Sabtu, 08 Oktober 2016

7 Alasan Kenapa (Saya) Kuliah di Turki

Mendadak semua orang terkejut. Semuanya seakan tiba-tiba ketika saya update di berbagai sosial media mengenai informasi kalau saya akan kuliah ke Turki. Berbagai jenis tanggapan pun bermunculan. Mulai dari dugaan saya memilih Turki karena alasan percintaan sampai-sampai pertanyaan klasik, kenapa pilih Turki bukan negara-negara di benua Eropa atau bahkan Amerika? Bahkan banyak yang kebingungan dengan saya karena belum lama Turki diberitakan telah mengalami kudeta militer di negara mereka. Belum lagi banyak sekali ledakan bom yang terjadi di kota-kota besar di Turki selama beberapa waktu terakhir. Mengapa memilih negara konflik? Apa enggak takut sama ancaman ISIS atau kudeta lanjutan? Hmm, saya sudah sedikit-sedikit menjelaskan jenis-jenis pertanyaan seperti itu. Akan tetapi, rangkuman penjelasannya baru bisa saya tuliskan dalam blog ini setelah saya selesai sibuk urusan administrasi menuju Turki. Berikut ada 7 alasan kenapa saya pilih kuliah di Turki.


1. Beasiswa
Saat ini cari beasiswa itu tidak sesulit jaman waktu saya masih sekolah SMA dulu. Tidak perlu pintar secara akademis, siapapun berhak mendaftar beasiswa. Satu yang pasti, para pencari beasiswa biasanya jenis-jenis orang yang berani ambil resiko dan tidak mudah putus asa. Mencoba hal baru dan menyukai tantangan haruslah dimiliki saat seseorang memutuskan bersaing dalam pencarian beasiswa.
Ada banyak sekali jenis beasiswa yang ditawarkan di dunia ini. Mulai dari beasiswa parsial sampai full bahkan ada juga beasiswa yang memberikan uang jalan-jalan kepada penerimanya. Kebanyakan beasiswa yang nilainya menggiurkan memang adanya di negara-negara benua Eropa dan Amerika. Akan tetapi, negara Asia seperti Jepang pun tidak kalah dalam menarik minat beasiswa. Jadi, alasan pertama kenapa saya pilih kuliah ke Turki adalah karena alasan mendasar yaitu Beasiswa.
Saya selalu punya mimpi kalau saya ingin menyelesaikan jenjang S2 sebelum berusia 30 tahun. Namun, biaya pendidikan di Indonesia itu tidak tanggung-tanggung. Bahkan universitas negeri mahalnya menyamai universitas swasta. Saya pikir kalau saya hanya mengandalkan uang yang saya punya tentu tidak akan mencukupi biaya kuliah S2. Karena alasan sederhana inilah saya harus mencari beasiswa.
Di Turki ada banyak yayasan yang memberikan beasiswa. Namun, saya hanya mendaftar beasiswa yang asli dari pemerintah Turki. Saran saya untuk para pemburu beasiswa, kalian mesti teliti sebelum mendaftar. Kalau bisa cari beasiswa yang menjadi program pemerintah negara yang kalian tuju.


2. Belajar Bahasa Baru
Ada yang tanya, 'saya mau daftar beasiswa tapi bahasa Inggris saya pas-pasan. Bukannya syarat utama daftar beasiswa itu dari bahasa Inggrisnya?' jawabannya, ya betul sekali! Kebanyakan negara pemberi beasiswa memberikan standar nilai bahasa Inggris untuk pelamarnya. Namun, perlu di ingat. Tidak semua negara mau menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mereka. Sebut saja Rusia, Ceko, Perancis, dan banyak negara Eropa lainnya yang tidak mewajibkan nilai test bahasa Inggris kita, termasuk Turki. Karena apa? Karena di tahun pertama perkuliahan nantinya, kita akan diberikan satu tahun penuh belajar bahasa negara tersebut. Kalau memang begitu kenapa saya pilih Turki? Well, saya sudah mencoba otodidak belajar berbagai bahasa. Mulai dari Jepang, Korea, Perancis, Arab, bahkan bahasa Ibrani. Tapi, entah kenapa saat saya belajar bahasa Turki, saya lumayan cukup cepat paham. Memang banyak yang bilang grammar Turki itu akan menghancurkan grammar bahasa Inggris yang kita kuasai. Akan tetapi, buat saya pribadi belajar bahasa Turki itu asik. Terlebih lagi saya selalu bermimpi bisa bahasa asing lain selain bahasa Inggris. Jadi, kenapa enggak belajar Türkçe? Hehehe.
Oh ya, mengenai bahasa Turki ini adalah hal wajib yang saat kalian pilih beasiswa Turki. Meskipun universitas kalian nantinya menggunakan bahasa Inggris, kalian tetap harus lulus dan dapat sertifikasi C1 untuk bahasa Turki. Dan perlu di catat, ini gratis. Beasiswa pemerintah Turki juga menggratiskan belajar bahasa Turki selama setahun pertama di sana. Ini salah satu kelebihan beasiswa pemerintah Turki di banding beasiswa pemerintah di negeri Eropa lainnya. Biaya belajar bahasa selama setahun itu gratis!


3. Kesamaan Budaya Dengan Indonesia
Bicara soal Turki pastinya bicara soal sejarah. Yang seru dari hal ini, sejarah Turki dan Indonesia memiliki banyak kemiripan. Indonesia pernah berjaya di jaman Nusantara, sedangkan Turki pada saat kekaisaran Ottoman. Sama-sama memuja bapak pendiri bangsa yaitu Indonesia yang menghormati Soekarno dan Turki yang menghormati Mustafa Kemal Atatürk. Bahkan dalam kosakata berbahasa Indonesia dan Turki punya kata-kata yang sama. Bisa dilihat contohnya di tulisan saya sebelumnya yaitu : Homonim Dalam BahasaTurki dan Bahasa Indonesia. Karena kesamaan budaya inilah, enggak salah kalau para pelajar Indonesia banyak yang mulai melirik beasiswa di negeri bunga Tulip.


4. Memiliki Banyak Peninggalan Kebudayaan
Karena Turki memiliki sejarah yang panjang dimulai dari jaman perunggu dan menjadi salah satu bagian dari Mesopotamia kuno, tidak heran kalau situs arkeologi dan artefak banyak bertebaran di Turki. Jika mau melihat sisa sejarah Sumeria, pergilah ke selatan dan timur Turki. Kalau mau wisata Bizantium pergilah ke barat Turki. Wisata alam seperti gunung dan laut bercampur baur dengan wisata arkeologis yang membisu ribuan tahun silam. Turki yang kaya akan budaya menjadi harta bagi para pecinta dunia arkeologis seperti saya. Dan inilah salah satu saran utama saya kalau kalian memutuskan untuk mendaftar beasiswa. Kalian harus menyukai negara itu. Bukan sekedar belajar, dapet nilai bagus, dan lulus Sarjana. Tapi, lebih dari itu adalah pengalaman hidup yang nantinya menjadi modal kehidupan kalian. Terlebih lagi tanyakan dalam diri kalian sebelum daftar beasiswa, kenapa saya harus kesana? Ada apa disana yang disini saya tidak dapatkan? Pertanyaan seperti itulah yang nantinya akan mematangkan minat mendaftar beasiswa.


