Jumat, 23 November 2018

Aroma Karsa "JIPLAK" Perfume: The Story of Murderer?

Saya tahu, kata "JIPLAK" memang terdengar kasar disematkan kepada salah satu karya fenomenalnya mbak Dewi Lestari yaitu Aroma Karsa. Dee, nama pena mbak Dewi Lestari, memang selalu menyumbangkan ide-ide segar ke dalam dunia sastra Indonesia. Saya termasuk salah satu penikmat karya-karyanya. Sebut saja Filosofi Kopi dan Madre yang sukses membuat saya jatuh hati. Aroma Karsa sebagai karya terbaru Dee yang kemudian langsung laris manis di berbagai toko buku kesayangan anda, juga habis saya lahap dalam waktu satu hari saja. Buku setebal ratusan halaman itu membuat saya begitu penasaran dengan kisah akhir Jati Wesi dan Tanaya Suma yang penuh lika-liku. Aroma Karsa menjadi salah satu buku favorit saya.




Kemudian semuanya berubah saat saya dengan tanpa sengaja mencari-cari film untuk saya tonton di malam minggu. Sebagai pelajar perantauan di luar negeri, salah satu cara mengusir rasa kesepian memang dengan menonton film dan kemudian jalan takdir membawa saya menemukan sebuah film luar biasa berjudul Perfume: The Story of Murderer. Film ini bukan film baru tetapi dirilis pada tahun 2006 berdasarkan sebuah novel berjudul sama karya Patrick Süskind pada tahun 1985. Bintang utamanya adalah Ben Whishaw yang sukses membawa peran Jean-Baptiste Grenouille menjadi central di kisah ini. Ben juga pernah berperan di dalam film ikonik lainnya yaitu Cloud Atlas yang sukses membuat pikiran saya jungkir balik.




Setelah setengah jam pertama menonton film ini, pikiran saya langsung tertuju pada novel Aroma Karsa karya Dee. Meski tidak 100% mirip, tema besar keduanya sangat serupa. SANGAT AMAT SERUPA. Kenapa saya tulis besar-besar? Karena memang buku Aroma Karsa terasa menjiplak buku karya penulis Jerman itu. Saya tahu mungkin kalimat saya ini akan membuat mbak Dee, mas Reza atau barangkali pembaca setianya tersinggung. Tapi, bukankah kritikan itu terkadang baik demi membangun kreatifitas? Dan saya rasa penulis atau apapun profesinya, jika ingin menjadi besar haruslah hidup dalam kritikan. Agar kita menjadi tahu kapasitas kita sampai dimana dan tidak gampang terlena dengan pencapaian yang kita dapatkan. Setuju? Jika setuju mari kita simak beberapa penemuan saya.

1. Berkisah Tentang Indera Penciuman
Dalam salah satu wawancara yang dilakukan, Dee menuturkan bahwa ia tertarik membahas seputar dunia indera penciuman karena penciuman merupakan indera pertama yang terbentuk saat kita masih berupa janin. Akan tetapi, seiring berkembangnya evolusi, manusia tidak lagi mengandalkan kemampuannya itu dan menggantikannya dengan indera-indera lainnya. Hal serupa juga dijelaskan dalam kisah Perfume. Novelis asal Jerman itu memilih untuk mengisahkan tokoh utamanya memiliki anugerah istimewa karena memiliki penciuman yang dapat membaui ratusan bahkan jutaan bau berbeda. Kemampuannya itu juga dapat mendeteksi bahaya yang mungkin dihadapinya. Oke sampai sini mungkin kalian akan langsung menyanggah bahwa tema besar mungkin bisa saja serupa. Sebut misalnya karya ajaib J.R.R Tolkien yaitu trilogi The Lord of The Rings dan karya C.S. Lewis yaitu The Chronicles of Narnia yang mengambil tema mitologi dan peradaban manusia. Kedua sahabat itu memang menulis dalam tema besar yang serupa tetapi sudut pandangnya berbeda. Jika Lewis lebih fokus kepada kisah anak-anak lain halnya dengan Tolkien yang bukunya digemari sampai kaum lansia. Intinya tema besar boleh serupa tetap sudut pengambilan cerita janganlah sampai sama. Apalagi novelis sekelas mbak Dee.

