Tuhan Singa-Waktu dan 7 Hari Menyembah Dewa-Dewi

Kiri-Kanan: Zurvan, Spinx, Pillars of Ashoka


Adakah yang menyadari bahwa pada dasarnya kita menyembah atribut Dewa-Dewi setiap hari? Mungkin sangat langka menemukan orang yang menyadari hal tersebut, tetapi di tulisan kali ini saya ingin membagikan 'rahasia' pemujaan kita pada sosok Dewa-Dewi kuno sejak ribuan tahun silam.

Tradisi pemujaan manusia terhadap sosok Adi-Kuasa telah berlangsung begitu lama. Di dalam literatur kosmologi kuno India yaitu Bhagavad Purana dijelaskan bahwa tradisi tersebut sudah berlangsung sejak Tetra Yuga. Mungkin sama dengan istilah Zaman Perak yang disebutkan dalam tradisi Yunani saat Zeus mulai menciptakan manusia.

Baca: Gerakan New Age Memodifikasi Ajaran Veda Atau Buddha?

Tuhan Adalah Waktu

Jauh sebelum kita mengagungkan para Dewa-Dewi yang bercahaya sebagai penolong umat manusia, tradisi kuno mendefinisikan Tuhan adalah sosok kesatuan dari keseluruhan Dewa-Dewi sebagai Waktu. Bukti sejarah bisa dilihat mengenai kisah Kronos atau ayah dari Zeus, Shiva yang sering disebut sebagai Kala atau Waktu, atau Zurvan dalam mitologi Persia kuno dan banyak lagi kisah-kisah yang menghubungkan Tuhan dengan waktu.

Anggapan Waktu sebagai Tuhan lahir akibat kesadaran manusia pada kondisi yang tidak bisa dijelaskan, tidak bisa dilihat, tetapi ada di dalam Ruang. Kita bisa membedakan Waktu jika ia tinggal di dalam Ruang maka kita menyebutnya Masa Lalu, Masa Kini, Masa Depan; atau Kemarin, Sekarang, Besok. Tanpa Ruang, Waktu tidak mungkin eksis tetapi di saat yang sama Waktu memunculkan Ruang yang kita sebut sebagai Utara, Selatan, Barat, Timur.

Tanpa adanya Ruang, Waktu adalah sebuah kondisi tak terukur yang bergerak di semesta. Tidak terikat kelahiran atau kematian. Tanpa batas. 

Hubungan kompleks antara Waktu dan Ruang yaitu: Waktu menciptakan Ruang, tetapi disaat yang sama Ruang mengkondisikan lahirnya Waktu yang kita kenal saat ini. Tradisi kuno manusia menyebut konsep ini bahwasannya Waktu adalah sesuatu yang abadi dan tidak bisa terjamah oleh apapun juga. Hanya Ruang yang membuatnya jadi bisa dilihat maka dari itu mereka membuat atribut atau sosok yang bisa dilihat secara kasat mata dalam dunia fisik atau 3 dimensi.

Kepala Singa Adalah Simbol Tuhan-Waktu

Pernahkah kalian melihat berbagai simbol singa di banyak kebudayaan kuno. Sebut saja Spinx di Mesir, Lord Narasimha di India, Pilar Raja Ashoka di India, Singa Yehuda di Israel, Merlion di Singapura atau mungkin sadarkah ada banyak tarian singa di berbagai tradisi. Di Indonesia sendiri ada arak-arakan menunggang sisingaan. Apa maknanya? Adakah yang pernah bertanya?

Matias de Stefano menyebut bahwa ini adalah tanda masuknya astrologi Leo dan dimulainya peradaban manusia pasca perang nuklir Atlantis. Namun, para ahli kitab Purana India justru menjelaskan kisah ini jauh lebih tua. Tradisi suci dari seluruh dunia yang berusia ribuan tahun menegaskan bahwa umat manusia purba menyembah Tuhan Yang Maha Esa dalam Wahyu terkait hakikat-Nya sebagai Waktu Berkepala Singa dengan Ruang dari Ular (Sarpa) sebagai Keabadian Tak Berakhir.