5. Banyak Tempat Wisata
Kata siapa kalau mendapat beasiswa kita cuma harus belajar? Salah. Justru kalian juga harus banyak berwisata. Semakin kalian santai dan wisata ke berbagai kota di negara itu, semakin kuat hubungan batin kalian dengan negara tersebut. Jadi, sah-sah aja kalau kalian menggunakan pribahasa, 'sambil menyelam minum air'.
Di Turki, tempat wisata itu ada banyak sekali pilihannya. Orang biasanya cuma menuju İstanbul, Ankara, İzmir. Mereka memang benar, 3 provisi besar itu menjadi tujuan menarik wisatawan. Namun, perlu di ingat. Turki itu bukan İstanbul. Kalian mesti cari tahu provinsi lainnya yang enggak kalah seksi. Contohnya? Mau lihat kuda Troy bisa ke Canakkale. Mau cobain kebab asli Turki yang rasanya spicy, asalnya dari Adana. Mau lihat situs sejarah bisa ke Sanliurfa atau Mardin. Mau lihat Alexandria kecil bisa ke Hatay. Mau sekalian ke Yunani atau Bulgaria bisa lewat Edirne. Turki yang terletak di Laut Hitam dan Mediterania adalah tempat strategis untuk memulai perjalanan.


6. Tempat Cuci Mata
Pertemuan antara benua Asia dan Eropa, tempat mana lagi yang enggak sekeren Turki? Gudangnya cowok cewek keren. Karena pencampuran ras, menjadikan penduduk Turki itu unik. Sebagian dari mereka ada yang cenderung kayak bule Eropa. Sebagian lagi lebih ke Arab. Ada yang campuran kuat keduanya.
Turki itu terbagi dalam 7 wilayah atau bölgesi. Setiap wilayah punya ciri khasnya masing-masing. Contoh sederhananya adalah Turki bagian Barat yang berdekatan dengan Yunani, memiliki ciri khas penduduk bermata biru dan rambut brunette. Beda sama Turki bagian Timur dan Selatan yang dekat dengan Irak dan Suriah, wajah mereka cenderung Arab dengan alis tebal dan hidung tajam. Bisa dipastikan wajah Turki yang perpaduan Eropa dan Asia bakalan membuat kamu puas cuci mata hehe.


7. Pergi Karena Memang Pilihan Kamu
Setelah baca 6 alasan saya diatas, mungkin yang tadinya enggak tertarik cari beasiswa di Turki mulai ada sedikit keinginan atau mungkin tetap enggak kepengen sama sekali kuliah disana. Enggak apa-apa. Itu masalah pilihan kamu kok. Jangan pernah daftar beasiswa karena ikut-ikutan. Ngeliat temen dapet beasiswa langsung mupeng. Ngeliat temen jalan-jalan di luar negeri karena kuliah langsung ngiri. Usahakan daftar beasiswa karena memang keinginan kamu sendiri.
Alasan terakhir inilah yang membuat saya memutuskan melangkah sampai sejauh ini. Jadi kalau masih ada yang duga karena masalah percintaan, jelas salah total. Saya mau cerita sedikit tentang keinginan saya ke Turki.
Sejak masa SMP saat pertama kali mendengar tentang kekaisaran Ottoman. Entah kenapa ada semacam gejolak kuat setelah saya mendengar kisah Turki pertama kali dari guru saya. Sebenarnya bukan cerita panjang lebar. Hanya singkatnya kekaisaran Ottoman ini pernah berkuasa lama di Asia Barat hingga Eropa. Saya tergila-gila sama sejarah Turki mulai dari zaman perunggu hingga menjadi negara yang berdiri dan kini di landa gejolak internal.

So, kenapa Turki? Sebaiknya pertanyaannya mulai di ganti. Kenapa bukan Turki? :D Merhaba Turkiye!

Kamis, 14 Juli 2016

Flat Earth Bukan Kebenaran Baru. Flat Earth Sudah Ada Di Beberapa Tradisi Kuno.

Sudah nonton Youtube soal Flat Earth Theory? Atau mungkin kamu yang kritis sudah mulai mencari tahu soal Flat Earth ini? Well, di Indonesia teori ini memang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan tapi sekedar info aja, sebenarnya saya sudah 'memikirkan' ini sudah lama hehe. Bukan mikir sih tapi lebih kepada menemukan dan kemudian saya amati soal fakta apakah Bumi atau Earth, tempat tinggal kita ini berbentuk bulat seperti bola? Atau justru sebenarnya bulat seperti lempengan alias flat?

Oke berikut saya kasih beberapa contohnya aja. Maklum karena keterbatasan frame jadi cuma bisa tampilin 6 aja.





1. Cakra Krishna
Siapa yang kenal Dewa Krishna? Saya rasa bukan cuma pemeluk agama Hindu aja yang tahu siapa Krishna. Krishna adalah titisan Dewa Vishnu atau Dewa Pemelihara yang merupakan bagian dari Trimurti atau 3 Dewa utama. Bukan tanpa sebab kalau penganut kepercayaan Hindu itu membuat personifikasi 3 Dewa Utama ini. Brahma sebagai simbol Kelahiran, Vishnu sebagai simbol Kehidupan, dan Siva sebagai simbol Kematian. 3 Dewa ini adalah siklus kehidupan kita sebagai makhluk fana. Nah, ada alasan pula kenapa senjata Krishna adalah sebuah Cakra yang begitu terkenal yaitu Sudarshana. Kalau digambarkan dari dekat, cakra ini ternyata... yap! Penggambaran 'Flat Earth'. Sebelum percaya atau menyanggah silahkan kalian cari sendiri kebenarannya.

2. Mesopotamia
Mesopotamia adalah kebudayaan tertua di antara dua sungai yaitu Eufrat dan Tigris. Sebelum menjadi Irak, dulunya bernama Uruk atau Unug, merupakan peradaban tertua yang lahir dari tempat bernama Eridu. Untuk info lengkapnya bisa baca buku Paul Kriwaczek, Babylonia : Mesopotamia dan Kelahiran Peradaban. Well, gambar diatas memang bukan gambar yang dibuat ribuan tahun sebelum masehi tapi gambaran itu hasil dari penemuan Cuneiform yang diterjemahkan oleh para Ilmuan. Untuk cuneiform yang mana saya tidak tahu, saya minta maaf karena informasi ini saya gali dengan cara terbatas dan berdasarkan referensi beberapa literatur.

