Jumat, 23 November 2018

Aroma Karsa "JIPLAK" Perfume: The Story of Murderer?

Saya tahu, kata "JIPLAK" memang terdengar kasar disematkan kepada salah satu karya fenomenalnya mbak Dewi Lestari yaitu Aroma Karsa. Dee, nama pena mbak Dewi Lestari, memang selalu menyumbangkan ide-ide segar ke dalam dunia sastra Indonesia. Saya termasuk salah satu penikmat karya-karyanya. Sebut saja Filosofi Kopi dan Madre yang sukses membuat saya jatuh hati. Aroma Karsa sebagai karya terbaru Dee yang kemudian langsung laris manis di berbagai toko buku kesayangan anda, juga habis saya lahap dalam waktu satu hari saja. Buku setebal ratusan halaman itu membuat saya begitu penasaran dengan kisah akhir Jati Wesi dan Tanaya Suma yang penuh lika-liku. Aroma Karsa menjadi salah satu buku favorit saya.




Kemudian semuanya berubah saat saya dengan tanpa sengaja mencari-cari film untuk saya tonton di malam minggu. Sebagai pelajar perantauan di luar negeri, salah satu cara mengusir rasa kesepian memang dengan menonton film dan kemudian jalan takdir membawa saya menemukan sebuah film luar biasa berjudul Perfume: The Story of Murderer. Film ini bukan film baru tetapi dirilis pada tahun 2006 berdasarkan sebuah novel berjudul sama karya Patrick Süskind pada tahun 1985. Bintang utamanya adalah Ben Whishaw yang sukses membawa peran Jean-Baptiste Grenouille menjadi central di kisah ini. Ben juga pernah berperan di dalam film ikonik lainnya yaitu Cloud Atlas yang sukses membuat pikiran saya jungkir balik.




Setelah setengah jam pertama menonton film ini, pikiran saya langsung tertuju pada novel Aroma Karsa karya Dee. Meski tidak 100% mirip, tema besar keduanya sangat serupa. SANGAT AMAT SERUPA. Kenapa saya tulis besar-besar? Karena memang buku Aroma Karsa terasa menjiplak buku karya penulis Jerman itu. Saya tahu mungkin kalimat saya ini akan membuat mbak Dee, mas Reza atau barangkali pembaca setianya tersinggung. Tapi, bukankah kritikan itu terkadang baik demi membangun kreatifitas? Dan saya rasa penulis atau apapun profesinya, jika ingin menjadi besar haruslah hidup dalam kritikan. Agar kita menjadi tahu kapasitas kita sampai dimana dan tidak gampang terlena dengan pencapaian yang kita dapatkan. Setuju? Jika setuju mari kita simak beberapa penemuan saya.

1. Berkisah Tentang Indera Penciuman
Dalam salah satu wawancara yang dilakukan, Dee menuturkan bahwa ia tertarik membahas seputar dunia indera penciuman karena penciuman merupakan indera pertama yang terbentuk saat kita masih berupa janin. Akan tetapi, seiring berkembangnya evolusi, manusia tidak lagi mengandalkan kemampuannya itu dan menggantikannya dengan indera-indera lainnya. Hal serupa juga dijelaskan dalam kisah Perfume. Novelis asal Jerman itu memilih untuk mengisahkan tokoh utamanya memiliki anugerah istimewa karena memiliki penciuman yang dapat membaui ratusan bahkan jutaan bau berbeda. Kemampuannya itu juga dapat mendeteksi bahaya yang mungkin dihadapinya. Oke sampai sini mungkin kalian akan langsung menyanggah bahwa tema besar mungkin bisa saja serupa. Sebut misalnya karya ajaib J.R.R Tolkien yaitu trilogi The Lord of The Rings dan karya C.S. Lewis yaitu The Chronicles of Narnia yang mengambil tema mitologi dan peradaban manusia. Kedua sahabat itu memang menulis dalam tema besar yang serupa tetapi sudut pandangnya berbeda. Jika Lewis lebih fokus kepada kisah anak-anak lain halnya dengan Tolkien yang bukunya digemari sampai kaum lansia. Intinya tema besar boleh serupa tetap sudut pengambilan cerita janganlah sampai sama. Apalagi novelis sekelas mbak Dee.

2. Tokoh Utamanya
Nama Jati Wesi langsung popular di kalangan kepolisian setempat setelah berhasil mengungkap kasus kematian salah satu penghuni Bantar Gebang. Setelah kasus itu, Jati mendapat julukan si Hidung Tikus karena keistimewaan hidungnya. Jati adalah seorang pemuda yatim piatu yang hidup menggembel sejak dilahirkan. Kemampuannya yang kemudian merubah nasib Jati Wesi. Begitupula dengan tokoh dalam kisah Perfume: The Story of Murderer, Jean-Baptiste Grenouille adalah seorang pemuda miskin yang hidup sebatang kara. Merasa memiliki kemampuan yang berbeda, Jean-Baptiste tidak terima dengan hidupnya. Ia mencari kesempatan untuk membuktikan penciumannya itu pada seorang perfumer terkenal Perancis.
Antara Jati Wesi dan Jean-Baptiste memiliki kesamaan menonjol. Selain karena keduanya memiliki nama berawalan "J" dengan 4 suku kata, keduanya juga lahir di tempat kumuh. Jati Wesi lahir di tempat pembuangan sampah Bantar Gebang dan Jean-Baptiste lahir di pasar ikan, Paris. Kedua tempat itu di klaim sebagai tempat terbau yang pernah ada. Berbagai macam bau itu yang menyebabkan Jati Wesi dan Jean-Baptiste terbiasa akan banyak bau dan melatih penciuman mereka menjadi sangat tajam. Keduanya juga sama-sama memiliki khayalan untuk meninggalkan tempat kumuhnya agar memiliki kesempatan untuk menghirup segala jenis bau yang ada di dunia.

