Propaganda Simbol Kuno

Kiri-Kanan: All-Seeing Eye, Baphomet, Swastika Nazi

Jika saya katakan bahwa kita adalah makhluk simbol, apakah kalian memahaminya?

Jauh sebelum komunikasi verbal melalui bahasa digunakan, manusia telah menggunakan simbol-simbol untuk berkomunikasi. Apakah ada benda-benda yang tidak memiliki simbol? Jawabannya tidak ada. Semua benda memiliki simbolnya masing-masing karena itulah cara paling mudah bagi manusia untuk saling memahami.

Simbol Adalah Kita

Di zaman modern saat ini, kita menggunakan rambu merah untuk berhenti, rambu hijau untuk jalan, dan rambu kuning untuk hati-hati. Kalau ada satu pengendara kendaraan bermotor yang tidak mematuhi hal ini, maka sudah pasti ia akan dianggap lalai karena tidak mematuhi simbol yang sudah disepakati untuk ditaati. Lalu saat seseorang melihat bendera pelangi yang digunakan sebagai atribut, secara otomatis pikiran kita akan memutuskan bahwa si pengguna bendera tersebut adalah seorang toleran pada gerakan LGBT. Atau saat kita pergi ke suatu tempat lalu kita melihat ada sebuah stiker bergambar rokok yang dicoret oleh warna merah, sudah pasti artinya Dilarang Merokok.

Jadi, tanpa perlu ada orang yang menjelaskan lebih jauh mengenai makna dibalik simbol atau filosofinya sekalipun, "kenapa simbol A untuk menjelaskan benda 1 dan bukannya simbol B", kita sudah bisa memahami. Kemampuan tersebut merupakan 'bawaan' DNA nenek moyang kita yang dilatih sekali lagi dan sekali lagi kepada generasi berikutnya menjadi sebuah 'doktrin' kebenaran dan tidak perlu ditanyakan lagi, "darimana asalnya simbol itu?", "apakah simbol itu benar-benar mewakili benda tersebut atau tidak?", "kenapa kita menggunakan simbol itu dan bukan simbol yang lain?"

Ambil contoh lain misalnya nama yang diberikan orang tua kita saat kita lahir. Seluruh orang di dunia sepakat bahwa nama adalah doa yang diberikan oleh orang tua agar seorang anak menjadi seperti namanya. Pertanyaannya apabila ada seorang gadis yang diberi nama 'Indah' dan kita memanggilnya 'Sinta' apakah ia akan menoleh? Atau jika kalian melihat blog 'Pikiranologi' sudah pasti kalian teringat orang dibaliknya yaitu si 'Arya' bukan si 'Mawar'. Tanpa kita sadar, nama menjadi simbol yang melekat ke dalam pribadi orang tersebut. Seringkali karena mengikat simbol ini terlampau kuat, kita jadi merasa tersinggung apabila ada orang yang dengan sengaja atau tanpa sengaja terdengar seperti 'mengolok-olok' nama kita. Sebab nama kita adalah simbol yang mewakili jati diri kita.

Ketimbang bahasa verbal, kekuatan simbol dalam menerjemahkan sebuah benda, aktivitas, atau segala hal yang dilekatkannya lebih berpengaruh kepada pikiran alam bawah sadar kita. Di dunia ini ada berapa banyak bahasa verbal yang dituturkan? Luar biasa banyak!  Bahkan di satu negara misalnya sebut saja Indonesia memiliki hampir 700 bahasa daerah. Setiap daerah memiliki bahasa verbal yang hanya dimengerti oleh penduduk di daerah tersebut. Seperti misalnya ketika anak Jakarta menggunakan bahasa Indonesia mungkin saja tidak dapat dipahami oleh anak Sulawesi yang juga menggunakan bahasa Indonesia. Bukan karena bahasa Indonesia versi anak Jakarta jauh lebih benar atau anak Sulawesi yang benar, akan tetapi setiap bahasa verbal bukan hanya mempelajari kosakata, tetapi juga dialek setempat yang tidak mungkin dimengerti oleh orang dari tempat lain. Karena hal inilah bahasa verbal memiliki kekurangan yang lebih besar kalau dibandingkan dengan simbol yang masuk ke dalam bahasa non-verbal.