3. Mesir
Nah, siapa yang tidak kenal Mesir? Mesir juga merupakan salah satu peradaban tertua yang ditemukan sampai saat ini. Mesir juga punya banyak dewa-dewi yang merupakan simbol dari berbagai situasi. Via google saya telusuri bentuk 'Flat Earth' versi Mesir ini.

4. Pohon Kehidupan Yggdrasil Skandinavian
Kalau yang ini sudah jadi favorit saya sejak baca buku J.R.R Tolkien yaitu The Lord of The Rings. Yup. Tolkien memang mengakui bahwa ia banyak terinspirasi dari mitologi Skandinavian atau mitologi milik bangsa Viking. Bahkan Tolkien menuliskan Middle Earth sama persis versi mitologi Skandinavian. Kenapa disebut 'Middle' atau Bumi Tengah? Pasti kalian mikirnya kisah itu terjadi di Eropa karena di peta kan letaknya di Tengah. Salah! Bumi Tengah adalah penggambaran kehidupan manusia, dimana bagian atas, pinggir, dan bawah itu didiami oleh makhluk-makhluk lain. Yggdrasil ini cukup fenomenal. Karena ingin memahami Pohon Kehidupan ini, Odin si Raja Para Dewa 'harus' mengorbankan sebelah matanya kepada sumur ilmu pengetahuan. Well, kenapa mata? Mata itu indera yang paling penting. Indera lain juga enggak kalah penting, tapi Mata adalah Jendela Dunia. Tanpa Mata kita tidak bisa membedakan keadaan-keadaan fisik luar. Andaikata bisa pun akan berbeda dengan orang yang punya dua mata yang masih sehat. Orang Skandinavian sudah sadar betul bahwa mata itu penting. 'Mengorbankan' mata adalah tindakan yang luar biasa dermawan. Akan tetapi, walaupun mata penting, mata juga mampu menangkap ilusi. Dan makna dari tindakan Odin adalah : untuk memahami Dunia dan Semesta buang jauh-jauh pandangan mata yang penuh ilusi. Sayangnya, kaum Illuminati ini salah arti dan malah menjadikan mata sebagai simbol mereka. Otomatis hingga detik ini orang-orang akan mengasumsikan kalau simbol mata adalah satanic.

5. Roda Dhamma
Apa intisari ajaran Buddhist? 4 Kesunyataan Mulia. Apa saja 4 hal itu? Hidup Adalah Dukkha, Sebab Musabab Dukkha, Lenyapnya Dukkha, dan Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha. Nah, kalau gitu apa Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha? Saya tidak mau menjelaskan terperinci karena itu gamblang dijelaskan di berbagai literatur. Kalian bisa cari sendiri by google. Oke, yang saya mau tekankan adalah simbol untuk Sang Jalan ini. Karena bentuk dari Jalan Beruas 8 ini seperti halnya Roda. Yup, Roda yang biasa disebut Roda Dhamma atau Roda Kebenaran. Pasti ada alasan maksud kenapa Buddha menggambarkan Kebenaran seperti Roda dan sepintas serupa dengan Cakra milik Krishna. Bukan tanpa sebab pastinya. Meski dibeberapa teks Buddhis saya belum menemukan penjelasan Buddha dalam hal ini secara gamblang, tapi Beliau selalu menekankan bahwa sejatinya Dunia dan Semesta adalah Diri Kita dan Kita adalah Semesta. Hal itu yang membangkitkan kesadaran agar kita untuk selalu berbuat kebajikan karena apa yang akan kita lakukan menghasilkan buah karma baik ataupun buruk. Nah, ajaran Buddha ini dibeberapa literatur kuno digambarkan bahwa tempat manusia tinggal ini ibaratnya ditengah dan diatas merupakan makhluk-makhluk yang memiliki banyak kebajikan dan dibawah merupakan tempat bagi mereka yang jarang berbuat kebajikan. Jika diamati mendetail tak ada bedanya dengan Yggdrasil milik Skandinavian.

6. Bhutan
Yang keenam tapi bukan yang terakhir adalah Bhutan. Ini adalah negara favorit saya. Meskipun belum pernah kesana tapi saya banyak mendengar tentang Bhutan yang Super Damai. Negara Miskin tapi Sangat Bahagia. Kok bisa? Bisa saja! Itu karena mereka menjalankan prinsip spiritualitas yang tinggi ditengah modernisasi. Masyarakat Bhutan tidak mengisolasi diri tetapi menerima modernisasi dengan dewasa dan bijaksana. Sungguh luar biasa. Oke balik ke soal 'Flat Earth'. Ternyata di Bhutan ini, sudah menggambarkan Bumi selayaknya lingkaran datar seperti gambar yang bisa kalian lihat di wikipedia Bhutan.

Saya menemukan fakta soal 'bentuk' Bumi sudah sejak lama dan ini terdapat secara gamblang diberbagai literatur. Hanya saja mungkin kebanyakan orang akan bilangnya bahwa itu cuma penggambaran aja. Imajinasi orang jaman dulu karena pengetahuan mereka masih sedikit. Eittss jangan salah! Orang-orang kuno itu jauh lebih pintar dari kita. Justru masyarakat modern yang mengalami kemunduran pengetahuan. Pengetahuan kita sekarang itu hanyalah pengembangan dari pengetahuan kuno.

Nah, setelah baca panjang lebar beberapa pendekatan yang saya rangkum tentang 'Flat Earth' itu bukan penemuan baru, apa pendapat kalian? Terutama untuk yang super religius dan selalu menghina nenek moyang kita semua primitif, kolot, dan percaya takhayul. Ini sih yang menyedihkan dari menyeruaknya fakta soal Flat Earth. Meskipun orang berlomba-lomba mencari, kalau mereka masih bilang nenek moyang atau peradaban kuno itu sesuatu yang salah dan takhayul sama saja kalian itu TETAP DIBODOHI oleh Bankir Illuminati dan Secret Society. Kenapa?

Just think about this. Agama nenek moyang yang kalian sebut aneh dan primitif itu yang saya sebut sebagai kepercayaan paganisme, adalah cikal bakal lahirnya agama-agama besar sekarang. Tentunya dengan beberapa perbaikan dan disesuaikan dengan kondisi berikutnya. Namun, bukan berarti agama sekarang yang 100% benar dan agama kuno salah. Sungguh deh kalau kalian masih mikir gini, kalian sungguh terlalu. Karena sebutan 'nenek moyang kita primitif' atau hanya sekumpulan masyarakat yang percaya takhayul adalah isu propaganda paling dahsyat yang dihembuskan. Kita semua di adu domba. Ateis vs Religius. Monotheis vs Polytheis. Yang bahagia siapa? Yah mereka-mereka juga. Kita bunuh-bunuhan dan perang karena merasa agama kita paling benar, yang untung siapa? Mereka-mereka juga.