2. Tokoh Utamanya
Nama Jati Wesi langsung popular di kalangan kepolisian setempat setelah berhasil mengungkap kasus kematian salah satu penghuni Bantar Gebang. Setelah kasus itu, Jati mendapat julukan si Hidung Tikus karena keistimewaan hidungnya. Jati adalah seorang pemuda yatim piatu yang hidup menggembel sejak dilahirkan. Kemampuannya yang kemudian merubah nasib Jati Wesi. Begitupula dengan tokoh dalam kisah Perfume: The Story of Murderer, Jean-Baptiste Grenouille adalah seorang pemuda miskin yang hidup sebatang kara. Merasa memiliki kemampuan yang berbeda, Jean-Baptiste tidak terima dengan hidupnya. Ia mencari kesempatan untuk membuktikan penciumannya itu pada seorang perfumer terkenal Perancis.
Antara Jati Wesi dan Jean-Baptiste memiliki kesamaan menonjol. Selain karena keduanya memiliki nama berawalan "J" dengan 4 suku kata, keduanya juga lahir di tempat kumuh. Jati Wesi lahir di tempat pembuangan sampah Bantar Gebang dan Jean-Baptiste lahir di pasar ikan, Paris. Kedua tempat itu di klaim sebagai tempat terbau yang pernah ada. Berbagai macam bau itu yang menyebabkan Jati Wesi dan Jean-Baptiste terbiasa akan banyak bau dan melatih penciuman mereka menjadi sangat tajam. Keduanya juga sama-sama memiliki khayalan untuk meninggalkan tempat kumuhnya agar memiliki kesempatan untuk menghirup segala jenis bau yang ada di dunia.

3. Parfum Sebagai Jalan Menuju Perubahan
Kemampuan Jati Wesi akhirnya menarik Raras Prayagung, pemilik merek kecantikan terkenal untuk mempekerjakannya di dalam laboratoriumnya. Ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajar ke Grasse, Perancis untuk mendapatkan sertifikat peracik parfum kelas dunia atas rekomendasi langsung dari Raras. Agak sedikit berbeda dari Jati, Jean-Baptiste justru menawarkan keahliannya itu kepada salah satu perfumer terkenal Perancis yang sudah tidak naik daun, Giuseppe Baldini. Dengan berani Jean-Baptiste memperbaiki parfum-parfum yang ada menjadi sebuah aroma yang luar biasa. Rasa penasarannya pada mempertahankan aroma, yang membuatnya ingin belajar ke Grasse. Atas rekomendasi Baldini, Jean-Baptiste juga pergi ke Grasse.
Kedua kisah diatas memiliki materi yang serupa, dunia parfum menjadi jalan merubah hidup seseorang. Kenapa mbak Dee???? Kenapa kau pilih parfum juga sebagai penghubung tema dan jalan cerita???? Alangkah elegannya jika Dee mencari kisah lain seperti misalnya 'makanan'? Bukankah hidung kita juga memiliki andil sangat besar dalam menentukan makanan yang kita pikir enak? Sebelum kita menggunakan indera pengecap untuk merasakan, kita menggunakan indera penciuman kita untuk membaui. Ahhh ini dia bau rendang, ah ini dia bau soto mie, ah ini dia bau ini.... dan sebagainya sampai kemudian kita menciptakan khalayan dalam alam bawah sadar kita lalu menggiring kita pada rasa lapar atau air liur mengalir.
Saya kemudian berpikir, seandainya saja Jati Wesi adalah pemuda miskin yang punya penciuman tajam itu punya cita-cita untuk membaui makanan enak dari seluruh dunia karena rasa dendamnya pada hidupnya yang tidak pernah makan enak. Lalu Raras yang punya rumah makan kelas dunia tertarik pada kemampuannya dan 'memanfaatkannya' untuk mencari bahan yang dapat membuat bumbu dari segala makanan. Bumbu itu akan membuat semua orang takluk dan dunia akan menjadi milik Raras. Seandainya mbak Dee kamu menulis dari sudut pandang lain, bukan parfum.