Auman Singa juga banyak disebut dalam literatur Buddhis. Sebut saja Udumbarika-Sihanada Sutta dalam Digha Nikaya, Mahasihanada Sutta dalam Majjhima Nikaya, dan Sampasadaniya Sutta dari Digha Nikaya. Tidak ada satupun dari Sutta-Sutta tersebut yang menyebutkan hubungan antara singa secara fisik dengan Buddha. Melainkan singa merupakan perumpamaan dari keberanian yang penuh ketenangan, keyakinan, dan ketegasan dalam memegang kebenaran sejati. Dalam 32 tanda-tanda Manusia Besar (Bijaksana) atau Calon Buddha juga disebutkan kalau salah satunya adalah memiliki dada yang seperti singa.

Pilar Singa Raja Ashoka

Raja Ashoka dari kerajaan Maurya yang terkenal bengis berubah drastis setelah mengenal ajaran Dhamma, memiliki simbol dalam masa pemerintahannya yaitu Singa dengan 4 kepala yang menghadap masing-masing arah angin yaitu Utara, Selatan, Barat dan Timur. Dimana salah satu sisi kepala singa itu tidak terlihat, jadi bagi pengamat yang ada di depan ia hanya akan melihat singa dengan 3 kepala saja.

Menurut saya ini merupakan representasi dari Waktu-Ruang yang hanya eksis di dalam dunia 3 dimensi atau dunia fisik. Waktu melahirkan Ruang, Ruang mengkondisikan adanya Waktu. Gabungan Waktu-Ruang baru bisa dianggap eksis atau ADA saat masuk ke dunia fisik atau 3 dimensi.

Kalau analisa saya ini benar, maka sungguh sempurna deskripsi Raja Ashoka dalam menjelaskan Waktu-Ruang!

Suara Pertama AUM

Singa selalu disebut-sebut di dalam banyak kebudayaan kuno. Padahal hewan singa tidak hidup di dalam hutan India tetapi di padang rumput sabana Afrika. Namun, mengapa kebudayaan tertua di dunia yang kita tahu berasal dari India selalu menyebut Singa? Dan kenapa singa dikaitkan dengan waktu?

Mungkin jawabannya bisa kita lirik di dalam salah satu tayangan Youtube Matias de Stefano yang menjelaskan suara pertama semesta saat Mahas atau Brahma di dalam kebudayaan India kuno 'terbangun' dan menyadari dirinya ADA. Kesadaran Brahma ini mengakibatkan terlahirnya getaran yang bergerak.

Di dalam sains sesuatu akan bergerak jika ia punya kontra atau lawan yang menciptakan tarik-menarik. Ini yang kita namakan sebagai Hukum Polaritas atau positif-negatif atau dualisme atau sesuatu yang satu tetapi memiliki dua sifat seperti Dewa Janus dengan dua wajah, Shiva dan Vishnu yang merupakan kesatuan dari Brahma.

Akibat dari gesekan dua arus yang berbeda ini menciptakan suara. Getaran menghasilkan suara. Suara ini yang kita kenal sebagai AUM atau bisa teman-teman lihat video penjelasan Matias mengenai struktur huruf kuno Atlantis yang dimana kalau disuarakan keseluruhannya menjadi AUM. Suara AUM atau OM dalam kebudayaan India sangat erat kaitannya dengan ketuhanan.

Saya rasa akibat dari suara pertama Brahma atau getaran lahirnya semesta inilah kita membuat atribut Auman Singa untuk menjelaskan sebuah Ajaran Kebenaran atau Ketuhanan. Auman Singa ini kemudian berkembang menjadi atribut Dewa dalam dunia 3 dimensi atau dunia fisik. Selain itu AUM juga menjelaskan Waktu yang abadi karena Brahma bagi ajaran kuno India adalah abadi, tak terukur, dan tanpa batas ibarat kekosongan.

7 Planet Sebagai Hari Dalam Seminggu

Sekarang kita beralih kepada hubungannya dengan tradisi menyembah Dewa-Dewi yang faktanya masih berlangsung hingga hari ini.