Jadi, ayo kawan. Kita hentikan perang dan kebencian ini. Hentikan menyebut budaya kita primitif. Hentikan menyebut agama kuno penyembah berhala. Sejatinya mereka tidak pernah menyembah apapun. Mereka jelas jauh lebih cerdas dari kita semua karena mereka telah melihat semesta jauh sebelum kita memahami. Mereka juga telah melihat Ketuhanan dalam versi yang tanpa sekat. Segala dewa-dewi hanyalah bentuk penggambaran yang mereka ciptakan untuk memudahkan kita memahami. Bahwa sejatinya petir halilintar akan menggelegar seperti bunyi Godam dan kemudian dimiliki oleh Dewa Thor. Bahkan Zeus dan Jupiter pun punya senjata kilat yang serupa.

Jadi, demi terbukanya tabir kebenaran. Kita tidak hanya menikmati alur kisah dari kebohongan tentang Globe Earth tapi lebih dari itu kita seharusnya mengembangkan pemahaman dan penerimaan bahwa Paganisme dan Agama Modern seperti halnya Dewa Janus yang berwajah dua, sama-sama dari Koin Kehidupan yang sama. Sisi-sisinya saling menopang dan selaras agar kita memahami kehidupan yang sebenarnya.

Sabtu, 02 Juli 2016

Bukan Siapa-Siapa. Bukan Apa-Apa.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali membaca buku yang bagi saya luar biasa keren. Bukan buku traveling yang akan kasih saya tips keliling dunia dengan budget minim, bukan pula buku biografi tokoh dunia yang kemudian menginspirasi saya. Bukan. Jenis buku ini agak unik dan mungkin nyaris enggak ada di toko buku manapun. Judulnya Bukan Siapa-Siapa penulisnya Ajahn Brahm. Pernah dengar? Buku ini buku lama yang udah nangkring di rak buku saya. Dulu pernah saya baca tapi berhubung saya manusia biasa, terkadang baca buku sekedar paham saat itu. Beberapa hari bahkan jam kemudian pasti akan lupa isinya hehe. Tapi karena beberapa hari yang lalu saya lagi sewot banget, saya langsung ingat buku keren ini. Makanya saya langsung ambil dari rak buku dan mulai baca lagi.




Ajahn Brahm itu seorang Bhikkhu atau Pertapa Buddhis beraliran Theravadha. Beliau orang Inggris dan ditabiskan jadi Bhikkhu di Thailand. Saya enggak mau tulis biografi beliau tapi mau berbagai cerita soal buku beliau yang berjudul Bukan Siapa-Siapa ini. Beberapa tahun belakangan, Ajahn Brahm memang banyak menulis buku. Kebanyakan motivasi kehidupan tapi buku mengenai Bukan Siapa-Siapa ini beneran enggak ada tandingannya. Kenapa? Kebanyakan buku selalu bercerita tentang motivasi hidup, dukungan kepada pembaca agar pembaca mempunyai alasan untuk hidup dan berjuang mendapatkan kesuksesan. Tapi, buku Bukan Siapa-Siapa justru kebalikannya. Weitttss berarti nyuruh orang pesimis? Tunggu dulu.

Sebenarnya susah dijelasin pakai kata-kata. Buku ini seperti tujuannya jadi buku yaitu untuk dibaca, diresapi, hingga kemudian dipahami. Lebih asiknya sih kalian baca sendiri. Namun, berhubung buku ini 'kena' banget sama kejadian yang saya alami, saya jadi kepengen nulis di blog. Kali aja yang kepo blog saya kesentil setelah baca tulisan saya ini.

Lewat buku Bukan Siapa-Siapa, Ajahn Brahm mengingatkan kita sejatinya siapa diri kita. Dunia ini selalu menuntut kita untuk menjadi sosok yang benar dan sempurna. Benar dan sempurna versi siapa yang jadi pertanyaan? Tentu saja versi kesepakatan sosial. Seperti contoh sederhananya adalah media sosial menjadi alat kampanye bahwa cewek jaman sekarang bisa disebut ideal kalau sudah punya payudara segede tampah, perut super kecil, pantat segede gaban dan kalau perlu jago twerking. Jadi kalau dari jauh bentuknya jam pasir banget. Udah mulai lupa tuh orang-orang kalau beberapa tahun silam, cewek super skinny, rambut blonde, dan kulit putih cemerlang, yang jadi standar cantik. Yap, semua tergantung kesepakatan sosial. Masyarakat sekarang punya kacamata baru ketika menilai cantik seorang wanita. Mungkin dulu kalau yang bulu keteknya gondrong namanya cantik, sekarang yang alisnya kayak ulet bulu itu baru cantik.

Kesepakatan sosial itu kemudian jadi kebenaran sejati dan dikukuhkan dalam banyak cara. Misalnya jadi ajang pencarian bakat Miss Miss-an dimana semua cewek dipajang kayak mainan untuk ditonton, dipilih, dan dipuja oleh masyarakat dunia. Semua diatur sedemikian rupa agar yang dipilih jadi juara satu memang layak menjadi yang paling beauty, brain and behaviour. Memangnya ada manusia yang paling? Kalau begitu pepatah di atas langit ada langit, apa donk artinya?

Belum lagi urusan mencapai kesuksesan. Sebenarnya apa sih ukuran sukses itu? Ada yang bilang dari uang, ada yang bilang dari pencapaian jabatan pekerjaan, dari banyaknya investasi, atau segala macam tetek bengek yang ujungnya adalah nilai materi. Jadi sukses adalah materi. Sebanyak itu materi yang kamu dapatkan, sebanyak itu pula kesuksesan kamu. Kalau kamu udah usaha mati-matian sampe mati beneran dan saat mati kamu masih miskin materi, itu pasti gak akan disebut sukses. Bener gak? Capek yah.

Sebagian orang yang agak bijaksana, mengartikan sukses sebagai tujuan hidup yang tercapai. Karena tujuan hidup orang itu berbeda-beda maka ukuran kesuksesan setiap orang juga berbeda. Jadi ada orang yang memang tujuannya menikah sama orang kaya kemudian terlaksana itu namanya sukses. Ada yang tujuan hidupnya terkenal dan terlaksana itu namanya sukses. Dan sederet keinginan lainnya yang kemudian didapatkan, orang itu disebut sukses. Kelihatannya bijaksana yah? Padahal bagi saya tidak. Sifat 'mendapatkan keinginan' itu yang jauh dari bijaksana. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kalau tidak mendapatkan yang menjadi tujuan hidupnya? Apakah ia disebut gagal?

