Teori Evolusi Modern, Ufo dan Alien

Teori Evolusi, UFO dan Alien


Membaca-baca informasi tentang Ajaran Kuno, dalam hal ini adalah Purana dan Sutta, membuat saya semakin yakin bahwa pendidikan modern telah mengalami penurunan atau degradasi ilmu pengetahuan yang sangat parah. Mungkin banyak dari kalian yang tidak setuju dengan pernyataan saya karena melihat berbagai proyek ruang angkasa, kemajuan di bidang medis atau temuan ilmuwan modern mengenai kerangka-kerangka 'manusia primitif' yang kemudian dianggap sebagai nenek moyang kita.

Tapi, saya yang sudah lulus S2 dengan beasiswa di Turki ini, menjamin bahwa pendidikan tinggi saya tidak mampu menjawab segala pertanyaan-pertanyaan rumit yang ada di kepala saya, terutama untuk urusan kosmologi semesta. Bukan karena sedang menyombongkan pendidikan akhir yang saya miliki, namun nyatanya saya ingin mengatakan kepada siapapun yang membaca ini bahwa semakin tinggi pendidikan anda, seharusnya semakin dalam yang anda renungkan dan pertanyakan tentang eksistensi segala hal.

Benarkah gelar tinggi pendidikan saya memiliki kualitas sesungguhnya dalam memecahkan rahasia semesta? Nyatanya dalam kebanyakan kasus, kita memiliki gelar pendidikan tinggi hanya untuk menaikan harga tenaga kasar kita untuk orang lain, bukan untuk meluaskan paradigma kita di dalam menerjemahkan bahasa alam semesta.

Lingkaran Propaganda Sains Modern

Kemerosotan pendidikan manusia di era modern membuat saya mencari-cari 'missing link' penyebab awal kita menjadi sekumpulan masyarakat yang terombang-ambing lautan informasi tetapi tak mampu mencerap secara utuh esensi atau hakikat kehidupan. Semua diawali oleh Abad Pencerahan yang justru menjadi penyebab kemanusiaan memasuki masa kegelapan dan buta kebenaran.

Baca: Abad Pencerahan: Zaman Pemisah Spiritualitas Dan Sains

Namun, dari begitu banyak propaganda yang dibangun untuk membentuk masyarakat modern saat ini, puncak pembodohan terjadi saat lahirnya Teori Evolusi Charles Darwin. Kita semua di cuci otak dengan anggapan bahwa kita awalnya adalah sekumpulan monyet yang kemudian berkembang secara perlahan menjadi manusia. Pencucian otak ini dikukuhkan dengan kalimat missing link yang diutarakan oleh banyak ilmuwan modern yang menyatakan bahwa ada satu masa dimana garis evolusi itu terhenti dan mendadak kita bisa menjadi Homo Sapiens Sapiens. Ruang kosong inilah yang kemudian di isi oleh konsep baru yaitu hadirnya Alien yang diyakini ikut campur dalam evolusi manusia.

Propaganda hadirnya Alien di tengah-tengah kehidupan manusia kemudian di dukung oleh proyek ke Bulan, kedatangan makhluk ruang angkasa yang terbukti dari pesawat terbang berupa piring datar di banyak wilayah, penculikan manusia oleh makhluk lain, dsb. Anggapan bahwa ras monyet primitif yang kemudian 'dibantu' berevolusi dan menjadi manusia inilah yang kemudian diyakini sebagai jawaban dari Teori Evolusi Charles Darwin.

Untuk menjawab kesesatan ini, ada baiknya kita kembali ke awal mula atau ajaran tertua dalam sejarah peradaban manusia saat ini. Ajaran tersebut adalah Veda yang menyebar di lembah sungai Indus dan juga Buddha yang merupakan ajaran Veda yang telah di reformasi oleh penemunya yaitu Buddha. Lebih jelasnya bisa kalian baca tulisan saya sebelumnya.

Baca: Gerakan New Age Memodifikasi Ajaran Veda Atau Buddha?

Di dalam Rigveda dan Bhagavad Purana dijelaskan bahwa kehidupan manusia saat ini berada di Kali Yuga atau Zaman Besi. Artinya kita semua sedang mengalami kemunduran moral dan pengetahuan, tidak seperti penjelasan para ilmuwan modern yang menyebut kita sedang berada di puncak pengetahuan. Sebelum Kali Yuga terjadi, zaman manusia telah memasuki masa Satya Yuga atau Zaman Keemasan, Tetra Yuga atau Zaman Perak, Dvapara Yuga atau Zaman Perunggu. Dimana dari semua zaman-zaman tersebut, manusia memiliki pengetahuan dan teknologi yang sangat amat maju jika dibandingkan dengan saat ini.