Kita semua tahu bahwa jumlah hari dalam seminggu adalah 7 tetapi tahukah kalian darimana asalnya perhitungan ini? Sejak kapan kita menggunakan waktu selama 7 hari untuk mengukur kehidupan sehari-hari manusia? Untuk mengetahui ini mari kita mundur ke budaya kuno lagi. Di semua ilmu astronomi kuno menjelaskan bahwa Bumi dikelilingi oleh 7 planet. Mereka adalah Matahari, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Sedangkan Uranus, Neptunus, Pluto atau planet lainnya baru ditemukan oleh ilmuwan setelah Periode Sejarah Klasik.

Baca: Periode Waktu, Animisme, dan Dinamisme

Keyakinan ini lahir karena konsep kuno melihat Bumi sebagai pusat dari sistem semesta. Buat kaum Teori Bumi Bulat atau Heliosentris, maaf! Meskipun tidak menjelaskan bahwa Bumi adalah bidang datar tetapi ilmuwan kuno menyadari bahwa Bumi bukanlah seperti gambaran yang kita lihat saat ini. Untuk lebih detailnya mungkin saya akan membuat tulisan tentang ini secara terperinci. Sebab saya masih kekurangan referensi dalam memecahkan polemik Bumi Datar atau Bulat ini.

Kala: Dua Wajah Waktu dan Kematian

7 benda langit yang berputar mengelilingi Bumi atau pusat energi ini sering diasosiasikan sebagai Dewa-Dewi dalam banyak kisah mitologi. Sebut saja Kronos yang merupakan lambang Saturnus. Alasannya adalah Saturnus merupakan benda langit terjauh dalam keluarga Ibu Bumi. Ia merupakan simbol dari kematian yang mengalahkan waktu.

Hal ini jelas terlihat dalam budaya Yunani yang menyebutkan bahwa Kronos atau waktu itu sendiri yang merupakan ayah para dewa memakan semua anaknya agar tidak mati. Ini mengartikan hanya kematian yang bisa mengalahkan waktu.

Analogi serupa datang dari kisah kekalahan Narasimha, yang merupakan simbol Vishnu (Waktu/Pemeliharaan) oleh Sharabha yang merupakan simbol dari Shiva (Kematian). Keduanya diasosiasikan sebagai Kala atau dua wajah dari Waktu dan Kematian. Waktu yang tak terbatas, tak terukur ini hanya bisa selesai dengan Kematian Semesta. Maka dari itu Trimurti dalam konsep India kuno menjelaskan bahwa Vishnu dan Shiva adalah satu kesatuan di dalam tubuh kosmik Brahma.

Waktu dan Kematian adalah dua hal yang tidak terpisahkan tetapi konseptual ini tidak mudah untuk dipahami oleh kebanyakan manusia, maka kebudayaan kuno mengembangkan pemahaman selanjutnya melalui atribut Dewa-Dewi yang berguna untuk menyampaikan makna dari siklus kehidupan yang tidak pernah usai ini melalui cara lain yang lebih mudah dipahami, yaitu melalui bentuk pemujaan setiap hari.

Pemujaan Pada Dewa-Dewi

Posisi planet-planet menjelaskan makna mendalam dalam kehidupan manusia, maka kemudian kebudayaan kuno membuat susunan hari dalam seminggu diawali hari Minggu dan diakhiri hari Sabtu.

Hari Minggu diberikan untuk Matahari atau kelahiran dari semua bintang, lambang elemen api elemen pertama semesta yang membakar keinginan makhluk untuk hidup. Berhubungan dengan alasan kita lahir karena ada keinginan yang membara ibarat api.

Hari Senin diberikan untuk Bulan yang misterinya tenang dalam diam saat semua makhluk beristirahat. Ketenangan bulan yang mampu membuat pasang-surut air laut berhubungan dengan elemen air. Bulan yang tenang tetapi sangat berkuasa menjaga kestabilan Bumi adalah contoh untuk manusia. Tetap tenang walau punya kuasa.