3. Parfum Sebagai Jalan Menuju Perubahan
Kemampuan Jati Wesi akhirnya menarik Raras Prayagung, pemilik merek kecantikan terkenal untuk mempekerjakannya di dalam laboratoriumnya. Ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajar ke Grasse, Perancis untuk mendapatkan sertifikat peracik parfum kelas dunia atas rekomendasi langsung dari Raras. Agak sedikit berbeda dari Jati, Jean-Baptiste justru menawarkan keahliannya itu kepada salah satu perfumer terkenal Perancis yang sudah tidak naik daun, Giuseppe Baldini. Dengan berani Jean-Baptiste memperbaiki parfum-parfum yang ada menjadi sebuah aroma yang luar biasa. Rasa penasarannya pada mempertahankan aroma, yang membuatnya ingin belajar ke Grasse. Atas rekomendasi Baldini, Jean-Baptiste juga pergi ke Grasse.
Kedua kisah diatas memiliki materi yang serupa, dunia parfum menjadi jalan merubah hidup seseorang. Kenapa mbak Dee???? Kenapa kau pilih parfum juga sebagai penghubung tema dan jalan cerita???? Alangkah elegannya jika Dee mencari kisah lain seperti misalnya 'makanan'? Bukankah hidung kita juga memiliki andil sangat besar dalam menentukan makanan yang kita pikir enak? Sebelum kita menggunakan indera pengecap untuk merasakan, kita menggunakan indera penciuman kita untuk membaui. Ahhh ini dia bau rendang, ah ini dia bau soto mie, ah ini dia bau ini.... dan sebagainya sampai kemudian kita menciptakan khalayan dalam alam bawah sadar kita lalu menggiring kita pada rasa lapar atau air liur mengalir.
Saya kemudian berpikir, seandainya saja Jati Wesi adalah pemuda miskin yang punya penciuman tajam itu punya cita-cita untuk membaui makanan enak dari seluruh dunia karena rasa dendamnya pada hidupnya yang tidak pernah makan enak. Lalu Raras yang punya rumah makan kelas dunia tertarik pada kemampuannya dan 'memanfaatkannya' untuk mencari bahan yang dapat membuat bumbu dari segala makanan. Bumbu itu akan membuat semua orang takluk dan dunia akan menjadi milik Raras. Seandainya mbak Dee kamu menulis dari sudut pandang lain, bukan parfum.

4. Tentang Ambisi
Kalau kalian sudah pernah membaca bukunya Patrick Süskind atau menonton versi filmnya, kalian akan tahu bahwa tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Jean-Baptiste memiliki ambisi yang sangat besar di dalam dirinya. Ia ingin menciptakan parfum yang akan dikenang sampai akhir hayat. Parfum yang membuat siapapun akan takluk dan bertekuk lutut. Tiga notes parfum yang menjadi ambisi Jean-Baptiste itu merupakan pemujaan, sensualitas dan abadi dalam kenangan. Jean berhasil merealisasikan ambisinya setelah melakukan banyak pembunuhan. Ia sendiri tidak menyadari betul jika perbuatannya itu salah. Sebagai pria miskin yang tidak sekolah dan hidup menyedihkan sejak dilahirkan, ia tidak memiliki gambaran tentang benar dan salah. Ini wajar. Sifat inilah yang membuat ia nampak manusiawi.
Lain halnya Jati Wesi si tokoh utama dalam kisah Aroma Karsa. Jati memang bukan manusia biasa, ia semacam dewa atau makhluk halus apapun namanya itu. Karena hal inilah pembawannya jadi berbeda. Ia cenderung kalem dan masih tampak mempesona dalam pakaian sederhana sekalipun. Namun, inilah yang membuat karakter Jati Wesi jadi tidak rasional. Meskipun Jati memang bukan manusia biasa, tetapi ia sudah masuk ke alam manusia dan hidup bersama manusia, terlebih lagi hidup di tempat pembuangan akhir sampah-sampah dari kota besar. Bisa dibayangkan betapa kerasnya hidup disana? Sedikit banyak itu pasti merubah karakter si makhluk halus bernama Randu (Jati) ini. Ambisi justru datang dari Raras. Wanita kaya raya itu memiliki ambisi yang menurun dari neneknya yaitu Janirah.
Dalam hal ini, Dee memang membuat pembeda yang baik, saya akui itu. Tetapi, kemudian kembali lagi keduanya punya nilai yang sama. Apa itu? Ambisi dapat menghancurkan segalanya. Jean-Baptiste menyadari kehampaan luar biasa tatkala ia menuntaskan ambisinya, sedangkan Raras tewas begitu saja akibat ambisinya. Kedua kisah ini seputar ambisi yang bersumber pada keserakahan teramat besar. Jean yang menjadi amat serakah untuk membaui apa saja dan Raras yang serakah karena doktrin neneknya.

5. Inti dari Semuanya, Perempuan
Jika kalian mencari sebab dari pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Jean-Baptiste, kalian pasti tahu bahwa hal itu diawali karena seorang perempuan. Jean-Baptiste yang saat itu baru melihat dunia luar merasa terkagum-kagum dengan segala jenis aroma yang ada dari berbagai sudut kota. Penciuman tajamnya kemudian menangkap aroma Feromon yang membuatnya penasaran. Sumber dari bau yang membuatnya tergila-gila ternyata adalah aroma seorang gadis berambut merah penjual jeruk. Jean-Baptiste sedang merasakan sensualitas terbesar dalam hidupnya tapi ia tidak menyadarinya. Ia hanya tahu harus menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh si gadis. Perempuan telah membuatnya berambisi untuk menciptakan sebuah bau yang dapat memuaskan dahaga dirinya.
Begitu juga yang terjadi di dalam lika-liku kisah kehidupan Prayagung. Janirah yang merasa hidup miskinnya harus dihentikan, mulai membangun mimpinya sejak kecil. Kekayaannya kemudian menurun kepada cucunya, Raras yang juga perempuan. Bahkan Raras pun kemudian mengadopsi anak perempuan bernama Tanaya Suma. Suma jelas bukan perempuan biasa tetapi keturunan dari Puspa Karsa, seorang dewi yang pernah diperistri oleh Raja Majapahit, Mahesa Guning. Disini mungkin perbedaan antara Aroma Karsa dan 
Perfume: The Story of Murderer terlihat. Dee mencampur kisahnya dengan legenda dan penemuan arkeologi, sedangkan Süskind lebih mengutamakan sentuhan realisme. Meskipun sekali lagi dalam pandangan saya, keduanya memiliki roh yang sama yaitu perempuan. Dalam wujud seorang wanita, Mahesa Guning takluk dan tak berdaya. Begitu juga Jean-Baptiste yang tak kuasa menahan pikat feromon wanita.


Kesimpulan
Setelah membaca tulisan saya ini, mungkin sebagian dari kalian akan menentang habis-habisan atau mungkin juga sejalan dengan pendapat saya ini. Intinya bukan ingin menggurui mbak Dee yang sudah diacungi  empat jempol kredibilitasnya sebagai penulis yang pandai menghidupkan sebuah kisah, sedangkan saya siapa sih? Kritik saya kepada karya mbak Dee semoga membuat mbak Dee lebih cermat dalam meramu sebuah ramuan kisah yang mempesona pembaca. Begitu saja, semoga kita semua bisa terus berkarya dan melakukan hal-hal yang membawa kebaikan untuk dunia. Semoga semua makhluk berbahagia.

Salam dari Turki.

Jumat, 28 September 2018

Kurang Terkenal, Ini Dia Fakta Tentang Kota Tekirdağ di Turki

Apa yang terlintas dalam benak kalian jika mendengar nama negara Turki disebut? Ottoman, Hagia Sofia, Keindahan Istanbul, atau mungkin ibukota Ankara? Turki bukan hanya seputar Istanbul atau Ankara, ada banyak sekali kota-kota indah yang sudah menunggu di kunjungi. Salah satunya Tekirdağ.

