan lewat pengorbanan. Romeo berkorban atas nama cinta untuk Juliet saat ia tahu cinta mereka tidak akan pernah bersatu. Lily Potter mengorbankan nyawa atas nama cinta untuk anak semata wayangnya, Harry. Odin sang Dewa Skandinavian harus mengorbankan sebelah matanya demi kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Drupadi mengorbankan dirinya dinikahi dengan lima pandawa atas nama cintanya pada Arjuna. Bahkan Bella Swan rela menjadi vampire dan meninggalkan ayahnya demi cintanya pada Edward Cullen. Sungguh cinta begitu luar biasa!

Cinta agaknya begitu menakutkan bagi sebagian orang atau mungkin bagi segelintir orang yang benar-benar merenung tentang sulitnya mencintai. Cinta yang kelihatannya indah, justru sebenarnya adalah pembuktian seberapa kita mampu mengorbankan diri. Cinta yang terkesan naif, nyatanya adalah kerumitan yang penuh trik tipu muslihat. Cinta seakan-akan bermuka dua. Ia akan tampil bak bidadari sebelum menerkam dirimu bahkan jiwamu dalam kesengsaraan neraka. Terlebih jika itu adalah cinta sendiri, cinta tak berbalas, yang mereka sering sebut cinta bertepuk sebelah tangan. Jenis cinta yang begitu menyakitkan dan tentu saja membuat para pecinta tak berdaya. Bahkan banyak kisah tragis berakhir akibat cinta sendiri.

Lalu bagaimanakah cinta seharusnya bekerja? Tak perlukah berkorban untuk pembuktiannya? Mungkin ada baiknya sejenak kita merenung. Kembali pada mereka sang pengayom sejati. Kita bisa belajar dari Nabi Muhammad yang dengan rela dicaci demi keyakinannya atas jalan kebenaran Allah SWT. Kita bisa belajar dari Yesus Kristus yang tanpa pamrih rela disalib demi penebusan dosa seluruh umatnya. Atau contoh lainnya yang tak kalah menyentuh, pada 2500 tahun lalu saat seorang pangeran dari suku Sakya lahir ke dunia, memiliki tiga istana, memiliki semua kemewahan dunia, pewaris utama tahta kerajaan, justru lebih memilih hidup menyendiri di hutan, melepas seluruh kemelekatannya pada dunia, hanya untuk mencari obat 'mengalahkan' kematian demi seluruh makhluk yang terlahir. Dialah Pangeran Siddhartha yang kelak menjadi Buddha Gotama.

Mungkin dengan kita melihat mereka yang punya pengaruh atas pola pikir manusia, kita jadi memahami dengan jelas. Bahwa sejatinya cinta, mau mengakui atau tidak, memang harus dibuktikan dengan pengorbanan. Ketika ia rela mendahulukan kesukaan atau kepentingan orang yang dicinta tanpa menimbang untung rugi yang akan ia terima. Cinta tanpa berkorban bukanlah cinta, tetapi guyonan tak bermakna.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Imbuhan (Afiks)

Bahasa Indonesia sangat menyukai imbuhan. Mungkin kalau imbuhan itu berupa makanan sudah menjadi makanan pokok seperti nasi. Ada banyak jenis imbuhan yang diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia sewaktu masih sekolah dasar. Imbuhan awalan, imbuhan akhiran, imbuhan awal dan akhir, imbuhan sisipan, bahkan mungkin ada imbuhan sambungan seperti misalnya kata ‘anak emas’ sering menjadi kata ‘menganak-emaskan’ dalam sebuah kalimat lisan yang diucapkan.

Imbuhan atau afiks biasanya digunakan untuk membentuk kata baru dari kata dasar menjadi kata sifat, kata kerja, atau bahkan kata keterangan. Jenisnya yang bervariasi membuat imbuhan kadang sulit dibedakan dengan kata yang memang sudah dasarnya begitu. Misalnya saja kata ‘Pengangguran’ – apakah berasal dari kata ‘Anggur’ lalu ditambahkan imbuhan awalan ‘Peng-’ dan akhiran ‘-An’ seperti kata ‘Pengandaian’ yang memang jelas berasal dari kata ‘Andai’ dan diimbuhkan kata ‘Peng- -An’. Lalu bagaimana dengan kata ‘Mengemas’ yang sama artinya dengan membungkus tetapi jelas bukan berasal dari kata ‘emas’ dan disisipkan ‘Meng-’ di awal kata. Dan sederet kata lain yang bisa kalian temukan dalam percakapan sehari-hari.

Penggunaan imbuhan terkadang suka seenaknya saja. Hanya mengandalkan kecocokan sebutan di telinga. Misalnya saja seperti kata ‘Tahu’, ‘Mengerti’, dan ‘Paham’ yang ketiganya memiliki pendekatan makna yang sama. Ketiganya memiliki gaya yang berbeda. Dimana ‘Tahu’ jika ditambah afiks ‘Ke- -An’ bisa menjadi ‘Ketahuan’ tetapi ‘Mengerti’ tidak bisa menjadi ‘Kemengertian’ dan ‘Paham’ tidak bisa menjadi ‘Kepahaman’. Lalu afiks ‘Pe- -An’ yang bisa dtambahkan menjadi ‘Pengertian’ dan ‘Pemahaman’ tetapi bertambah ‘-ng-’ untuk kata ‘Pengetahuan’. Sungguh luar biasa.

Belajar imbuhan mungkin lebih tepat menggunakan insting ketimbang menghapal setiap kata yang ada. Semua mengandalkan kecocokan semata seperti misalnya kita memiliki kata ‘Bermalam’ yang berasal dari kata ‘Malam’ tetapi tidak pernah menemukan kata ‘Bersiang’ meskipun ‘Malam’ dan ‘Siang’ sama-sama menunjukkan waktu. Di lain imbuhan kata ‘Siang’ dan ‘Malam’ sama-sama memiliki kesetaraan yang tercermin dalam kata ‘Kemalaman’ dan ‘Kesiangan’. Ironis.

Saya memang sudah terbiasa dengan imbuhan bahasa Indonesia yang semaunya saja karena memang saya lahir dan besar di Indonesia tetapi hal ini sangat disayangkan apabila ada orang asing yang memiliki keinginan untuk belajar bahasa Indonesia. Kalau kita ingin bahasa kita dikenal lebih mendunia mungkin ada baiknya bila memperbaiki (Memperbaiki berasal dari kata 'Baik'? atau memang kata itu adalah kata dasar yang bukan ditambahkan imbuhan? Silahkan gunakan insting kalian :P) sistem penggunaan bahasa kita terlebih dahulu baru setelah itu mewajibkan setiap turis untuk berbahasa Indonesia ketika berkunjung ke tanah air.