Itulah yang kemudian membuat saya damai membaca buku Ajahn Brahm. Beliau tidak menuntut saya sebagai pembaca untuk meraih kesuksesan apapun. Beliau sudah lelah betul sama duniawi yang tidak pernah puas ini. Makanya beliau hanya minta kita duduk diam dan lepaskan segalanya. Lepaskan diri kita dari keterikatan apapun, jabatan, gender, keinginan, dan hanya duduk diam untuk menyadari setiap kehidupan ini. Jika semua orang menuntut kita menjadi Siapa-Siapa, beliau justru dengan berani mengajak kita menjadi Bukan Siapa-Siapa. Luar biasa.

Bukan Siapa-Siapa karena sejatinya kita bukan apa-apa. Bukan bermaksud pesimis atau merendahkan diri, tapi jika kita sadarin memang kita bukanlah apa-apa. Dosen saya pernah bilang, meja kalau diperetelin maka tidak akan ada meja lagi. Yang ada hanya kumpulan kayu. Yap. Seperti itulah manusia juga. Manusia kalau diperetelin apakah akan jadi manusia lagi? Enggak. Saya kalau semua anggota tubuh ini dilepas apakah akan jadi saya lagi? Enggak. Lalu apakah akan ada jabatan, pekerjaan, atau bahkan kenangan pencapaian? Semuanya akan pudar seiring berjalannya waktu. Jadi, daripada buang waktu dengan meratapi diri enggak kaya-kaya atau belom bisa beli lamborgini biar bisa selfie kayak syahrini, Ajahn Brahm menganjurkan kita untuk menyadari.

Dan ini jelas menohok kata-kata seseorang yang kemudian menjadi inspirasi saya untuk menulis di blog. Orang ini orang yang punya sedikit kekuasaan di suatu tempat. Suatu hari ego saya ditampar lewat kata-kata beliau bahwa, "sampai saat ini kamu sudah buat karya apa? Kamu sudah ditugasin pergi kemana? Kalau bisa jawab 2 pertanyaan itu kamu enggak usah tersinggung sama kata-kata saya." Kurang lebih begitulah kalimat yang beliau tulis. Dari sudut pandang saya, beliau ini memang punya hobi yang cukup unik, yaitu selalu mengkritik orang dengan caranya yang tidak bagus. Jenis kritik yang ditujukan bukan untuk membangun tapi menghina. Karena saya ini tipe orang yang suka keadilan, jadi kata-kata beliau yang berkali-kali dilontarkan ke saya dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan tapi berdasarkan asumsi beliau, berkali-kali pula saya protes dan pertanyakan kembali.

Sebenarnya mudah saja saya jawab 2 pertanyaan beliau dari cara pandang saya terhadap dunia. Berhubung pandangan hidup beliau hanya menuhankan kesepakatan sosial seperti yang saya sebutkan diatas, maka saya urungkan niat saya untuk berdebat. Karena jenis debat itu bukanlah jenis debat yang akan membawa pencerahan tapi justru kebencian.

Soal yang pertama adalah karya apa yang sudah saya buat? Jelas kelahiran saya di dunia ini merupakan karya terbesar kedua orang tua saya. Menyadari bahwa saya adalah mahakarya orang tua saya, saya selalu berusaha menjadi anak yang baik tapi bukan yang terbaik. Kenapa? Karena saya punya saudari dan bagi orang tua, anak-anak mereka tidak ada yang paling baik atau terbaik. Jika disebut terbaik maka artinya ada pembanding. Dan saya sangat yakin, bagi orang tua tidak akan mungkin membandingkan anak-anak mereka. Cukup jadi anak baik dan orang tua saya bahagia memiliki saya. Karya lain yang saya bisa sebutkan adalah saya bisa memiliki pikiran bebas tanpa batas. Maksudnya? Ya saya ini orang Indonesia tapi gaya pikiran saya ini enggak seperti kebanyakan orang Indonesia. Misalnya? Misal dalam soal beragama. Sejak kecil saya selalu punya ribuan pertanyaan tentang agama-agama. Hal itulah yang pada akhirnya membuat saya belajar banyak ajaran agama. Apakah kemudian saya memilih satu agama? Tidak. Apakah ini hal wajar di Indonesia? Tidak pula. Apakah saya ateis? Tentu bukan. Saya terlalu vulgar mengatakan bahwa saya ini manusia ditengah-tengah. Saya bukan keduanya. Saya tidak memiliki agama tapi saya bukan ateis. Tanpa agama, saya tahu bahwa Tuhan itu sejati. Saya tidak perlu agama untuk kenal Tuhan. Saya pun tidak perlu apa-apa untuk memahami Ketuhanan. Dan pola pikir inilah yang kemudian saya sebut sebagai karya saya. Sebab saya telah mencapai pencarian saya. Sebuah karya yang tak ternilai untuk diri saya. Apakah saya peduli dengan kesepakatan sosial yang nantinya akan menyebut saya jahanam? Silahkan. Saya bukan si beliau yang menuhankan kesepakatan sosial dan Tuhan saya adalah abadi bersemayam dalam diri saya, bumi ini, tata surya, bahkan seluruh alam semesta.

Lalu pertanyaan kedua, sudah pernah ditugasin kemana? Apakah yang dimaksud negara di luar negeri atau pelosok dalam negeri? Kalau itu yang dimaksud, saya memang belum pernah dapat perjalanan dinas sampai sejauh itu tapi saya sudah menjejakan kaki saya diatas kehidupan saya sendiri. Saya telah melalui banyak hal dalam proses kehidupan saya. Saya pernah mengalami banyak hal, terpuruk, jatuh hingga mati kemudian bangkit lagi. Bangkit untuk bertahan hidup. Bukan demi sukses dalam cara pandang sosial tetapi karena saya tahu saya lahir ke dunia ini pasti ada maksud dan tujuannya. Hal itulah yang sudah saya sadari dan membuat saya berbahagia atas setiap tarikan dan hembusan nafas yang saya jalani. Saya tidak perlu pergi kemana-mana, jika duduk diam telah mendamaikan hati saya.

Bukan Siapa-Siapa? So why?

Jumat, 17 Juni 2016

Kekuatan Wanita dan Jatah Tempat Duduk Commuter Line

Hari ini seperti biasa, saya naik commuter line. Pemandangan yang saya lihat memang seperti biasa. Penuh, sesak, kadang ngetem, tertahan sekian lama di satu stasiun, dan lain sebagainya. Hal-hal itu sangat biasa terjadi. Saking biasanya, sampai-sampai saya bosan mengamati setiap detailnya.

Namun, ada yang berbeda pada hari ini. Bukan karena ada pemandangan baru atau karena tiba-tiba saya tabrakan dengan calon suami saya (ehm!) si Chris Evans hahahaha. Tapi, karena hari ini saya akhirnya mengamati satu hal. Satu hal yang langsung menjungkir balikan pandangan saya terhadap kaum perempuan.