Terletak di sebelah barat Istanbul bagian Eropa, Tekirdağ adalah salah satu dari empat kota yang terletak di Turki bagian Eropa. Walaupun bersebelahan dengan Istanbul, tidak menjadikan Tekirdağ sebagai destinasi favorit bagi travelers mancanegara yang berkunjung ke Turki. Meski demikian, bagi kalian yang akan berkunjung ke Turki tidak ada salahnya jika memasukan nama Tekirdağ ke dalam list perjalanan selanjutnya. Berikut beberapa fakta menarik tentang kota Tekirdağ.

Menikmati Pemandangan Laut Selama 24 Jam Secara Gratis
Salah satu yang menjadi kelebihan negara Turki adalah para penduduk ataupun turis dapat menikmati keindahan laut selama 24 jam tanpa harus membayar. Hal itu dikarenakan letak negara Turki yang berbatasan dengan 4 laut yaitu Laut Hitam, Laut Mediterania, Laut Agea, dan Laut Marmara. Wilayah Tekirdağ sendiri berbatasan langsung dengan Laut Marmara. Dari ibukota Süleymanpaşa kita bisa berjalan-jalan disepanjang pinggir laut ataupun melakukan aktivitas lainnya seperti menggendarai sepeda lho.

Dok. Pribadi

Nongkrong di Kafe Pinggir Laut
Turki berada di urutan ketiga setelah China dan India sebagai negara pengkonsumsi teh terbesar di dunia. Menurut data dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), setiap orang di Turki dapat mengkonsumsi teh sebanyak 3 kg per tahun! Budaya minum teh ini sudah turun temurun di Turki dan sampai sekarang menjadi bagian dari kegiatan kehidupan masyarakat Turki seperti halnya di Tekirdağ. Menikmati senja sambil minum teh Turki di kafe pinggir laut memang tiada duanya!

Dok. Pribadi

Kental Budaya Eropa
Turki memang bukan negara sekuler seperti dahulu. Di Turki saat ini penganut agama Islam sudah dapat mengenakan hijab sesuai pilihan mereka. Akan tetapi budaya sekuler Turki masih terasa kental dan tidak bisa lepas begitu saja dari kehidupan masyarakatnya. Dibandingkan dengan beberapa Turki bagian timur atau selatan, masyarakat Turki bagian barat salah satunya Tekirdağ tampak lebih bebas dalam urusan pakaian atau gaya hidup seperti misalnya minum alkohol. Tidak seperti kota lain misalnya Sakarya, di Tekirdağ minum alkohol adalah hal lumrah. Di sini alkohol di jual bebas di mini market ataupun kafe pinggir jalan sekalipun.


Dok. Pribadi

Penghasil Arak dan Anggur Terbaik
Dalam sebuah kontes Turkish National Drink, para ahli cita rasa (Connaisseurs) menyebut arak dan anggur yang di produksi di Tekirdağ adalah yang terbaik. Selain itu, perbukitan di barat daya Tekirdağ memasok 40% dari produksi anggur tahunan Turki. Untuk para pecinta wine tidak ada salahnya mencicipi anggur Tekirdağ kalau kalian jalan-jalan ke Turki!

Üçmakdere Sebuah Surga di Tekirdağ
Kalau pergi ke Tekirdağ jangan lupa mampir ke Üçmakdere. Terletak di distrik Şarköy, Üçmakdere adalah sebuah destinasi menarik jika kalian ingin melihat keindahan laut Marmara yang membentang dari atas bukit. Selain terdapat pantai indah yang sunyi di muara tebing, bagian bukit yang menjulang tinggi dan berangin biasa digunakan oleh para penyuka olahraga Paralayang. Dari pusat kota perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit dan sayangnya Üçmakdere hanya dapat diakses oleh kendaraan pribadi. Jalan yang berkelok-kelok melewati pinggir jurang menambah keseruan perjalanan menuju Üçmakdere. Akan tetapi, rasa tegang akibat melewati banyak jurang langsung terbayarkan saat menemukan surga kecil di provinsi bernama Tekirdağ.

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Nah, setelah tahu provinsi Tekirdağ apakah kalian tertarik untuk berkunjung? Karena Turki bukan hanya Istanbul atau Ankara, arkadaşlar!

Senin, 16 Juli 2018

Bekasi: Dulu di bully, kini di nanti


Terletak di dekat ibukota Jakarta dan merupakan kota strategis bagi para pembisnis untuk mengembangkan usaha, Bekasi justru tidak lepas dari berbagai ejekan. Kalau kita buat survei statistik, mungkin Bekasi menjadi wilayah paling ter-bully di urutan nomor pertama di Indonesia bahkan mungkin di Dunia. Sebagai anak kelahiran Bekasi yang ari-arinya di tanam di halaman rumah di Bekasi, saya kadang harus sewot melawan ejekan teman-teman ketika beberapa tahun silam Bekasi ramai dibuat bahan guyonan. Terletak di luar planet, lokasi lebih jauh dari bulan, atau harus menggunakan paspor jika ingin pergi ke Bekasi, bully-an tentang kota Bekasi sudah jadi makanan sehari-hari bagi para penduduk Bekasi. Bahkan beberapa kali masa-masa PDKT gagal akibat lokasi rumah di Bekasi. Sungguh hidup di Bekasi tampaknya berat sekali.

Selain terkenal karena menjadi objek empuk untuk di bully, Bekasi sudah terkenal karena Bantar Gebang yang sukses membuat orang memandang sebelah mata Bekasi. Tempat sampah, bau menyengat, jorok dan hinaan lain untuk Bantar Gebang menjadi lumrah dibicarakan. Bantar Gebang adalah sebuah kecamatan yang terdiri dari 4 kelurahan yaitu Bantargebang, Cikiwul, Ciketing Udik, dan Sumur Batu. Kecamatan ini merupakan tempat penampungan sampah akhir yang menjadi tempat utama pembuangan sekitar 6.500 ton sampah per hari dari seluruh wilayah Jakarta. Karena hal ini, Bantar Gebang sebaiknya tidak di bully tetapi justru di apresiasi tinggi karena berjasa menjadi tempat yang mampu mengolah limbah.