4. Tentang Ambisi
Kalau kalian sudah pernah membaca bukunya Patrick Süskind atau menonton versi filmnya, kalian akan tahu bahwa tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Jean-Baptiste memiliki ambisi yang sangat besar di dalam dirinya. Ia ingin menciptakan parfum yang akan dikenang sampai akhir hayat. Parfum yang membuat siapapun akan takluk dan bertekuk lutut. Tiga notes parfum yang menjadi ambisi Jean-Baptiste itu merupakan pemujaan, sensualitas dan abadi dalam kenangan. Jean berhasil merealisasikan ambisinya setelah melakukan banyak pembunuhan. Ia sendiri tidak menyadari betul jika perbuatannya itu salah. Sebagai pria miskin yang tidak sekolah dan hidup menyedihkan sejak dilahirkan, ia tidak memiliki gambaran tentang benar dan salah. Ini wajar. Sifat inilah yang membuat ia nampak manusiawi.
Lain halnya Jati Wesi si tokoh utama dalam kisah Aroma Karsa. Jati memang bukan manusia biasa, ia semacam dewa atau makhluk halus apapun namanya itu. Karena hal inilah pembawannya jadi berbeda. Ia cenderung kalem dan masih tampak mempesona dalam pakaian sederhana sekalipun. Namun, inilah yang membuat karakter Jati Wesi jadi tidak rasional. Meskipun Jati memang bukan manusia biasa, tetapi ia sudah masuk ke alam manusia dan hidup bersama manusia, terlebih lagi hidup di tempat pembuangan akhir sampah-sampah dari kota besar. Bisa dibayangkan betapa kerasnya hidup disana? Sedikit banyak itu pasti merubah karakter si makhluk halus bernama Randu (Jati) ini. Ambisi justru datang dari Raras. Wanita kaya raya itu memiliki ambisi yang menurun dari neneknya yaitu Janirah.
Dalam hal ini, Dee memang membuat pembeda yang baik, saya akui itu. Tetapi, kemudian kembali lagi keduanya punya nilai yang sama. Apa itu? Ambisi dapat menghancurkan segalanya. Jean-Baptiste menyadari kehampaan luar biasa tatkala ia menuntaskan ambisinya, sedangkan Raras tewas begitu saja akibat ambisinya. Kedua kisah ini seputar ambisi yang bersumber pada keserakahan teramat besar. Jean yang menjadi amat serakah untuk membaui apa saja dan Raras yang serakah karena doktrin neneknya.

5. Inti dari Semuanya, Perempuan
Jika kalian mencari sebab dari pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Jean-Baptiste, kalian pasti tahu bahwa hal itu diawali karena seorang perempuan. Jean-Baptiste yang saat itu baru melihat dunia luar merasa terkagum-kagum dengan segala jenis aroma yang ada dari berbagai sudut kota. Penciuman tajamnya kemudian menangkap aroma Feromon yang membuatnya penasaran. Sumber dari bau yang membuatnya tergila-gila ternyata adalah aroma seorang gadis berambut merah penjual jeruk. Jean-Baptiste sedang merasakan sensualitas terbesar dalam hidupnya tapi ia tidak menyadarinya. Ia hanya tahu harus menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh si gadis. Perempuan telah membuatnya berambisi untuk menciptakan sebuah bau yang dapat memuaskan dahaga dirinya.
Begitu juga yang terjadi di dalam lika-liku kisah kehidupan Prayagung. Janirah yang merasa hidup miskinnya harus dihentikan, mulai membangun mimpinya sejak kecil. Kekayaannya kemudian menurun kepada cucunya, Raras yang juga perempuan. Bahkan Raras pun kemudian mengadopsi anak perempuan bernama Tanaya Suma. Suma jelas bukan perempuan biasa tetapi keturunan dari Puspa Karsa, seorang dewi yang pernah diperistri oleh Raja Majapahit, Mahesa Guning. Disini mungkin perbedaan antara Aroma Karsa dan 
Perfume: The Story of Murderer terlihat. Dee mencampur kisahnya dengan legenda dan penemuan arkeologi, sedangkan Süskind lebih mengutamakan sentuhan realisme. Meskipun sekali lagi dalam pandangan saya, keduanya memiliki roh yang sama yaitu perempuan. Dalam wujud seorang wanita, Mahesa Guning takluk dan tak berdaya. Begitu juga Jean-Baptiste yang tak kuasa menahan pikat feromon wanita.


Kesimpulan
Setelah membaca tulisan saya ini, mungkin sebagian dari kalian akan menentang habis-habisan atau mungkin juga sejalan dengan pendapat saya ini. Intinya bukan ingin menggurui mbak Dee yang sudah diacungi  empat jempol kredibilitasnya sebagai penulis yang pandai menghidupkan sebuah kisah, sedangkan saya siapa sih? Kritik saya kepada karya mbak Dee semoga membuat mbak Dee lebih cermat dalam meramu sebuah ramuan kisah yang mempesona pembaca. Begitu saja, semoga kita semua bisa terus berkarya dan melakukan hal-hal yang membawa kebaikan untuk dunia. Semoga semua makhluk berbahagia.

Salam dari Turki.