Ada 5 orang wanita di waktu yang berbeda masuk di gerbong yang sama dengan saya. Hanya 2 orang dari mereka yang membawa anak. Tapi, entah mengapa daya magis mereka mampu membuat pria yang sedang asyik duduk di gerbong commuter line sambil dengerin musik, tiba-tiba melonjak dan mempersilahkan mereka duduk. Beberapa dari mereka setelah saya amati seakan sengaja pilih berdiri di depan pria. Kelima wanita ini saya pastikan adalah ibu-ibu dan kekuatan mereka (entah dengan tampang memelas atau sorot mata memohon ke arah target mereka yang sedang duduk) langsung membuat para pria tersebut mengalah. Dalam hati saya tepuk tangan. Sungguh saya ingin belajar kekuatan telepati macam begitu.

Tulisan ini bukan karena saya penganut sistem Patriaki. Sungguh bukan bermaksud menyudutkan gender tertentu atau tidak hormat pada kaum ibu. Karena saya pribadi adalah seorang anak yang sungguh sayang sama ibu kandung saya. Kalau enggak percaya silahkan tanya beliau. Walaupun suka galak, saya rela mati demi ibu saya. Akan tetapi, yang membuat saya tergelitik menulis di blog ini karena ternyata kaum wanita itu super penguasa. Kenapa saya bilang begitu?

Coba bayangkan. Sejak era Feminsime berhembus di berbagai belahan dunia, bahkan Indonesia juga punya tokoh Feminis yang super beken yaitu Ibu Kartini, kaum wanita selalu diistimewakan. Enggak percaya? Coba aja lihat, gerbong khusus wanita yang selalu di jaga petugas keamanan. Buat para lelaki jangan harap bisa menginjakkan kaki di gerbong ini. Cuma lewat buat ke gerbong sebelahnya aja langsung diteriakin petugas. Belum lagi soal pekerjaan dan pendidikan yang memang sudah diharuskan menyetarakan kaum pria dan wanita.

Tapi, ada yang lucu disini. Semakin kaum wanita menuntut haknya untuk setara dan akhirnya disetujui oleh warga dunia dan dikukuhkan dalam konsep Feminisme, kenapa pula kaum wanita jadi tampak manja? Seolah-olah berkedok pada pembelaan hak asasi wanita, kaum wanita terkadang seenaknya. Contoh yang jelas nyata di mata saya adalah mengenai perlakuan khusus untuk wanita dengan disediakannya gerbong khusus wanita, tetapi tetap saja tidak memuaskan kaum wanita. Para wanita masih mampu menguasai gerbong-gerbong lain. Termasuk yang membuat saya miris adalah menguasai bangku prioritas yang seharusnya digunakan hanya untuk para prioritas (Ibu Hamil, Ibu membawa Anak, Penyandang Cacat, dan Orang Tua).

Sering saya lihat ibu-ibu atau wanita-wanita muda yang masih sangat sehat bugar, gemuk ginuk-ginuk, duduk dengan santainya di bangku prioritas tanpa mau mengalah dengan para penumpang prioritas. Bahkan mereka pura-pura tidur dan tidak mendengar jika petugas meminta mereka bangun dari bangku tersebut. Ini apa??????? Inikah Feminisme yang disuarakan oleh para wanita? Melegalkan pemahaman Feminisme demi mendapat keuntungan dan fasilitas tambahan?????

Saya memang seorang wanita, sejak lahir saya seorang wanita. Tapi, perlu digaris-bawahi, saya bukanlah wanita penganut Feminisme ataupun Patriaki yang tunduk pada lelaki. Saya tidak ingin bicara gender karena sejatinya gender hanyalah permukaan luar. Pada hakikatnya kita ini sama. Kita ini hanyalah gugusan yang bersatu dan menjelma jadi bentuk yang kemudian disebut Wanita atau Pria. Jadi, jika definisi Feminisme hanyalah sebagai jalan melegalkan hak-hak tambahan di luar hak asasi sebagai manusia, jelas saya tidak setuju.

Karena begini, jika memang seorang wanita menganut Feminisme sesuai konsep kesetaraan gender yang dikobarkan, seharusnya tidak perlu ada gerbong khusus wanita. Biarkan wanita dan pria setara dalam gerbong yang sama. Toh kalau mau bicara mengurangi tindak pelecehan, zaman sekarang bukan hanya wanita yang dilecehkan tetapi juga kaum pria karena makin semaraknya LGBT. Kalau memang membela Feminisme seharusnya tidak perlu ada jatah cuti lahiran, karena kaum pria kan tidak lahiran, jadi kenapa tidak mau setara pula untuk urusan ini?

Akhir kata saya ingin melengkapi bahwa tulisan saya ini bukan untuk mendoktrin apapun. Bukan pula untuk menjatuhkan martabat perempuan. Saya ingin mengajak semuanya berpikir. Feminisme macam apakah yang menjadi keharusan dan mutlak disuarakan? Apakah jenis Feminisme ini yang akan menjamin kesetaran gender? Karena terima atau tidak, pada hakikatnya wanita dan pria itu tidak akan pernah setara sampai kiamat-pun. Komposisi pembentuk wanita dan pria memang sama tapi ada beberapa bumbu yang berbeda. Salah satunya hormon dan juga organ-organ yang jelas tidak sama. Sekarang coba renungkan.

Oke soal setara kedudukan dan hak saya setuju, tetapi jika setara mengharuskan peran laki-laki dimainkan oleh wanita dan peran wanita juga dimainkan oleh laki-laki, apa jadinya dunia ini? Chaos sudah jelas. So, mari kita renungkan bersama mengenai definisi Feminisme yang dihembuskan oleh kaum kapitalis di dunia barat. Jangan-jangan paham Feminisme itu hanyalah alat propaganda agar kita bertengkar dan sibuk dengan kenyataan hidup bahwa sejatinya bukan soal gender yang menjadi masalah utama, tetapi soal yang lebih krusial yaitu kemanusian yang sudah mulai tergerus oleh arus waktu.

Rabu, 27 April 2016

Bicara Sendiri

Yang seharusnya terjadi sejak dulu, tetapi selalu ada alasan untuk bertahan.
Bukan karena ada yang menahan.
Bukan karena ada yang memohon untuk tetap bersama.
Hanya karena alasan yang sama.
Cinta...
Yang pada akhirnya membuat buta dan lupa menghargai waktu.
Waktu yang seharusnya menjadi obat penghilang duka.
Bukannya menjadi alasan untuk membuktikan sesuatu yang tidak perlu.

Semua sudah tidak lagi sama.
Yang ditunggu juga bukan orang yang sama lagi.
Jangan biarkan kesia-siaan bertambah.
Cukup pejamkan mata dan katakan pada diri bahwa tanpanya aku masih mampu bertahan hidup.
Sebab inilah saatnya waktu, MOVE ON....