Bekasi terdiri dari dua wilayah pemerintahan yaitu Kota dan Kabupaten. Kota Bekasi sendiri saat ini ditinggali lebih dari 2,2 juta jiwa yang tersebar di 12 kecamatan, yaitu Kecamatan Pondok Gede, Jati Sampurna, Jati Asih, Bantar Gebang, Bekasi Timur, Rawa Lumbu, Bekasi Selatan, Bekasi Barat, Medan Satria, Bekasi Utara, Mustika Jaya, dan Pondok Melati. Julukan untuk Kota Bekasi yang merupakan kota satelit untuk Ibukota Jakarta sebenarnya adalah Kota Patriot. Dikutip dari laman Pikiran Rakyat, Budayawan Bekasi Ali Anwar mengatakan, julukan kota patriot disematkan karena daerah tersebut sempat menjadi medan pertempuran yang membuat penjajah gentar di massa perang, selepas perang Indonesia merdeka pada 1945. Kala itu, daerah tersebut yang merupakan bagian dari Kawedanan Jatinegara, Karesidenan Batavia yang menjadi lokasi penting pertahanan Indonesia dari upaya Sekutu yang ingin menguasai Jawa Barat melalui jalur pantai utara. Latar belakang kota Bekasi sebagai wilayah yang mempertahankan kemerdekaan tanah air Indonesia tentu memberikan aura semangat penuh perjuangan. Jangan hanya menjadi sebuah bagian kisah sejarah akan tetapi kontribusi Bekasi harus tetap di pertahankan sebagai cerminan identitas Indonesia. Salah satunya dengan menjadi bagian dari Asian Games 2018.

Asian Games (atau Asiad/Asia dan Olimpiade) adalah sebuah ajang olahraga yang diselenggarakan setiap empat tahun untuk mempertemukan atlet-atlet profesional dari seluruh Asia dalam pertandingan dari berbagai cabang olahraga. Asian Games merupakan salah satu simbol kebersamaan negara-negara di Asia. Setelah Perang Dunia II dimana kompetisi ini sebagai tonggak kekuasaan Asia yang tidak ditunjukkan dengan kekerasan dan diperkuat dengan saling pengertian. Asian Games di inisiasi oleh Guru Dutt Sondhi pada tahun 1948 yang saat itu merupakan perwakilan Olimpiade di London. Dan pada Februari 1949, federasi atletik Asia terbentuk dan menggunakan nama FederasiAsian Games (Asian Games Federation) yang kemudian disepakati untuk mengadakan Asian Games pertama pada 1951 di New Delhi, India.

Indonesia sendiri sudah menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962 dan kini di tahun 2018, negara kita untuk kedua kalinya akan menjadi tuan rumah dari perhelatan bergengsi di Asia tersebut. Jakarta dan Palembang menjadi dua kota yang akan menjamu para atlet profesional dari seluruh Asia. Ada lebih dari 40 cabang olahraga yang diikutsertakan dalam ajang ini. Dimana salah satunya adalah sepak bola. Berbicara mengenai sepak bola tentu cabang olahraga ini memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia. Penggemar sepak bola tidak mengenal usia, suku, agama, ras dan budaya. Semua orang lebur menjadi satu manakala membela tim tanah air. Yang menarik adalah timnas sepak bola wanita Indonesia memulai debut di pesta olahraga ini.

Kota Bekasi memang tidak disebut-sebut sebagai tempat berlangsungnya Asian Games 2018, tetapi faktanya Bekasi akan berkontribusi langsung untuk ajang yang di mulai tanggal 18 Agustus 2018 ini lho. Dukungan ini berupa penyelenggaraan cabang olahraga sepak bola di Stadion Patriot Candrabaga. Stadion sepak bola kebanggaan orang Bekasi ini akan menjadi kandang Tim Nasional Indonesia U23 dalam ajang penyisihan grup cabang olahraga Asian Games 2018. Tergabung di Grup A, Indonesia akan bersama Hong Kong, Laos, dan Taiwan. Selain Grup A, stadion berkapasitas 30 ribu penonton itu juga akan menampung laga dari Grup B yang terdiri dari Thailand, Uzbekistan, Bangladesh, dan Qatar. Tak hanya stadion dari kota Bekasi saja yang menjadi area pertandingan akan tetapi stadion Kabupaten Bekasi yaitu Wibawa Mukti juga akan menjadi bagian dari perhelatan cabang sepak bola Grup D yang akan diisi oleh Jepang, Vietnam, Pakistan, dan Nepal.

Demam Asian Games juga sudah terasa sejak berbulan-bulan lalu. Bahkan di PILKADA tahun ini yang berlangsung bulan Juni silam, TPS (Tempat Pemungutan Suara) di daerah Kranji membuat dekorasi Asian Games 2018 agar lebih semangat ‘membobol’ kertas suara.

Meski tidak disebutkan secara langsung sebagai tempat diadakannya Asian Games 2018, Bekasi tetap akan menjadi sorotan dunia Internasional. Hal ini menjadi keuntungan bagi pemerintah Bekasi dalam mempromosikan wilayahnya kepada dunia. Selain euforia, semangat untuk mendukung acara ini berlangsung harus mulai disebarkan. Tinggal menghitung hari pembukaan kompetisi se-Asia ini, sebagai warga Bekasi kita harus berpartisipasi dalam menyukseskan acara dengan di mulai dari cara-cara sederhana seperti, kita bersama-sama menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, menghindari aksi vandalisme, waspada dengan menjaga keamanan pada aksi kejahatan sekecil apapun. Semoga ajang Asian Games 2018 berjalan sukses dan Bekasi mendapatkan kehormatannya kembali.

Sabtu, 14 Juli 2018

Q&A : #TanyaTurkiAryaAbla



Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, antara menulis dan mood sangat berkaitan. Memaksa menulis tanpa disertai mood menulis pasti hasilnya tidak memuaskan. Seperti ibaratnya orang menikah tapi tidak disetujui keluarga pasti nikahnya juga gak bikin bahagia. Analoginya mesti banget yah pernikahan? Ntar baper kan -_-

Jadi begini beberapa waktu lalu saya membuka Q&A di story Instagram tentang kehidupan atau kuliah di Turki. Pertanyaan yang paling kreatif dan ngeselin akan saya tulis di blog tapi berhubung saya kena penyakit tak terduga akhirnya mood menulis lenyap sudah.

