Bumi Interdimensional

Peta Bumi Datar dan Peta Bumi Bulat


Selama ini kita berpikir bahwa ini adalah Bumi. Bumi disebut sebagai salah satu planet di dalam Tata Surya kita. Wajar saja kalau kita percaya karena sejak lahir dan saat masuk sekolah, kita dijejali informasi demikian. 


Sebenarnya perdebatan tentang bentuk Bumi bukan hanya terjadi sekarang melainkan sudah ribuan tahun silam. Di era filsuf Yunani kuno, teori Bumi Bulat pertama kali dikemukakan oleh Pythagoras. Ia juga meyakini Bumi Bulat bersama dengan planet-planet lainnya mengelilingi Matahari. Matahari adalah pusat Tata Surya atau yang biasa dikenal dengan konsep Heliosentris.


Sedangkan teori Bumi Datar sudah jauh lebih dulu ada. Di beberapa tradisi kuno sebut saja di Skandinavia, Mesir, Babilonia, China, India, Mesoamerika, dan berbagai budaya kuno lainnya memiliki deskripsi tentang Bumi Datar. Sementara seorang filsuf Yunani kuno yaitu Anaximander atau Anaximandros diyakini adalah orang pertama yang membuat peta Bumi Datar. Ia juga membuat prinsip To Apeiron yaitu prinsip tentang asal segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta sebagai unsur-unsur yang berlawanan (panas dan dingin, kering dan basah, gelap dan terang) atau secara sederhana prinsip tentang kondisi dualitas. Karena prinsip inilah kemudian lahir konsep Geosentris atau Bumi sebagai pusat dari tatanan semesta.


Melihat fakta sejarah, enggak heran kalau manusia memang sudah lama meributkan bentuk bumi. Jadi keributan ini bukan karena kita bodoh atau ketinggalan teknologi, melainkan perdebatan tiada akhir ini adalah bukti nyata tidak ada satupun manusia yang benar-benar tahu bentuk bumi.


Lho kenapa gitu? Ya karena kalau masih meributkan bentuknya artinya karena kita masih terus mencari tahu. Sedangkan pertanyaan selanjutnya bagaimana kalau ternyata Bumi bukan Bulat atau Datar melainkan Ruang Interdimensional???


Di dalam KBBI kata Bumi berasal dari kosakata Sanskerta yaitu Bhumi yang artinya Tanah. Lebih jauh lagi, Bhumi juga diartikan sebagai tingkat dari realitas, ruang, atau tempat tinggal makhluk. Kalau melihat definisi akar katanya, bisa kita asumsikan bahwa Bumi yang kita anggap sebagai planet merupakan tanah, ruang, tempat atau sebuah realitas makhluk manusia. Dan pertanyaan selanjutnya bagaimana kalau ternyata bukan hanya ada Bhumi Manusia?


Di dalam Abhidhamma ada istilah Bhumibedacitta atau yang bisa diterjemahkan kesadaran berdasarkan tingkatannya. Artinya apa? Suatu ruang, tempat, atau realitas dihasilkan berdasarkan tingkat kualitas dari kesadaran makhluk. Ini artinya energi kolektif makhluk yang setara kualitas batinnya bisa memunculkan suatu realitas. Bhumi dalam pengertian lebih jauh bisa diasumsikan sebagai Alam Dimensi Kehidupan.


Ajaran Buddha menyebut dalam 1 Alam Semesta ada 31 Alam Kehidupan atau Bhumi yang terbagi menjadi 11 Kamma Bhumi yang termasuk di dalamnya Surga Bhumi dan Neraka Bhumi serta Manusia Bhumi. Ada juga alam yang lebih tinggi yaitu 16 Rupa Bhumi dan 4 Arupa Bhumi. 31 Alam Kehidupan ini ditunjang oleh Gunung Sineru atau Gunung Meru sebagai pusatnya. Jadi dalam 1 Alam Semesta terdapat 1 Gunung Sineru dan 31 Alam Kehidupan. Sedangkan Alam Semesta sendiri disebut tidak terbatas atau tidak terhingga maka bisa dibayangkan kalau makhluk-makhluk sudah tidak mungkin lagi bisa kita hitung saking banyaknya. 