Rabu, 16 Maret 2016

Homonim Dalam Bahasa Turki dan Bahasa Indonesia

Masih ingat istilah Homonim? Istilah Hominim berasal dari 2 kata yaitu Homo yang artinya Sama dan Nym yang artinya Nama. Jadi, Homonim adalah istilah yang memiliki ejaan yang sama, penyebutan sama, tetapi berbeda makna. Biasanya kata Homonim yang kita pelajari di sekolah berhubungan dengan kedua kata yang berasal dari Bahasa Indonesia. Tapi, di tulisan saya kali ini, akan membahas 2 istilah dalam Bahasa Turki dan Bahasa Indonesia yang sama. Lho? Kenapa Turki?

Haha yeah karena memang saya lagi belajar bahasa Turki. Siapa yang juga lagi belajar bahasa Turki? Pasti kalian yang lagi belajar bahasa Turki tahu donk beberapa kata dalam bahasa Turki serupa bahkan sama dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia. Bahasa Turki itu memang cukup unik. Soal ejaan bahasa Turki memang kelihatannya lebih mudah dibandingkan bahasa asing lainnya kayak Perancis misalnya. Soalnya penyebutan abjad dalam bahasa Turki itu sama dengan tulisannya. Jadi, kita enggak terlalu susah untuk baca setiap suku katanya.

Tapiiii, yang namanya belajar asing tetap aja susah susah gampang. Sudah 20 tahun belajar bahasa Inggris, saya ngerasa grammar saya masih jelek. Apalagi belajar bahasa Turki yang jelas-jelas baru beberapa bulan belakangan. Hah huh huaaahh. Bukan Arya namanya kalau langsung nyerah begitu aja. Saya enggak les kemana-mana, saya cukup perbanyak kenalan orang Turki dan lihat dari situs TurkishClass101.com di Youtube. Lumayannnn lah seenggak-enggaknya saya tahu artinya Merhaba dan Ne Yapiorsun hehehe.

Oke kembali ke Homonim. Dari beberapa bulan belajar bahasa Turki, saya menemukan beberapa kata yang sama di bahasa Indonesia tapi artinya jauuuuhhh banget dan bahkan beberapa itu lucu banget. Ini dia nih beberapa Homonim yang saya temukan :


1. SALAK
Tahu donk apa itu Salak? Salah satu buah kesukaan saya juga hahaha. Yap, dalam bahasa Indonesia Salak memang salah satu keluarga buah-buahan. Rasanya enak dan pastinya sehat. Tapi, tahu enggak Salak dalam bahasa Turki? Artinya BODOH atau IDIOT hahaha. Serius! Saya sampai-sampai pernah ngakak banget karena tahu artinya jomplang banget. Bahkan ade-adean saya yang asli orang Turki hobi banget ngatain saya SALAK kalau saya lagi enggak nyambung. Dia bilang, "Abla Salak!" artinya "Kakak bodoh ih" hahahaha. Jadi kalau ada orang Turki bilang Salak, bukan berarti dia mau kasih buah yah!

2. BEBEK
Nah ini juga lucu banget. Saya tahu istilah Bebek ini dari si Bitanem (ceelah ngomongin mantan wkwwkwkw udah gak usah di bahas!). Dulu waktu saya jadian sama cowok Turki, dia manggil saya Bebek. Otomatis saya langsung marah dan ngatain dia balik Kuda. Tapi, dia bingung apaan tuh Kuda? Hahahaha ternyata dia bukan ngatain saya Bebek atau si binatang yang bunyinya kwek-kwek-kwek. Dia panggil saya BEBEK karena artinya itu baby atau SAYANG. Wtf! Hahahahah jauh banget artinya kan?

3. RESMI
Kalau ini sih seharusnya bukan Homonim kali yah. Soalnya antara tulisan, cara baca dan artinya antara Resmi versi Indonesia dan Turki itu sama. Yah kalau kamu baru jadian sama orang Turki kamu bisa deh publikasi RESMI gede-gede.

4. DEDE
Biasanya kamu panggil adik kamu pakai sebutan apa? Walaupun kata DEDE bukan panggilan baku dalam bahasa Indonesia, rata-rata orang Indonesia pasti panggil adik mereka dengan kata Dede. Tapi, di dalam bahasa Turki DEDE itu usianya jauh banget sama si kakak. Maksudnya???? Yap, kata DEDE digunakan untuk panggilan ke Kakek kita. Hahahahaha. Jadi, jangan panggil Dede ke anak yang lebih kecil kalau kita di Turki yah!

5. BOLU
Siapa yang enggak suka kue BOLU? Walaupun suka bikin seret, tetap saja kue BOLU itu wajib di setiap acara-acara resmi kayak ulang tahun atau arisan. Tapi, di dalam bahasa Turki BOLU itu artinya BANYAK. Jadi, berapa banyak Bolu yang dimakan hari ini? BOLU BOLU hahaha maksudnya BANYAK BOLU. Lol.

6. KONAK
Sumpah ini jorok banget! Hahahahahahaha. Kejadian ini pasti dialamin sama kalian kaum adam. Eitsss. Kalau di Indonesia memang KONAK itu bukan bahasa baku tapi berupa singkatan yang artinya...... (duh enggak sanggup jelasinnya wkwkwkwk) pokoknya kalian ngerti lah yahhh.. Nah kalau di Turki itu artinya rumah besar. Sama-sama besar tapi dengan 2 arti yang berbeda jauh hahahahaha.

7. BERAK
Ini sebenarnya sama sekali enggak sopan tapi kalau saya enggak tulis namanya enggak adil donk, yah enggak. Hahaha BERAK. Woy Berak! Artinya tahu kan? Its mean POOP alias keluarin feces hahahahah tapi dalam bahasa Turki, BERAK itu nama manusia dan artinya JELAS. Bukan JELAS BAU yah hahahhahha. Semoga aja kalau kalian punya teman orang Turki namanya bukan BERAK hahahahha.

Sabtu, 13 Februari 2016

Deadpool : Representasi Manusia Sesungguhnya

Sudah nonton Deadpool? Kalau belum, jangan harap isi tulisan ini seputar review atau resensi film yang baru rilis 2 hari lalu itu di Indonesia. Kalau sudah, yah bagus berarti kita bisa sama-sama ingat setiap detail kejadian film tersebut. Intinya, tulisan ini bukan tentang ulasan film Deadpool. Kalau kamu mau tahu bagaimana sinopsis, rating, atau hal-hal yang berhubungan kisah Deadpool bisa di cari via mbah google, karena saya yakin kalian akan menemukan banyak hal tentang Deadpool.