Sebenarnya bukan penyakit tak terduga sih. Penyakit terduga banget karena ketika di Turki saya sudah merasakannya. Tenang bukan penyakit parah kok haha. Penyakitnya namanya Mata Ikan. Saya juga baru tahu namanya Mata Ikan setelah keluar tambah banyak. Awalnya hanya muncul satu biji di telapak kaki kanan di bawah jari manis. Munculnya juga enggak sadar kapan yang jelas kenapa kalau jalan kok sakit. Terus akhirnya waktu sampai Indonesia dan setelah hari Lebaran kalau enggak salah ingat, saya iseng aja refleksi kaki karena di kamar ada injek-injekkan buat refleksi gitu. Eh si benda yang saya kira bentol ini kenapa makin sakit terus hampir separuh atas kaki atas tumbuh bentol serupa. Akhirnya saya cari-cari di Google ternyata namanya Mata Ikan. Karena sotoy dan enggak mau operasi akhirnya saya ceritanya punya ide brilian ngerendem kaki di air garam. Beberapa hari rendeman bukannya sembuh malah makin parah. Alhasil nyerah terus minta salep racikan ke Apotek. Salepnya bikin gatel bok! Tapi tuh si Mata-Mata (bukannya Agen Rahasia yakh) akhirnya gosong di dalam gitu warnanya langsung berubah hitam. Terus setelah cari-cari informasi tambahan katanya minum Kapsida bisa sembuh, saya pun ikutan minum Kapsida. Berhubung pakai salep Apotek gatelnya minta ampun dan gak ngelupas-ngelupas si kulit telapak kaki akhirnya saya beli Callusol katanya mujarab buat Mata Ikan. Dan beneran lho! Beberapa hari sudah ngelupas kulitnya dan sampai hari ini masih tahap penyembuhan karena si Mata Ikan masih aja betah tinggal di kaki.

Anyway jangan bahas Mata Ikan sekarang deh beneran bete gara-gara nih Mata-Mata rencana untuk liburan di tunda dulu. Btw sekarang saya akan bahas Q&A #TanyaTurkiAryaAbla yang pastinya sudah di tunggu-tunggu oleh netijen. Dari sekian banyak pesan yang masuk saya hanya pilih 10 pertanyaan. Kenapa? Karena pertanyaannya kreatif dan ngeselin sesuai dengan persyaratan yang saya kasih hehe. Langsung aja yuk saya bahas satu-satu.

Bocah Tanpa Alis (Nama Samaran)
Q : Selain kuliah, di Turki untuk pemegang beasiswa biasanya bisa melakukan apa? Berapa persen oppurtunity untuk menikah dengan orang Turki jika kuliah disana?
A : Selain kuliah tentu para pemegang beasiswa bisa melakukan apa saja. Bisa ngamen, bikin vlog, atau mungkin jualan kebab. Asalkan jangan nyopet aja soalnya kan dapet duit beasiswa tiap bulan. Dulu waktu masih belajar bahasa Turki, saya pernah iseng kerja harian di restoran Kebab yang cukup populer di Turki. Gajinya sejam cuma 5TL sehari bisa kerja 8 jam dapat makan kebab gratis kapan aja selama sehari. Awalnya seneng banget bisa latihan bahasa sekalian makan gratis. Tapi, lama-lama makan kebab eneg juga terus perut tambah buncit, belum lagi bau bumbu yang nempel di baju setelah kerja buset perasaan bawa-bawa dapur ke kamar asrama. Di tambah lagi kerja lembur bagai quda sampai asrama bisa jam 12 malam karena saya kerja habis kelas bahasa. Yaudah akhirnya memutuskan keluar. Berapa persen kesempatan menikah dengan orang Turki kira-kira 100% kalau emang orang Turkinya jodoh kamu. Yah namanya jodoh, bisa aja kan orang darimana aja. Enggak mesti kuliah di Turki terus ketemu jodoh. Bisa juga kan yang kuliah di Turki eh ketemu jodoh waktu reunian teman SMA. Santai aja soal jodoh mah dengerin abang Afgan. Kalau emang udah waktunya juga nanti datang sendiri. Yang penting fokus kuliah dan jalan-jalan biar eksis di Instagram.

Sepupunya Rayhan (Nama Samaran)
Q : Di Turki ada warteg gak?
A : Kalau banyak pelajar Tegal yang datang ke Turki mungkin bisa jadi kedepannya ada Warteg di Turki. Sampai hari ini hanya ada Warung Nusantara restoran di Istanbul yang menyajikan makanan Indonesia, lalu ada Samsun Produktif produsen makanan Indonesia yang bisa pesan online, rumah ibu-ibu Indoensia yang nikah sama orang Turki atau tempat nongkrong di rumah anak-anak Indonesia yang tidak tinggal di asrama. Namanya mungkin bukan warteg tapi minimal bisa ngobatin kangen masakan rumah.

Ttantir29
Q : Hi kak, ini kali kedua aku dm ka Arya, aku mau tanya, katanya kuliah S2 di Turki itu 2 tahun, proses belajarnya gimana ya ka? Terus sekarang ka Arya udah semester berapa? Oiya harus dapat nilai berapa sih ka biar gak di DO dari kampus lalu satu lagi, kalau boleh tau waktu ka Arya lulus S1 dengan nilai ipk berapa ? Di jawab ya ka terima kasih.
A : Tau gini pertanyaan banyak harusnya saya tarifin. Satu pertanyaan 10TL lumayan kan TL lagi jatuh banget soalnya hehe. Pertama, di Turki untuk S2 iya waktunya 2 tahun tapi itu belum termasuk belajar bahasa Turki yang kira-kira menghabiskan waktu 8 bulan. Jadi kalau di total kuliah di Turki itu kamu 3 tahun harus merantau. Sebenarnya kuliah di Turki enggak genap 2 tahun juga karena per semesternya pendek, di Turki kebanyakan liburnya. Dalam satu tahun kampus itu kalau di total bisa libur 4.5 bulan. Libur musim dingin 1 bulan, musim panas 3.5 bulan. Jadi dalam satu tahun kamu hanya belajar 5.5 bulan yang artinya dalam satu semester hanya sekitar kurang dari 3 bulan. Efektifkah? Kalau menurut pandangan saya pribadi tidak efektif karena itu belum termasuk dosen yang kadang suka enggak masuk karena ikut seminar atau bolos di minggu pertama kuliah setelah liburan. Jadi tinggal pintar-pintar kita saja memanfaatkan waktu yang singkat untuk belajar. Saran saya perbanyak nongkrong di perpustakaan karena dosen di Turki senangnya nyuruh presentasi mingguan. Jadi selama 2 semester pertama setelah kelas bahasa, kamu pastinya bakalan stress karena deadline power point. Huft untung semuanya sudah kelar dan menyambung pertanyaan kedua saat ini saya masuk semester 3. Sebenernya bukan semester juga namanya karena sekarang hanya kejar-kejaran sama deadline tesis di tahun terakhir alias masuk tahun ketiga ini. Pokoknya selama 2 semester penuhi SKS deh biar enggak punya hutang kelas di tahun tesis. Ketiga mengenai nilai, setahu saya untuk jenjang S2 nilai minimal IP semester kita 2.00 tapi anak beasiswa YTB punya tanggung jawab lebih yaitu minimal 2.50. Pertanyaan terakhir, waktu lulus S1 IPK saya 3.69 tapi beneran deh perihal di terima beasiswa bukan sekedar dari nilai IPK aja. Ada juga beberapa orang yang ketemu interview IPK mereka tinggi-tinggi tapi enggak diterima. Pihak YTB punya pertimbangan khusus jadi jangan berkecil hati kalau nilai IPK kamu itu minimal nilai yang diminta YTB. Yang penting tetap mencoba kalau gagal. Semoga sukses.