Kenapa bentuk menjadi tidak penting? Karena semua hal yang bermateri termasuk tubuh kita, gunung, pohon bahkan alam semesta dan semua hal yang bisa kita amati dengan 5 indria adalah hasil projeksi dari batin kita. Makhluk Manusia bukan hanya memiliki Jasmani atau Rupa, melainkan juga memiliki Faktor Mental dan Kesadaran. Faktor Mental dan Kesadaran keduanya bergabung disebut Batin. Jadi apa yang kalian lihat sebagai satu individu manusia sebenarnya terdiri dari Jasmani dan Batin.


Kembali ke Bhumi. Bhumi berdasarkan definisi yang sudah kita bahas, bukan hanya suatu ruang yang eksis di dunia materi, melainkan hasil projeksi secara kolektif dari batin setiap manusia. Jadi jika disebut Interdimensional maka inter artinya berhubungan dan dimensi artinya ruang, interdimensional berarti ruang yang saling berhubungan. Misalnya 11 Kamma Bhumi sebenarnya saling berhubungan secara tata letak namun karena mata fisik kita tidak bisa melihatnya maka kelihatannya mereka tidak ada.


Dibutuhkan pengetahuan yang lebih maju untuk melihat eksistensi alam dimensi lain. Bukan dengan roket atau benda fisik lainnya. Karena seperti yang tadi sudah disebutkan bahwa ruang adalah projeksi dari batin makhluk maka satu-satunya cara berkunjung ke dimensi tersebut adalah dengan pengetahuan batin atau yang biasa disebut dengan Abhinna. Kenapa demikian? Karena kita memiliki jasmani yang terikat dengan masa waktu di Bhumi Manusia. Sedangkan bhumi di dimensi lainnya memiliki masa waktu yang berbeda tergantung kualitas kolektif batin di ruang atau Bhumi tersebut.


Misal kita ambil contoh rata-rata usia manusia 50 tahun, sedangkan di alam Surga tingkat paling rendah, 1 hari setara dengan 50 tahun usia manusia. Jadi 10 hari di alam Surga tingkat paling rendah setara dengan 500 tahun alam manusia. Karena perbedaan masa waktu inilah sangat mustahil untuk pergi ke realitas atau ruang selain Bhumi Manusia, kecuali dengan pengetahuan batin atau Abhinna. Karena pengetahuan batin ini bisa mengkonversi waktu menjadi setara sesuai persepsi makhluk atau individu yang menggunakan pengetahuan batin atau Abhinna tersebut. Kalau misal masih pusing silahkan pelajari Fisika Kuantum mengenai Waktu dan Ruang.


Melihat pengertian tersebut artinya sangat mustahil manusia bisa ke bulan atau mars dengan roket. Karena roket itu benda fisik. Kecuali roketnya sudah diintegrasikan dengan pengetahuan batin ya seperti yang mungkin pernah terjadi di masa silam. Banyak peninggalan nenek moyang kita yang diluar nalar manusia era sekarang karena bisa saja nenek moyang kita sebenarnya jauh lebih maju ketimbang kita.


Jadi apakah bumi itu bulat atau datar? Bukan keduanya jika kalian melihat keseluruhan Jasmani dan juga Batin. Bhumi bisa kita simpulkan adalah ruang antar dimensi atau interdimensional yang bentuknya tidak begitu penting sebenarnya karena semua tergantung darimana kita memandangnya. Bhumi atau Tanah menjadi datar jika kita injak, lalu menjadi bulat jika kita melakukan perhitungan 3 dimensi. Bentuk Bumi bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan terus menerus menghabiskan energi kita, karena pada dasarnya gambaran bentuk bumi hanya digunakan untuk memudahkan manusia dalam mengukur kondisi lainnya seperti jarak, pembagian musim, fenomena alam, dsb.


Salam Bumi Interdimensional. Salam Pikiranologi.


-Pikiranologi-

Komentar

Postingan Populer