Hari Selasa diberikan untuk Mars yang gairahnya menggebu-gebu seperti halnya mitologi kuno yang menyebutnya sebagai Dewa Perang. Mars merupakan lambang energi maskulin atau keinginan untuk memimpin dalam kehidupan.

Hari Rabu diberikan untuk Merkurius yang merupakan planet terdekat matahari yang merupakan lambang Dewa Komunikasi. Dalam banyak kisah, kelahiran Matahari atau orang bijak disiarkan oleh seluruh penjuru alam.

Hari Kamis diberikan kepada Jupiter atau sang raja dewa, ayah dari banyak kebudayaan kuno. Asal katanya dari Dyeu-Pater, Dyeu artinya cahaya dan Pater atau Pattern adalah penunjuk. Pattern diasosiasikan sebagai Papa atau Father yang artinya penunjuk arah kehidupan keluarga. Maka Dyeu-Pater atau Jupiter adalah Bapak Cahaya yang menunjukan jalan bagi anak-anaknya. Dilambangkan melalui Zeus, Odin, atau dewa lainnya dalam mitologi kuno.

Hari Jumat diberikan untuk Venus yang merupakan dualitas dari maskulin yaitu energi feminin. Kelembutan dan pesona Venus banyak digambarkan dalam kisah mitologi kuno. Venus adalah penyeimbang Mars.

dan terakhir...

Hari Sabtu diberikan kepada Saturnus yang merupakan simbol dualitas atau Kala dari Waktu dan Kematian dimana satu-satunya yang bisa mengalahkan Waktu adalah Kematian dan tanpa Kematian Waktu tak akan pernah berjalan. Hari Sabtu dijadikan akhir dari perjalanan seseorang dan sudah seharusnya mereka beristirahat dalam perjalanan panjang siklus kehidupan. Hal ini yang menjadikan hari Sabtu sebagai hari libur di banyak kebudayaan kuno, bukan hari Minggu.

Nama Hari Versi Mitologi Skandinavia

Terlepas dari maknanya yang sudah dipahami oleh kebudayaan kuno, seringkali Ajaran Kuno menyisipkan pesan atau doktrin moral ke dalam sistem baru selanjutnya dengan cara yang berbeda. Meskipun generasi baru tidak mampu menerjemahkan makna yang terdapat di dalamnya, para pemegang Ajaran Kuno tetap berusaha mempertahankan nilai di dalam ajaran tersebut. Walau kita semua tahu, tidak semua para pemegang Ajaran Kuno adalah orang-orang idealis yang mementingkan kemanusiaan. Sistem nama-nama hari yang kita gunakan berasal dari bahasa Inggris. Bahasa Inggris sendiri berakar dari bahasa Indo-Eropa.

Bahasa Inggris membuat nama-nama hari tersebut menyesuaikan tradisi dari mitologi Skandinavia atau Nordik mengikuti persembahan kepada Dewa-Dewi milik mereka.

Minggu - Sunday - Hari Matahari
Senin - Monday - Hari Bulan
Selasa - Tuesday - Hari Tyr atau Tiw
Rabu - Wednesday - Hari Wodin atau Odin
Kamis - Thursday - Hari Thor
Jumat - Friday - Hari Freya atau Frigga
Sabtu - Saturday - Hari Saturnus

Bagaimana? Sudahkah kalian menyembah Dewa-Dewi hari ini? :P



Referensi:

https://soolaba.wordpress.com/god-as-time-in-the-ancient-world/
https://legacy.suttacentral.net/id/ma24
https://dhammacitta.org/teks/dn/dn25-id-walshe.html
http://mahayanaindonesia.blogspot.com/2017/08/mn12-id.html?m=1
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/sampasadaniya-sutta/
https://youtu.be/mIc7yeCi8V4
https://www.yogapedia.com/definition/5575/kala
https://yosoy.red/2021/02/28/jupiter/
https://yogimehtab.com/astrology-yoga-newsletter-november-2020-if-its-tuesday-it-must-be-mars/

Komentar

Postingan Populer