Sisil
Q : Kapan bisa ketemu Omer terus wawancara dia ya...
A : Omer yang mana nih? Di jalanan, di stasiun kereta, banyak banget nama Omer karena nama Omer itu salah satu nama populer di Turki. Kayak kalau di Indonesia si Budi lah misalnya.

Zhafirah
Q : Ka, ada nggak beasiswa kuliah S1 di Turki yang full yang juga buka pendaftaran untuk mahasiswa Indonesia selain beasiswa YTB?
A : Setau saya sih ada banyak banget beasiswa yang ditawarkan di Turki. Kalau YTB kan asli dari Kementrian Luar Negeri Turki, nah kalau beasiswa dari yayasan gitu ada banyak tapi saya enggak hafal. Coba deh tanya mbah Google atau beberapa kampus juga buka kesempatan kuliah gratis gitu. Pokoknya satu-satunya cara dapetin beasiswa adalah banyak-banyak gali informasi. Dulu waktu saya cari beasiswa YTB juga enggak pernah nanya sama siapa-siapa murni nyari sendiri dan daftar sendiri. Setelah lolos interview baru deh waktu itu kirim pesan ke akun Instagram PPI Turki dan adminnya waktu itu Ullih Hersandi namanya. Dia ngedata nama-nama anak yang lolos seleksi tahun 2016. Kalau tahun ini bisa laporan saya kalau memang sudah lolos YTB.

Fazliafzhl
Q : Kak, awal-awal di Turki gimana cara interaksi sama sekitarnya pas belum fasih bahasa Turki, terus kalau di kelas enggak ngerti ngapain dan gimana cara belajarnya kwkwkw jawab ya kk.
A : Salah satu kelebihan saya (saya bisa bilang ini kelebihan) adalah saya orangnya gampang beradaptasi dari dulu. Di situasi apapun bisa menyesuaikan dan saya ini tipe orang yang enggak takut sendiri. Banyak orang yang tipenya kalau pergi enggak ada temannya pasti enggak jadi pergi. Untungnya saya enggak begitu. Dari dulu bisa pergi ngebolang sendiri enggak tergantung sama orang lain dan memang suka dengan hal-hal baru. Awal interaksi sama sekali enggak shock. Paling soal cuaca aja karena waktu itu datang pas ulang tahun (kode biar dikasih kado haha) bulan Oktober dan Turki sudah masuk musim gugur. Anak Bekasi biasa kegerahan eh waktu sampai Istanbul waktu itu hujan. Sudah musim gugur dan hujan pula jadinya badan juga mulai enggak enak gitu. Tapi, awal datang itu dibantu sama beberapa mahasiswa Indonesia yang sudah tinggal di Turki salah satunya Meida yang sudah kayak ibu peri karena ngebantu semua urusan administrasi kayak daftar kelas bahasa Turki, daftar ulang kampus, buat kartu IKAMET (KITAS kalau di Indonesia namanya) dan urusan lainnya deh. Tapi, urusan bantu administrasi itu berlangsung kira-kira 2 minggu dan setelah saya mulai kuliah bahasa atau kira-kira 1 bulan saya tinggal di Turki, saya sudah mulai jalan-jalan keliling kota sendiri. Bahasa Turki memang belum bisa tapi saya nekat orangnya. Jadi dulu awal-awal senang banget naik turun bus terus pergi ke toko-toko nanya-nanya harga ke penjualnya sekalian latihan ngomong haha. Terus kalau di kelas enggak ngerti pelajaran biasanya saya diam saja dan pura-pura ngerti. Paling buat catatan sendiri terus habis kelas pergi ke perpustakaan buat cari tahu materi yang di kelas. Karena teman-teman Turki dikelas saya orang-orangnya individualistis. Saya enggak tahu orang lain gimana tapi selama saya kuliah saya enggak punya teman Turki di kelas. Paling teman-teman Turki saya dari jurusan lain atau anak-anak S1. Anak-anak S1 nya kebanyakan baik-baik dan seru-seru tapi anak S2nya yang saya tahu sangat egois dan individualis. Enggak tahu juga sih mungkin saya yang enggak beruntung aja ketemu teman kelas enggak asik.


Belajar tapi Tetap Eksis
Dok. Pribadi


Miflana
Q : Skor TOEFL di tentuin minimalnya gak kak? Terus tips trick saat wawancaranya gimana? Apa yang jadi poin penting jawaban yang ngaruh ke penilaian?
A : Mengenai skor TOEFL setiap jurusan dan kampus punya standar beda-beda. Kalau jurusan saya di kampus Sakarya enggak ada permintaan skor TOEFL karena emang mata kuliahnya 100% bahasa Turki dan nanti sidang akhirnya pakai bahasa Turki juga. Paling beberapa mata kuliah dari jurusan lain ada yang pakai bahasa Inggris. Kalau di kampus saya, total mata kuliah dari jurusan lain yang bahasa Inggris bisa di ambil maksimal 3. Lumayanlah buat refreshing sejenak karena bahasa akademik Turki itu kadang bikin perut mual hehe. Jujur saja saya enggak punya tips dan trik khusus untuk wawancara. Yang penting persiapkan semua sebaik mungkin mulai dari penampilan rapi dan pengetahuan kita tentang jurusan yang mau kita ambil. Kalau semua sudah dipersiapkan dengan matang pastinya kita akan percaya diri. Nah kalau sudah percaya diri pasti performa kita juga baik. Dan satu lagi yang mesti di ingat, pertanyaan pada saat wawancara itu enggak bisa di tebak. Kadang bisa jauh banget dari materi perkuliahan dan hanya ditanya kenapa milih kuliah di Turki.

Generasi Tik-Tok (Nama Samaran)
Q : Kalau di suruh milih, cowok Indonesia atau Turki?
A : Saya sih selalunya milih cowok baik. Nah cowok baik enggak kenal suku atau ras kan? Tapi, kebetulan saja beberapa cowok Indonesia yang dulu-dulu saya kenal lalu pdkt sama saya enggak ada yang sebaik cowok Turki yang saya kenal. Jadi semua bukan karena persoalan cowok Turki atau cowok bule. Semua perihal memilih cowok baik bukan sekedar baik dalam konteks rajin ibadah saja tapi bagaimana menghormati dan memperlakukan kita sebagai perempuan dan bisa menerima kekurangan kita tanpa berusaha menuntut kita jadi sempurna. Hal yang paling penting lainnya ada kesetiaan seorang cowok. Selama saya kenal beberapa cowok Turki, hampir semuanya enggak pernah berpikir untuk punya istri lebih dari satu meskipun mereka punya uang banyak. Beda jauh dengan beberapa orang Indonesia yang berpatokan pada konsep poligami. Yah mungkin kebetulan saja saya ketemunya cowok Indonesia yang kurang baik.