Simbol Adalah Cara Manusia Menerjemahkan Sebuah Kondisi

Jauh sebelum kita mengenal bahasa verbal yang bisa diterjemahkan melalui simbol-simbol huruf (lagi-lagi kalian melihat simbol!) seperti saat kalian membaca tulisan ini, manusia menggunakan simbol-simbol yang lebih sederhana untuk menerjemahkan sebuah kondisi. Misalnya gambar segitiga sama sisi merupakan simbol dari elemen api karena berdasarkan interpretasi bentuk api yang kalau kalian amati adalah bagian ujungnya menghadap atas. Simbol segitiga sama sisi juga digunakan oleh budaya kuno sebagai simbol dari Maskulinitas atau makhluk laki-laki karena mewakili alat kelamin yang lengkap yaitu penis dan buah zakar. Kemudian bagaimana dengan segitiga sama sisi yang ujungnya menghadap bawah? Simbol tersebut merupakan simbol elemen air yang bentuknya serupa dengan air yang menetes dari langit ke tanah. Segitiga yang ujungnya ke bawah ini juga merupakan simbol dari Feminitas karena berdasarkan bentuk dari Rahim dan Ovarium.

Baru dua simbol yang saya tuliskan mungkin kalian sudah terkejut melihat maknanya, apalagi kalau kalian melihat dan mengamati banyak hal lebih dalam pasti kalian akan sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang hidup dalam simbol.

Ambil contoh lain, ketika agama kita dicela oleh pengikut agama lain, apa tindakan umum yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita? Pasti marah, mengamuk, sumpah serapah, dan segala macam kondisi lain yang sebenarnya merugikan kita. Namun, di sisi lain kita pasti tetap 'membela' agama kita hanya karena kita merasa bahwa simbol yang mewakili keyakinan kita disakiti oleh orang lain. Padahal kalau kita amati, orang yang kita anggap sedang menyakiti simbol agama kita tersebut hanya sedang menyakiti simbol dari keyakinan kita bukan ajaran didalamnya. Karena mungkin orang itu tidak memahami makna di balik simbol tersebut, maka ia bertindak demikian.

Alih-alih memberikan pemahaman mengenai simbol agama yang sedang 'dihina' kepada orang tersebut dengan kesabaran, kita malah sibuk menghujat. Kita lupa bahwa menghujat, menghina, bersikap temperamental, dan sikap-sikap penuh kemarahan lainnya telah disepakati oleh manusia di dunia ini selama ribuan tahun sebagai simbol dari sifat agresif, pemarah, atau kurangnya kecerdasan.

Jadi pada dasarnya manusia tidak benar-benar membela, memahami, dan mengerti sebuah makna yang ada di dalam sebuah simbol.

Contoh lainnya, katakanlah kamu melihat dua orang yang ingin meminum kopi. Orang pertama pergi ke warung kopi mahal, memesan nama kopi bahasa asing yang rumit-rumit, demi secangkir gelas mini ia harus menghabiskan uang ratusan ribu, dan disana ia duduk dan mengobrol dengan teman-temannya. Orang kedua pergi ke warung kopi pinggir jalan, memesan kopi tubruk dalam gelas bening murahan dan ia hanya menghabiskan uang lima ribu perak karena ditambah beli sebuah pisang goreng, duduk mengobrol dengan teman-temannya.

Melihat dua kondisi tersebut, orang mana yang mewakili simbol kemakmuran dan simbol kemelaratan? Kita pasti sepakat bahwa orang pertama adalah orang yang makmur dan orang kedua adalah orang yang melarat. Namun, kita tidak pernah bertanya lebih jauh atau berusaha menyelami kebenarannya karena bisa saja orang pertama adalah seseorang yang baru di PHK 3 bulan lalu dan masih mencari pekerjaan tapi karena ia tidak mau kehilangan harga diri di mata teman-temannya, maka ia 'membeli harga dirinya' melalui secangkir mini kopi di warung kopi bergengsi. Sedangkan orang kedua mungkin saja seorang anak yang baru saja menghabiskan uangnya untuk membeli rumah dalam upaya membalas budi ibunya yang selama bertahun-tahun menjadi seorang janda yang gigih mencari uang untuk membesarkan dirinya.

Kita tidak terlatih untuk melihat lebih dalam sebuah kebenaran. Kita hanya terlatih untuk melihat simbol, lambang, atau atribut yang mewakili benda yang melekat padanya. Sehingga tanpa kita sadari yang kita anggap benar adalah simbol tersebut bukan makna dibalik simbolnya.

Gerakan Propaganda

Sekarang setelah kita memahami cara kerja otak kita melihat simbol, saya ingin mengajak kalian untuk mencari simbol-simbol yang digunakan sebagai propaganda. Namun, mungkin sebelum mencarinya, ada baiknya kita memahami dulu pengertian Propaganda, fungsi dan alasan kenapa legal digunakan meski berbahaya.

