Jumat, 17 Juni 2016

Kekuatan Wanita dan Jatah Tempat Duduk Commuter Line

Hari ini seperti biasa, saya naik commuter line. Pemandangan yang saya lihat memang seperti biasa. Penuh, sesak, kadang ngetem, tertahan sekian lama di satu stasiun, dan lain sebagainya. Hal-hal itu sangat biasa terjadi. Saking biasanya, sampai-sampai saya bosan mengamati setiap detailnya.

Namun, ada yang berbeda pada hari ini. Bukan karena ada pemandangan baru atau karena tiba-tiba saya tabrakan dengan calon suami saya (ehm!) si Chris Evans hahahaha. Tapi, karena hari ini saya akhirnya mengamati satu hal. Satu hal yang langsung menjungkir balikan pandangan saya terhadap kaum perempuan.

Ada 5 orang wanita di waktu yang berbeda masuk di gerbong yang sama dengan saya. Hanya 2 orang dari mereka yang membawa anak. Tapi, entah mengapa daya magis mereka mampu membuat pria yang sedang asyik duduk di gerbong commuter line sambil dengerin musik, tiba-tiba melonjak dan mempersilahkan mereka duduk. Beberapa dari mereka setelah saya amati seakan sengaja pilih berdiri di depan pria. Kelima wanita ini saya pastikan adalah ibu-ibu dan kekuatan mereka (entah dengan tampang memelas atau sorot mata memohon ke arah target mereka yang sedang duduk) langsung membuat para pria tersebut mengalah. Dalam hati saya tepuk tangan. Sungguh saya ingin belajar kekuatan telepati macam begitu.

Tulisan ini bukan karena saya penganut sistem Patriaki. Sungguh bukan bermaksud menyudutkan gender tertentu atau tidak hormat pada kaum ibu. Karena saya pribadi adalah seorang anak yang sungguh sayang sama ibu kandung saya. Kalau enggak percaya silahkan tanya beliau. Walaupun suka galak, saya rela mati demi ibu saya. Akan tetapi, yang membuat saya tergelitik menulis di blog ini karena ternyata kaum wanita itu super penguasa. Kenapa saya bilang begitu?

Coba bayangkan. Sejak era Feminsime berhembus di berbagai belahan dunia, bahkan Indonesia juga punya tokoh Feminis yang super beken yaitu Ibu Kartini, kaum wanita selalu diistimewakan. Enggak percaya? Coba aja lihat, gerbong khusus wanita yang selalu di jaga petugas keamanan. Buat para lelaki jangan harap bisa menginjakkan kaki di gerbong ini. Cuma lewat buat ke gerbong sebelahnya aja langsung diteriakin petugas. Belum lagi soal pekerjaan dan pendidikan yang memang sudah diharuskan menyetarakan kaum pria dan wanita.

Tapi, ada yang lucu disini. Semakin kaum wanita menuntut haknya untuk setara dan akhirnya disetujui oleh warga dunia dan dikukuhkan dalam konsep Feminisme, kenapa pula kaum wanita jadi tampak manja? Seolah-olah berkedok pada pembelaan hak asasi wanita, kaum wanita terkadang seenaknya. Contoh yang jelas nyata di mata saya adalah mengenai perlakuan khusus untuk wanita dengan disediakannya gerbong khusus wanita, tetapi tetap saja tidak memuaskan kaum wanita. Para wanita masih mampu menguasai gerbong-gerbong lain. Termasuk yang membuat saya miris adalah menguasai bangku prioritas yang seharusnya digunakan hanya untuk para prioritas (Ibu Hamil, Ibu membawa Anak, Penyandang Cacat, dan Orang Tua).

Sering saya lihat ibu-ibu atau wanita-wanita muda yang masih sangat sehat bugar, gemuk ginuk-ginuk, duduk dengan santainya di bangku prioritas tanpa mau mengalah dengan para penumpang prioritas. Bahkan mereka pura-pura tidur dan tidak mendengar jika petugas meminta mereka bangun dari bangku tersebut. Ini apa??????? Inikah Feminisme yang disuarakan oleh para wanita? Melegalkan pemahaman Feminisme demi mendapat keuntungan dan fasilitas tambahan?????

Saya memang seorang wanita, sejak lahir saya seorang wanita. Tapi, perlu digaris-bawahi, saya bukanlah wanita penganut Feminisme ataupun Patriaki yang tunduk pada lelaki. Saya tidak ingin bicara gender karena sejatinya gender hanyalah permukaan luar. Pada hakikatnya kita ini sama. Kita ini hanyalah gugusan yang bersatu dan menjelma jadi bentuk yang kemudian disebut Wanita atau Pria. Jadi, jika definisi Feminisme hanyalah sebagai jalan melegalkan hak-hak tambahan di luar hak asasi sebagai manusia, jelas saya tidak setuju.

Karena begini, jika memang seorang wanita menganut Feminisme sesuai konsep kesetaraan gender yang dikobarkan, seharusnya tidak perlu ada gerbong khusus wanita. Biarkan wanita dan pria setara dalam gerbong yang sama. Toh kalau mau bicara mengurangi tindak pelecehan, zaman sekarang bukan hanya wanita yang dilecehkan tetapi juga kaum pria karena makin semaraknya LGBT. Kalau memang membela Feminisme seharusnya tidak perlu ada jatah cuti lahiran, karena kaum pria kan tidak lahiran, jadi kenapa tidak mau setara pula untuk urusan ini?

Akhir kata saya ingin melengkapi bahwa tulisan saya ini bukan untuk mendoktrin apapun. Bukan pula untuk menjatuhkan martabat perempuan. Saya ingin mengajak semuanya berpikir. Feminisme macam apakah yang menjadi keharusan dan mutlak disuarakan? Apakah jenis Feminisme ini yang akan menjamin kesetaran gender? Karena terima atau tidak, pada hakikatnya wanita dan pria itu tidak akan pernah setara sampai kiamat-pun. Komposisi pembentuk wanita dan pria memang sama tapi ada beberapa bumbu yang berbeda. Salah satunya hormon dan juga organ-organ yang jelas tidak sama. Sekarang coba renungkan.

Oke soal setara kedudukan dan hak saya setuju, tetapi jika setara mengharuskan peran laki-laki dimainkan oleh wanita dan peran wanita juga dimainkan oleh laki-laki, apa jadinya dunia ini? Chaos sudah jelas. So, mari kita renungkan bersama mengenai definisi Feminisme yang dihembuskan oleh kaum kapitalis di dunia barat. Jangan-jangan paham Feminisme itu hanyalah alat propaganda agar kita bertengkar dan sibuk dengan kenyataan hidup bahwa sejatinya bukan soal gender yang menjadi masalah utama, tetapi soal yang lebih krusial yaitu kemanusian yang sudah mulai tergerus oleh arus waktu.