Budi Bukan Doremi (Nama Samaran)
Q : Apa makanan paling enak di Turki yang bikin susah move on?
A : Ada 2 makanan Turki favorit saya yaitu Çiğköfte dan Iskender Kebap. Çiğköfte sendiri harus yang buatan Komagane karena serius enak banget. Çiğköfte itu adalah makanan yang bersahabat banget sama kantong mahasiswa dan 100% vegetarian. Dulunya sih waktu jaman perang gitu isinya daging mentah tapi berhubung banyak yang kena penyakit gara-gara ini jadinya isi dalamnya di ganti sama Bulgur. Isinya sayur-sayuran gitu dan di gulung kayak Kebab yang dikenal di Indonesia gitu. Nah kalau Iskender Kebab itu salah satu jenis kebab Turki yang menurut saya paling enak. Ada 3 jenis kebab Turki yaitu Adana Kebab, Urfa Kebab dan Iskender Kebab. Kalau Adana dan Urfa tampilannya sama yaitu mirip sate Indonesia cuma lebih gede aja ukurannya dan perbedaan keduanya hanya di level pedasnya. Sedangkan kalau Iskender kebab itu tampilannya beda dan penyajiannya pakai Yogurt. Rasanya kayak apa? Duh susah jelasinnya pokoknya enak banget karena disiram sama mentega panas gitu. Jadi laper....


Çiğköfte
Dok. Pribadi

   
İskender Kebap
Dok. Pribadi


Abege Tua (Nama Samaran)
Q : Kenapa orang Turki suka pakai sepatu dan jarang pakai sendal?
A : Karena di Turki itu 4 musim. Kalau musim dingin pakai sendal pasti kaki jadi beku dan kalau musim panas pakai sendal kaki bisa belang dan gosong karena musim panas di Turki itu kering dan cepat bikin hitam.

Oke itu 10 pertanyaan yang berhasil saya rangkum. Mudah-mudahan bisa jadi sedikit gambaran kehidupan di Turki. Bye bye.

Rabu, 04 Juli 2018

Setelah hampir 2 tahun di Turki...

Setelah hampir 2 tahun di Turki, barulah kali ini saya menulis blog. Benar-benar memalukan, jauh dari ekspektasi. Pelajaran hidup yang perlu di ingat kedepannya: "menulis itu membutuhkan mood bukan sekedar ide". Pasti banyak yang bilang, 'ciptakan' mood kalau begitu! Tentunya sudah saya lakukan seperti memulai traveling di Turki, bergaul dengan orang-orang Turki, mencari suasana baru untuk menulis, tetapi tetap saja mood menulis tidak kunjung datang selama saya tinggal di Turki sejak tahun 2016 silam. Alhasil, ekspektasi saya untuk menulis selama saya menempuh kuliah di Turki kandas begitu saja.

Neyse, mendingan lupakan semua waktu yang sudah terlewat. Nasi sudah menjadi bubur, sekarang tinggal kita nikmati bubur ini menjadi makanan yang menyehatkan bukan membuat sesal :D oke sekarang saya mau sedikit flashback dengan apa yang telah saya capai dua tahun belakangan.

Tahun 2016 nampaknya menjadi tahun 'emas' bagi saya. Setelah berkecimpung di dunia media sebagai presenter olahraga di sebuah situs besar di Indonesia yang mana juga merupakan anak perusahaan dari salah satu stasiun TV besar di Indonesia (enggak perlu disebutin yah :P), saya memutuskan keluar dari hidup yang serba monoton. Sebagai anak kelahiran Bekasi yang bertahun-tahun kerja di Ibukota Jakarta, tentunya kalian yang memiliki kehidupan yang seperti saya jalani, tahu betul rasanya harus bermacet-macet ria. Semuanya serba salah kayak Raisa. Naik bus pasti berdiri, naik kereta pasti kayak pepes, naik mobil pribadi betis pegal, naik ojek enggak mungkin pasti sampai kantor lepek dan belum lagi kantong bisa bolong belum tengah bulan, segala kendala pekerja di Ibukota pasti tahu betul gimana kerasnya berjuang mencari sesuap nasi di Jakarta. Rasa muak sama kehidupan Ibukota ini yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk mencari beasiswa untuk program Master alias S2 keluar negeri. Pilihan saya waktu itu ada 3 yaitu Belanda, Rusia, dan Turki.

Belanda ada di top list saya karena saya dengar banyak orang Indonesia yang tinggal disana, cari makanan Indonesia mudah (katanya). Saya cari beasiswa NESO waktu itu tapi ternyata persyaratannya njelimet seperti standar nilai TOEFL dan IELTS, tulisan tentang motivasi, dan LOA yang menyatakan sudah di terima di salah satu universitas Belanda. Artinya beasiswa ini hanya mengurusi para penerima yang sudah pasti masuk universitas yang dituju. Saya waktu itu lagi sibuk-sibuknya kerja, untuk mengurus tetek bengek begini enggak ada waktunya. Akhirnya pupus sudah harapan saya belajar ke Belanda.

Rusia ada di list kedua. Kenapa? Karena setahu saya negara Rusia adalah negara yang mewajibkan para pelajar asing untuk belajar bahasa Rusia sebelum memulai aktifitas perkuliahan. Lho bukannya lebih enak pakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar? Betul, tapi motivasi saya belajar ke luar negeri memang ingin belajar bahasa asing baru selain bahasa Inggris. Walaupun bahasa Inggris saya enggak bagus tetapi tetap saja belajar bahasa asing selain bahasa Inggris akan jadi nilai plus kedepannya. Berbeda dengan negara Belanda yang membuka kesempatan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris, kuliah di Rusia wajib bisa bahasa Rusia (katanya). Tapi, setelah saya telusuri dengan seksama beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Rusia tidak penuh alias pelajar asing harus membayar biaya untuk kuliah bahasa selama satu tahun dan belum lagi tinggal di rumah sewa dengan biaya sendiri. Dihitung-hitung mendingan saya kuliah biaya mandiri di Indonesia. Karena alasan ini saya langsung coret Rusia dari list saya.

Pilihan terakhir saya jatuh kepada negara Turki. Kenapa Turki? Pertama saya sudah jatuh cinta sama Turki sejak lama. Kalau kalian baca postingan saya sebelumnya pasti kalian tahu alasan kenapa saya jatuh cinta sama Turki. Dan begitu tahu pemerintah Turki menyediakan beasiswa full, saya langsung daftar dan dengan kepedean aja gitu bakalan diterima haha. Tapi, mungkin benar yang dinamakan kekuatan pikiran. Benar apa yang selalu ditekankan oleh para motivator itu kalau apapun yang kita pikirkan pasti akan tercapai (meski tentunya dengan usaha dan doa juga karena kalau cuma mikir doank itu namanya mengkhayal).