Deadpool

Saya cuma mau berterima kasih sama Deadpool. Terutama untuk Ryan Reynolds yang sukses membuat semua orang tertawa. Tapi, yang terpenting dari itu semua, Deadpool sukses membuat semangat saya menulis di blog bangkit lagi hehehehe.

Awal rencana, kakak saya mengajak saya menonton film ini sehabis pulang kerja. Berhubung sahabat saya dari kecil kantornya dekat dengan saya dan terkadang kita suka pulang bareng, di tambah kita sudah lama banget enggak nonton bareng, maka saya ajak jugalah si mas bro ini nonton bareng kakak saya. Begitulah hidup. Terkadang kita enggak usah butuh banyak rencana untuk melakukan sesuatu hal. Karena enggak semua yang direncanakan bisa terealisasi. Rencana nonton berdua malah bertiga.

Saya tadinya males banget nonton film ini. Secara saya sedang jenuh dengan segala macem film superhero yang isinya kebanyakan bohongnya. 'save the world' yang selalu diagung-agungkan para tokoh superhero membuat saya sering mencibir dengan fakta bahwa mana ada orang-orang yang ingin menolong seluruh dunia. Itu hanyalah guyonan klasik saja. Siapa sih yang mampu menolong seluruh manusia di dunia? Lagipula kalau diperhatikan seluruh superhero hanya mampu menolong manusia-manusia yang tinggal di Amerika Serikat saja. Jadi tagline 'save the world' buat saya itu basi banget. Tapi, berhubung ngikutin kakak tua yang kepengen nonton film ini, ya sudah saya ikutin. Hitung-hitung acara keluarga. Kita semua punya kesibukan masing-masing dan menyempatkan nonton fim bareng enggak ada salahnya juga.

Sebelum rencana nonton film ini, saya sudah mendengar sedikit tentang Deadpool. Katanya ini film komedi, film konyol, bahkan ada yang bilang kalau Deadpool itu film ngeledek superhero. Enggak penasaran sih tadinya, tapi pas lihat poster yang di pajang di bioskop, saya jadi yakin banget kalau film ini pasti film sampah ahahaha. Bahkan mbak penjual tiketnya bilang kalau film ini khusus dewasa dan jangan ada anak kecil yang nonton. Wah makin-makin deh yakin kalau film ini pasti isinya mesum, jorok, dan enggak jauh-jauh seputar selangkangan dan ciuman enggak habis-habis.

Namun, persepsi saya total langsung kebalik habis nonton film ini.

Sekali lagi, saya enggak akan menulis detail isi filmnya kayak apa. Karena itu hak-nya kalian untuk menyaksikan film dan hak-nya para pembuat film untuk dinikmati hasil karyanya. Tapi, sumpah deh enggak bohong Deadpool itu kerrreeennnn banget menurut saya! Terlepas dari banyak adegan bunuh-bunuhan yang super sadis tapi di kemas kayak lelucon, mirip-mirip film Kingsman, film Deadpool banyak banget nilai moralnya. Mungkin lebih banyak dari film superhero biasanya. Yah, karena memang si Deadpool enggak pernah mengklaim kalau dirinya adalah pahlawan. Jadi, memang film Deadpool sama sekali enggak menceritakan sisi heroik. Tapi, bukan juga pembunuhan tanpa arah kayak film-film sadis yang biasa. Pokoknya buat kalian yang belum nonton, silahkan nonton. Bukan promosi tapi film ini bagus untuk perenungan.

Oke, jadi kenapa saya tulis judul tulisannya begitu? Yah, karena saya melihat banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari tokoh Deadpool. Pria di balik kostum Deadpool yaitu Wade Wilson, punya segudang cerita kehidupan, sama seperti halnya kita semua. Ia punya masalah dan mengalami juga yang namanya putus asa. Ia juga salah jalan dan melakukan banyak kesalahan. Pokoknya Wade Wilson a.k.a Deadpool yang diperankan oleh Ryan Reynolds ini jauh dari kata sempurna. Yah, meskipun tadinya secara fisik dia ganteng dan super keren, tetap saja pekerjaan kotor dia sama sekali bukan sesuatu yang membanggakan. Di tambah lagi kisah asmaranya. Kekasihnya bukan wanita baik-baik, wanita terhormat, cantik jelita, baik hati dan lembut, atau bahkan berpendidikan tinggi. Pacar Wade Wilson, Vanessa, adalah PSK. Tetapi, mereka berdua so sweet setengah mati. Sumpah deh mereka serasi banget. Mulai dari selera humornya yang penuh kata-kata sampah, sampai visi dan misi kehidupan mereka. Mereka berdua juga saling mencintai. Benar-benar saling mencintai tanpa alasan karena masing-masing membanggakan. Justru cinta mereka terlihat jelas karena keduanya saling menerima kekurangan masing-masing. Pokoknya 100 jempol deh untuk pasangan ini.

Oh ya, bicara soal kata-kata sampah, film Deadpool 1000% isinya kata-kata sampah. Beneran! Segala macem yang jorok-jorok dibicarain. Bahkan kesannya kayak enggak ada isinya. Eitsss, tapi jangan nilai dari kelihatannya dulu. Coba cerna lebih jauh. Semua yang diomongin sama Wade Wilson memang humor kasar banget. Tapi, asli dia lucu banget! Tadinya sempet mikir film ini enggak jauh beda sama film The Interview hehehe. Tapi, The Interview sih memang sampah beneran karena isinya cuma ngebuli, penuh adegan mesum, bahkan enggak jelas arahnya mau kemana. Film Deadpool? Enggak kayak gitu. Meski si Wade Wilson ngomongnya jorok, dia dan Vanessa bahkan enggak pernah ada adegan buka baju di ranjang. Mereka berdua lebih banyak ngobrol dan ngomongin kehidupan. Lebih manusiawi enggak sih? Enggak semata-mata menonjolkan animal instinct yang bentar-bentar begituan. Jadi, bisa di bilang, film ini sama kayak peribahasa 'Mutiara Dalam Lumpur' mungkin sedikit diubah menjadi 'Mutiara Dikemas Sampah' hahhaha.

Kebanyakan film superhero itu mencontek kisah Cinderella. Upik abu yang pada akhirnya jadi Ratu istana. Lihat saja, si cupu Clark Kent yang menjadi Superman, terus cowok cupu lainnya Peter Parker yang bisa menjadi Spiderman gara-gara laba-laba, Captain America juga tadinya nothing, dan sederet superhero lainnya yang inti ceritanya adalah 'yang tadinya bukan siapa-siapa, bisa menjadi siapa-siapa'. Benar-benar menonjolkan American dreaming banget. Sedangkan Deadpool? Jelas dia manusia biasa meskipun dia sudah punya kekuatan super. Mimpinya juga sederhana, jauh dari menyelamatkan dunia. Deadpool cukup menyelamatkan dirinya dan kembali menjadi pria tampan.