Menurut beberapa ahli yang saya kutip dari Dosen Pintar propaganda merupakan suatu skema untuk menumpahkan suatu doktrin dan tindakan kepada seseorang atau sekelompok orang yang akan disebarkan melalui beberapa kata-kata, suara, iklan komersial, jenis musik, gambar, dan juga simbol-simbol lain. Dengan kata lain, suatu propaganda digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain berdasarkan tujuan tertentu demi kepentingan kelompok yang menyebarkannya. Jadi, pada dasarnya propaganda bisa bersifat positif atau menguntungkan orang yang dipengaruhinya, bisa juga negatif atau merugikan orang yang dipengaruhinya. Namun dalam banyak kasus, propaganda jelas digunakan demi keuntungan orang yang membuatnya agar orang yang dipengaruhinya memberikan keuntungan tertentu kepada orang yang menciptakan propaganda tersebut.

Seorang Nazi Jerman bernama Joseph Goebbels pernah berkata (secara garis besar intinya seperti ini) bahwa: "kebohongan yang diulang-ulang maka akan menjadi sebuah kebenaran, bahkan oleh orang yang menyampaikan kebohongan itu." Karena kehebatannya inilah Goebbels dipercaya Hitler menjadi seorang Menteri Propaganda. Proses cuci otak yang dilakukan oleh Nazi Jerman itu hingga detik ini masih melekat kuat di kepala manusia bahkan manusia yang tidak hidup di masa Nazi (seperti saya dan kalian misalnya). Ketika kita menyebut Nazi maka yang muncul di kepala kita pertama kali adalah simbol Swastika.

Mengubah Makna Simbol Kuno

Jika kita mengingat sejarah Nazi, maka kepala kita langsung secara otomatis memunculkan gambar simbol Swastika. Itu sama artinya Swastika telah bermakna sebagai Nazi dalam alam bawah sadar kita. Pemaknaan terhadap simbol ini terjadi karena kampanye besar-besaran Nazi melalui bendera atau berbagai poster bergambar Swastika yang disebar melalui media. Pertanyannya, apakah Swastika benar-benar mewakili Nazi?

Simbol Swastika merupakan simbol kuno yang berasal dari Lembah Sungai Indus kemudian menyebar ke Turki, Yunani, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, Tibet, Cina, Jepang, Skandinavia, Jerman hingga Amerika. Simbol ini memiliki arti Swastyastu yang artinya Semoga Dalam Keadaan Baik. Simbol ini jadi digunakan oleh Nazi Jerman karena untuk melengkapi propaganda bahwa Nazi Jerman adalah keturunan bangsa Arya.

Bangsa Arya dianggap sebagai sebuah bangsa yang datang dari Indo-Iran ke India dan merupakan bangsa atau ras tertinggi dari semua ras. Banyak ahli menyebutkan bahwa Bangsa Arya memiliki kulit putih dan mata biru. Propaganda mengenai ras Arya ini jelas sarat akan kepentingan. Pasalnya jika kita melihat pengertian kata Arya di dalam Veda bukan bermakna sebagai suatu etnis, bangsa atau ras tertentu. Arya adalah sebutan yang diberikan kepada orang-orang terpelajar atau terhormat. Menurut pengertian ini, setiap orang dari bangsa, etnis, atau ras apapun bisa menjadi seorang Arya jika ia memiliki sifat-sifat luhur. Propaganda menempatkan Arya sebagai sebuah bangsa adalah demi kepentingan politik supremasi Nazi melakukan Holocaust kepada Bangsa Yahudi.

Di dalam bukunya Illuminati: Dunia Dalam Genggaman Perkumpulan Setan, Henry Makow menjelaskan bahwa alasan Adolf Hitler menyebut orang Jerman berasal dari bangsa Arya adalah agar bangsa Yahudi mau kembali ke tanah Israel. Adolf Hitler merupakan boneka dari para Elite 1% penguasa dunia (Rothschild, Rockefeller, dsb) yang bertugas untuk membawa kembali bangsa Yahudi ke tanah Israel. Seperti kita tahu, bangsa Yahudi telah lama meninggalkan Israel dan pergi ke berbagai belahan dunia Eropa. Bangsa Yahudi yang digunakan sebagai alat untuk dibenci oleh seantero dunia oleh kelompok Elite tersebut agar dunia memiliki musuh bersama, diharapkan mau kembali ke tanah Israel demi misi penting para Elite untuk menjadikan Israel sebagai Tanah Harapan. Proyek alat kebencian juga terjadi kepada Islam yang digunakan sebagai 'dalang' terorisme kehancuran WTC pada 11 September 2001 (tepat 20 tahun hari ini) agar dunia memiliki musuh bersama. Hal serupa pernah terjadi ratusan tahun silam ketika kelompok Elite ini ingin memisahkan Spiritualitas dari Sains melalui propaganda 'kebrutalan' pihak Gereja kepada Ilmuwan yang katanya mengungkapkan kebenaran Sains pada masa Abad Pencerahan.