Saya daftar beasiswa Turki murni usaha saya sendiri 100% tanpa refrensi siapa-siapa. Di salah satu kolom di website sewaktu daftar, kita diperbolehkan untuk memberi nama yang memberi kita refrensi. Sewaktu daftar beasiswa, saya masih berstatus pekerja di perusahaan masa iya saya minta refrensi bos saya, belum lagi saya tidak mau punya hutang budi kepada siapapun, jadi atas nama idealisme saya daftarkan kelengkapan dokumen saya ke beasiswa pemerintah Turki. Deg-degan iya. Masih ingat rasanya tiap hari nge-check inbox email dan masuk ke website YTB. Bukan hidup namanya kalau bukan kayak roller coaster, ketika tahu saya lolos di tahap administrasi dan berhak untuk interview di kedutaan Turki senangnya bukan main. Rasanya saat itu juga pengen joged keliling Jakarta tapi takut disangka orang gila haha.

Mungkin ini juga berkaitan dengan kekuatan doa dan berbakti sama orang tua. Tahun 2015 menjadi tahun terkelam dalam hidup saya. Satu hari setelah ulang tahun, ibu saya, orang yang paling saya cintai di dunia dan akhirat mengalami kecelakaan berat. Kalau saat itu kami sekeluarga terlambat menemukan beliau yang tergeletak tak berdaya di rumah sakit (karena ada orang baik yang mau menaruh beliau ke rumah sakit terdekat meskipun di rumah sakit enggak diurus karena ibu saya enggak bawa KTP saat itu dan tidak ada penjamin), mungkin beliau telah tiada saat ini. Disitu saya terhenyak. Membahagiakan orang tua bukan menunggu kita kaya raya, tetapi memberikan apapun yang kita punya walaupun tampak tak berarti yaitu waktu. Selama ibu saya sakit, saya berikan 100% hidup saya buat beliau. Saya menunggu beliau siang dan malam menginap di rumah sakit dan berada disamping beliau saat beliau mengalami amnesia lupa pada saya. Sampai beliau pulih detik ini saat saya menulis tulisan ini, kalau saya mengenang waktu itu saya bersumpah setiap detiknya saya akan buat ibu bahagia meskipun bukan dengan materi.

Bakti saya yang tidak seberapa itu akhirnya menjawab segala doa saya untuk menempuh studi S2 di luar negeri. Selama ini saya tidak pernah berpikir untuk bisa kuliah S2 di luar negeri. Memang ada keinginan untuk menyelesaikan S2 sebelum usia menjelang 30 tahun akan tetapi kesibukan saya sebagai pekerja kantoran membuat saya berpikir menyelesaikan S2 di dalam negeri sembari bekerja tidak ada salahnya. Namun hidup berkata lain, semesta membuka jalan, Tuhan merestui harapan, tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkan kesempatan. 2016 adalah tahun terbaik dalam hidup saya. Satu hari sebelum saya ulang tahun saya bersama para pelajar baru berangkat ke Istanbul. Saat saya menginjakkan kaki di bandara Istanbul, saya telah memasuki usia baru, harapan baru, dan menjadi orang yang telah melihat warna baru.

Turki tampak tidak asing untuk saya, entah mengapa saya sangat cepat beradaptasi sejak pertama datang. Baik soal makanan, budaya, orang-orangnya, bahkan saya lebih merasa dekat dengan Turki ketimbang Indonesia. Bukan saya tidak nasionalis. Cinta saya pada Indonesia sampai mati dan saya rela membela negara saya sampai kapanpun. Akan tetapi, kedekatan saya dengan kehidupan di Turki juga terasa begitu nyata. Saya merasa negara Turki telah saya kenal lama. Makanya memang sudah seharusnya tidak perlu heran jika di hari pertama saya mencoba minuman khas Turki bernama Ayran yang berbahan dasar yogurt cair dan garam, saya tidak merasakan efek mual-mual seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya.

Projek pertama saya ketika datang ke Turki adalah membuat video berdurasi 1 menit yang saya posting di akun Instagram saya. Projek ini bernama #FaktaKilatTentangTurki dan cukup dikenal bahkan untuk mereka yang suka stalking saya diam-diam. Sayangnya kemalasan menjadi teman setia saya setiap saat sampai akhirnya saya berhenti hanya dengan beberapa jumlah video dari target yang seharusnya genap 365 video (1 tahun pertama).

Projek kedua saya memasuki tahun kedua adalah memanfaatkan channel Youtube dan membuat program #CeritaAryaDiTurki ini versi lebih lamanya dari projek tahun pertama saya, akan tetapi lagi-lagi kemalasan mengalahkan segalanya dan sampai detik saya menulis blog ini, video yang terkumpul hanya 5 buah.

Mungkin ada baiknya jika sekarang saya memanfaatkan kembali blog ini yang memang sudah menunggu saya kembali menulis.  Ya ga ya ga.....

2 tahun di Turki penuh lika-liku. Mulai dari drama belajar bahasa Turki, drama mengenal jenis-jenis cowok Turki, drama kuliah ketemu dosen aneh-aneh, drama pindah-pindah kamar kalau musim liburan tiba. Waktu nyaris 2 tahun sepertinya enggak cukup kalau hanya di tulis sepintas lalu, bahkan kayaknya lebih cocok jadi sebuah tulisan seru bernama buku. Apalagi tentang drama cowok-cowok Turki yang super heboh, mungkin kalau nantinya beneran saya tulis jadi buku, kalian yang ngebaca bisa pingsan karena kaget hahahaha (penasaran nih ye...).

Total dari masa studi saya adalah 3 tahun, satu tahun untuk belajar bahasa Turki, satu tahun untuk kuliah normal, dan satu tahun untuk menyelesaikan thesis. Sekarang waktu perkuliahan saya telah selesai. Tahun kedua di Turki sudah selesai dan setelah liburan musim panas yang panjangnya sampai 3,5 bulan, saya akan masuk tahun ketiga yang artinya bersiap-siap dengan sidang akhir. Waktu terasa cepat ya? Kayaknya baru kemarin terbang bareng teman-teman dari Indonesia, ketemu satpam nyebelin di kedutaan, buta bahasa Turki, ehh sekarang semuanya berlalu begitu saja. Waktu 2 tahun terasa cepat kalau kita nikmati setiap detiknya ternyata dan yang tersisa kini tinggal kenangan. Waktu yang sudah terlewat tidak bisa kembali atau disesali dengan berkata, "yaaa seandainya waktu baru datang ke Turki bikin ini bikin itu...".

Daripada sibuk menyesal dan kecewa lebih baik segala kenangan tersebut dituangkan dalam blog ini. Tunggu postingan berikutnya ya!


19 Oktober 2016
Foto pertama di bandara Atatürk - Istanbul, Turki