Hal ini di dukung oleh pernyataan Buddha dalam Digha Nikaya yaitu Sutta Brahmajala, Agganna, dan Cakkavattisihanada yang menyebut bahwa setelah hidup dalam waktu yang sangat lama di sebuah alam bernama Abhassara, makhluk-makhluk kemudian lahir. Awalnya mereka tidak berupa apapun selain cahaya. Kemudian karena kebodohan batin, keserakahan dan kebencian membuat mereka memiliki bentuk-bentuk. Setelah makhluk-makhluk memiliki bentuk dalam waktu yang sangat lama muncul peradaban manusia dari Zaman Emas ke Zaman Besi dan Fase Turun ke Fase Naik.

Siklus Zaman Versi Veda dan Teori Evolusi Darwin

Fase Turun artinya saat usia manusia secara perlahan-lahan dari 100.000 tahun turun menjadi 10 tahun. Kemudian akan memasuki Fase Kritis dan usia manusia akan perlahan-lahan Naik kembali dari 10 tahun hingga 100.000 tahun. Dari Zaman Emas ke Besi lalu ke Emas lagi. Begitu terus ibarat lingkaran tak berujung. Semakin zaman itu maju maka semakin maju pula pengetahuannya. Artinya pengetahuan di Zaman Emas lebih unggul daripada di Zaman Perak, di Zaman Perak lebih unggul daripada di Zaman Perunggu, di Zaman Perunggu lebih unggul daripada di Zaman Besi.

Konsep ini tentu sejalan dengan banyak agama pagan dan agama langit mengenai ruh ilahi atau semacamnya. Meski agama-agama modern tidak menjelaskan secara nyata tentang kemajuan teknologi di masa silam, ajaran-ajaran tersebut mengakui pengetahuan yang dimiliki para pendahulu mereka sangatlah maju.

Dari uraian diatas, baik Purana ataupun Sutta sama-sama mengakui adanya proses evolusi manusia seperti halnya pengetahuan modern kita. Perbedaannya adalah Teori Darwin menyebut bahwa perkembangan evolusi manusia diawali dari makhluk primitif ke intelegen atau peradaban terbelakang ke peradaban maju seperti satu garis linear. Sedangkan dalam evolusi Ajaran Kuno disebutkan memiliki pola lingkaran tanpa awal-akhir.

UFO dan Alien

Ada satu hal lagi yang menggelikan dari semangat pengetahuan modern saat ini. Selain propaganda nenek moyang kita adalah moyet, kalau Bumi kita di invasi oleh makhluk asing atau anggapan makhluk asing melihat kita sebagai primata di laboratorium penelitian mereka adalah gagasan yang sangat menyedihkan.

Jika kita melihat teks-teks Ajaran Kuno telah disebutkan bahwa alat transportasi UFO kuno yang bernama Vimana ini adalah hal yang biasa. Pesawat terbang tersebut bisa berupa kereta kencana, benda serupa candi atau piring terbang. Buddha sendiri di dalam Mahasamaya Sutta di dalam Digha Nikaya menyebutkan bahwa dirinya kedatangan tamu makhluk-makhluk dari seluruh penjuru dengan kereta atau kendaraan lain mereka. Teks-teks kuno tersebut mengaitkan kendaraan yang kita sebut sebagai UFO saat ini dengan makhluk yang kita sebut sebagai Alien sebenarnya merupakan makhluk-makhluk dari dimensi lain.

Vimana

Agama modern mungkin menyebut mereka sebagai Malaikat, Jin, Roh Halus, atau Setan. Tetapi, di dalam Purana atau Sutta lebih kompleks karena dijelaskan ada begitu banyak makhluk-makhluk yang hidup bersama dengan manusia di alam semesta ini. Mereka misalnya Deva, Asura, Yakkha, Gandhabba, Naga, Brahma, Peta, dsb. Makhluk-makhluk tersebut tentu ada yang baik dan jahat. Mereka ada yang tinggal di Bumi, planet lain atau bahkan dari galaksi lain. Mereka hidup selayaknya manusia menjalankan kehidupan dan sejak dulu kita semua hidup berdampingan dengan mereka.

Jika kita ingin mengunjungi tempat mereka, maka caranya kita harus menciptakan teknologi secanggih Vimana, bukan roket seperti wortel. Selain itu apabila kita ingin berkomunikasi dengan mereka adalah dengan meditasi sebab makhluk-makhluk tersebut tinggal di materi yang lebih halus atau yang kita kenal sebagai dimensi 4 dan seterusnya, sedangkan manusia tinggal di dimensi 3. Bagaimana mungkin kita bisa menggapai sesuatu yang lebih halus jika kita masih menggunakan badan kasar kita? Tentu saja hanya melalui kendaraan pikiran untuk menggapai mereka.



Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Missing_link_(human_evolution)
https://www.encyclopedia.com/environment/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/cosmology-buddhist-cosmology
https://web.ccsu.edu/astronomy/tibetan_cosmological_models.htm
https://www.samyeling.org/buddhism-and-meditation/teaching-archive-2/dharmacharya-ken-holmes/buddhist-cosmology/
https://webspace.ship.edu/cgboer/buddhacosmo.html
https://webspace.ship.edu/cgboer/buddhacosmo.html

Komentar

Postingan Populer