Baca: Abad Pencerahan: Zaman Pemisah Spiritualitas dan Sains

Selain itu ada lagi simbol Baphomet yang dianggap sebagai simbol setan karena mewakili tradisi paganisme milik Ksatria Templar. Selain kepala kambing yang sebenarnya simbol penanda masuknya era Aries, memiliki simbol Pentagram di kepala yang pada dasarnya adalah simbol 5 elemen dalam diri manusia yaitu Api, Air, Tanah, Angin dan Ether (atau juga simbol bentuk tubuh manusia yang kalau terlentang tampak seperti bintang laut), Baphomet juga memiliki simbol tangan serupa 'Peace atau Damai' yang tangan bagian kanan menghadap atas dan tangan bagian kiri menghadap bawah. Simbol ini merupakan simbol 'As Above So Below' dalam ajaran Kabbalah yang bermakna 'apa yang terjadi di luar diri adalah cerminan dari dalam diri' atau berbicara mengenai diri manusia sebagai mikro-kosmos dan alam semesta sebagai makro-kosmos. Simbol tangan ini juga sebenarnya sering kita lihat pada deskripsi Yesus. Lagi-lagi mereka menggunakan simbol ini untuk propaganda agar banyak orang takut pada simbol tersebut.

Lalu dari semua simbol, yang paling ditakuti oleh banyak orang saat ini yang ketika melihatnya dianggap sebagai pengikut setan adalah simbol Mata Satu diatas Piramida atau simbol All-Seeing Eye (Mata Yang Selalu Melihat) yang sering digunakan di setiap kesempatan sebagai simbol kejahatan, bahkan dalam kisah The Lord Of The Rings untuk menggambarkan Sauron. Para Elite paling suka menggunakan simbol All-Seeing Eye karena pada dasarnya mereka 'melihat kita', 'mereka melihat segalanya', sebab mereka yang 'menciptakan' sistem dunia saat ini. Baik itu sistem ekonomi, pendidikan, media, pemerintahan, dll.

Simbol All-Seeing Eye pada awalnya merupakan simbol kuno mata ketiga yang dikenal sebagai Cakra Ajna. Setiap manusia memiliki dua mata untuk melihat benda materi dan satu mata di dalam dahi atau di dalam Pineal Gland kita untuk melihat sesuatu yang sifatnya lebih halus, entah itu makhluk dari dimensi lain atau merasakan vibrasi. Saya lebih suka menyebutnya sebagai antena manusia yang berguna untuk menangkap getaran dari frekuensi energi disekitar kita yang melampaui penghakiman mata kita (karena mata biasanya menipu kita dengan keindahan, tetapi radar manusia mampu menangkap getaran frekuensi atau yang kita sebut aura dari benda lain). Jadi mata ketiga sangat berguna untuk keseimbangan kita agar kita tidak menilai berdasarkan ilusi penglihatan kita.

Sedangkan piramida merupakan simbol dari Elemen Api (yang sudah saya jelaskan di atas) atau dalam tataran lebih kompleks ia adalah Tetrahedron dalam Platonic Solids. Elemen Api adalah elemen pertama yang membentuk manusia. Contohnya, semangat dalam diri seseorang, proses oksidasi (pembakaran) di dalam darah, dan berkontribusi atas emosi yang 'menciptakan' perasaan suka-duka merupakan bagian dari bukti bahwa kita memiliki elemen Api di dalam diri.

Propaganda pada simbol Mata Satu dan Piramida ini berguna untuk 'menghancurkan' kepercayaan kita pada potensi yang kita miliki agar pada akhirnya kita rela untuk diperbudak oleh kelompok Elite, sekali lagi.

Kira-kira ada simbol lain yang kalian ketahui?



Referensi:

Buku
Makow, Henry. Illuminati: Dunia Dalam Genggaman Perkumpulan Setan.

Websites
https://dosenpintar.com/propaganda-adalah/
https://hi.umy.ac.id/pengetahuan-apa-itu-propaganda
https://id.wikipedia.org/wiki/Joseph_Goebbels
https://id.wikipedia.org/wiki/Swastika
https://id.wikipedia.org/wiki/Swastika
https://id.wikipedia.org/wiki/Arya
https://myvoice.opindia.com/2020/08/the-hoax-of-aryan-invasion-theory/
https://www.britannica.com/topic/Baphomet
https://en.wikipedia.org/wiki/Baphomet
https://www.britannica.com/science/Platonic-solid#:~:text=Platonic%20solid%2C%20any%20of%20the,octahedron%2C%20dodecahedron%2C%20and%20icosahedron.
https://thewordcounter.com/meaning-of-as-above-so-below/#:~:text=As%20above%2C%20so%20below.,-He%20will%20get&text=As%20above%2C%20so%20below%20can,Hermeticism%20and%20the%20Emerald%20Tablet.


Komentar

Postingan Populer